Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ▼  2013 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • BOB ARNO
  • ►  2012 (12)
    • ►  Desember (12)

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Rabu, 02 Januari 2013
In: Hukum

BOB ARNO


11.    Asyik aja coy!
Namanya Bob Arno. Profesinya sebagai pengacara. Dulunya ia sempat mengenayam pendidikan master di Utrech-Belanda. Setelah kembali ke Indonesia ia memilih hidup di perkampungan kecil di Jakarta dan hidup seadanya.
Hidup pada sebuah kantor lawyer yang tidak begitu ternama, ia pun mencoba mengajukan diri sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi yang tidak terkenal sama sekali. Hanya untuk mengaplikasikan ilmunya sebagai master hukum dan sedikit niatan untuk menambah saku harian.
Sebenarnya beberapa firma kantor pengacara besar sudah banyak mengincarnya sebagai rekan kerja atau patnernya kemudian menyulap kantornya yang sekarang menyatu dengan rumahnya dengan sebuah kantor megah mewah dan sebuah apartemen di kawasan elit dengan segala fasilitas orang-orang berduit.
Bukan Bob Arno namanya kalau menerima semua pemberian dengan tangan terbuka. Semua fasilitas yang menggiurkan itu ia TOLAK tanpa penyesalan. Ia memilih hidup sederhana, sedikit anti kemewahan, asalkan ia dapat bangun pagi, lari pagi, sarapan dengan nasi uduk sambel teri, secangkir kopi yang asapnya masih mengepul dan juga rokok kretek yang ia linting sendiri. Itulah indahnya hidup baginya.
Kopi yang membangunkan semangat perjuangan hidupnya, asap rokok yang menemaninya menyusuri ruang-ruang inspirasi tak tembus oleh zaman. Sedang nasi uduk dan sambel teri, tentu akan membuat perutnya yang lapar dapat segera terisi.
Meskipun hidup hanya dengan seadanya dan bekerja dengan prinsip ikhlas lilahi ta’ala, rupanya kantor pengacara yang ia dirikan atas namanya sendiri tanpa terasa telah dianugerahi 10 anak buah yang solid meskipun selama bekerja mereka tidak pernah digajih. Eits jangan salah, inilah uniknya pengacara kita. Meskipun pada dasarnya ia bersikap irit, tetapi ia tidak pernah bersikap pelit. Pegawai mereka semua sejahtera, bahkan office boynya kini nyaris beristeri dua karena saking makmurnya. Hahahaha.
Duit darimana itu ya?? Tenang saja, bukan hasil korupsi atau bukan hasil memenjara toko non pribumi. Kantornya tidak mau menerima kasus-kasus “kotor” atau sedikit agak abu-abu. Mereka hanya ingin mengurus kasus yang bersih, sebab mereka sangat takut bila mereka mati mereka harus menanggung dosa akibat pembelaan mereka yang cetar-cetar membabi buta.
Uang itu berasal dari kasus-kasus yang ada. Yang bayarannya seikhlasnya. Karena saking seikhlasnya, biasanya klien akan memasukkan uang ke dalam kotak sebagaimana orang-orang berta’ziyah kepada orang yang meninggal dunia.
Nah kotak itu nantinya akan dibuka. Dari tahun ke tahun kotak ajaib yang tidak pernah hilang atau dipindahkan. Kotak ajaib itu memiliki jumlah yang menakjubkan ketika dibuka setiap bulannya.
 Uang-uang itu akan dishare kepada semua anak buahnya yang bekerja secara professional. Termasuk dirinya. Bila ia merasa tidak bekerja, ia tidak akan mau menerima gajih meski hanya semangkok mie ayam.
Prinsipnya, namanya menolong orang harus ikhlas. Apalagi terhadap orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan hukum. Jangan pernah berfikir tentang imbalan. Imbalan itu dari Tuhan. Selama masih membela, belalah hak mereka agar hukum ini dapat berjalan sesuai dengan relnya. Agar tidak kualat nantinya.
Memang siapa sih yang akan member rejeki? Apakah klien? Tentu saja Tuhan. Mintalah keridoan pada Tuhan. Bila Tuhan sudah meridhoi atas usaha dan jerih payah kita, maka rejeki yang masih mengumpul di langit, akan segera turun. Rejeki yang masih ada di bumi, akan segera tumbuh. Rejeki yang masih terhalang, akan segera datang. Maka dari itu Tuhan memberikan kita peranan masing-masing dalam menjemput rejeki.
Ia menyadari bahwa profesinya sebagai pengacara akan mudah sekali terhasut oleh bujukan duniawi. Dengan iming-iming dunia terkadang seorang pengacara dengan segala macam alasan dan dasar hukum dibuat untuk membela mereka yang bersalah menjadi tidak bersalah. Tidak jarang mereka sengaja mencari celah dari hukum agar seminimal mungkin orang yang bersalah tidak dapat dihukum. Tentu fasilitas ini mudah sekali didapat bagi mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Mereka memang sangat hebat!
Kalau sudah begini jadinya, maka siapa dong yang akan membela mereka kaum yang lemah? Makanya sejak semula Bob tidak berniat untuk mencari harta di jalan ini. Ia hanya menginginkan hidup bahagia apapun kondisinya.
Ohya guys hari ini ia bangun kesiangan. Jadinya nasi uduk sambel terinya mpok Juju sudah kehabisan. Sungguh malang nasibnya. Tetapi begitu kembali dari warung nasi, ia melihat ada seorang yang sudah membuka lapak percis di depan kantor yang sekaligus menjadi rumah tinggalnya.
Aih-aih ternyata tukang mie ayam. Berani bener tukang mie ayam buka lapak di depan kantor pengacara. Tentu saja Bob Arno marah. Karena menghalangi papan praktiknya yang ada corat-coretan tulisan DUKUH yang ditulis pakai cat semprot berwarna ungu.
Meski ia tidak tahu apa artinya DUKUH, sang penulis mungkin berniat menyindir dirinya yang memang DUKUH. DUKUH itu artinya DUda KumUH. Hahaha ada-ada saja. Ya kalau kita kenal DUREN artinya adalah DUda keREN, sekarang ada DUKUH. Ungkapan itu tepat sekali bila ditujukan kepada Bob Arno bahwa ia adalah seorang DUKUH.
Beberapa tahun lalu ia memiliki isteri. Tetapi beberapa tahun juga, pada tengah malam di bulan Agustus isterinya minggat dengan mobil dan segala perhiasan yang ia punya. Padahal mobil itu dibeli  atas nama Bob Arno. Tentunya mobil itu adalah milik Bob.
Ia tidak marah saat mobil itu dibawa kabur oleh isterinya yang ketahuan selingkuh di depan matanya akibat yang tidak tahan dengan kehidupannya yang sedikit anti kemapanan itu. Padahal isterinya telah mengumbar cerita kemewahan yang menikah dengan seorang pengacara kaya, menyandang gelar master dari negeri Belanda. Tetapi aslinya justru ia tersiksa secara materi yang jarang tercukupi. Ehm maksudnya materi yang biasa untuk dipamerkan dan dilebih-lebihkan di depan orang.
Sebab apa Bob Arno tidak marah, bahkan ia ikhlas membiarkan isterinya pergi dengan mobilnya? Tentu ada sebabnya dong. Namanya juga pengacara. Bila sedikit haknya dizalimi oleh pihak lain, harusnya ia tidak segan mengambil kembali haknya secara hukum dan kalau perlu memenjarakan orang yang mengambil mobil itu meskipun pelaku pencurinya adalah isterinya. Lantas mengapa? Apakah ia terlalu cinta pada isterinya begitu?
Oh tentu tidak. Sebab status mobil itu adalah mobil kreditan yang belum ia bayar kurang dari separuh harga. Biar saja isterinya yang membayar atau barangkali sekarang mobil itu sudah disita oleh pihak leassing.
Lalu perhiasan emas yang dibawa kabur oleh isterinya adalah bukan perhiasan emas murni, melainkan emas imitasi.  Hahaha… kasihan bener tuh isteri. Bukan malah beruntung membawa lari sebagaian hartanya, eh malah ketimpuk sial yang berkepanjangan. Hah nasib-ya nasib.
Sebab apa ia membuat perhiasan emas imitasi itu? Sebab dia ingin menjebak isterinya. Ia sudah melihat gelagat buruk isterinya sejak awal. Pasti isterinya akan membawa perhiasan itu sebagai modal kehidupan selanjutnya. Ia tahu percis siapa selingkuhan isterinya itu?
Ya tentunya lelaki hidung belang yang menyangka mereka telah hidup dengan harta yang bergelimangan. Dan herannya lelaki hidung belang itu berlaku seolah-olah ia adalah orang yang paling kaya di dunia sehingga dapat membutakan mata hati isteri Bob dari cinta. Padahal Bob pun sudah mengerti kalau lelaki hidung belang itu pun menginginkan harta dari isterinya Bob yang suka pamer perhiasan.
Lengkap sudah penderitaan mantan isterinya yang suka selingkuh itu. Sekarang ia jatuh miskin. Tetapi untuk kembali kepada Bob, Bob sudah tidak sudi menerimanya sebagai perempuan yang layak dicintai dan disayangi.
Kembali lagi ke kisah tukang mie ayam pagi ini. Ia diusir di suruh pindah ke tempat yang menurutnya lebih baik yang tidak bertentangan dengan asas ketertiban umum. Masalahnya ia telah menutupi papan praktik yang sedikit banyaknya telah memberinya makan.
Kita tidak sedang bicara masalah demokrasi yang kebablasan. Tetapi juga masalah etika orang mencari makan.
“Saya tidak berkeberatan bila saudara membuka lapak di sini. Tetapi ini adalah sebuah kantor yang wajib terlihat papan namanya. Alangkah lebih baik saudara membuka lapak di sebelah sana atau sana.” Katanya sambil menunjuk tempat-tempat yang strategis.
“Maaf Pak, saya tidak tahu. Apakah papan ini masih berlaku atau tidak.”
“Gembus kowe! Jualan kok gak lihat-lihat. Sak enake udelmu!” Marahnya dengan tampang yang sangat lucu.
“Baik pak saya pindah.” Kata tukang mie ayam sambil mendorong gerobaknya dengan tergopoh-gopoh.
Lantas tukang mie meminta maaf dengan wujud semangkok mie ayam dan juga segelas es kelapa muda.
“Apa ini? Mau nyogok saya?” Katanya membentak sambil duduk dan membuka surat kabar yang ia beli di jalan.
“Bukan Pak, itu hanya sebagai salam perkenalan dari saya dan permintaan maaf saya barusan.” Kata tukang mie ayam agak ketakutan.
“Tapi situ ikhlas apa tidak? Kalau tidak ikhlas tidak usah coba-coba memberi. Ndak saya keselek trus mati akibat semangkuk mie.” Katanya sambil mengambil semangkuk mie ayam yang sudah disipakan.
“Ikhlas pak, ikhlas. Asal saya diperbolehkan buka lapak di sini.”
“Okeh kalau situ ikhlas, saya mau nambah. Pastinya enak toh? Kalau ndak enak, saya kembalikan. Percuma ikhlas tetapi tidak enak, tenggorokan saya tidak terima.” Katanya lagi sambil mengaduk-aduk mie ayam dan mulai memakannya.
“Untung mie ayam buatanmu enak. Kalau enggak enak, hariku semakin sial saja. Kehabisan nasi uduk teri, ndak bisa lari pagi.” Katanya sambil meminta semangkuk lagi untuk di bungkus.
“Tenang tambahannya saya bayar.” Lanjutnya lagi.
Dengan tenang ia menikmati semangkuk mie ayam yang enak itu. Sesekali ia menambah sambel dan menyeruput es kelapa. Sambil ia membaca Koran.
Ketika ia sedang menikmati suap demi suap mie ayam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang berwajah angkuh menanyakan kantor pengacaranya kepada tukang mie ayam.
“Pak kantor pengacara yang enggak jelas praktiknya apa masih buka?” Tanya orang itu kepada tukang mie ayam.
Tukang mie ayam mendelik. Ingin ia menjawab, tetapi rasanya tidak etis sebab ada pemilik yang barusan mencak-mencak. Bob Arno melirik lalu segera menjawab dengan santai, “Udah mau bangkrut kelihatannya. Ada kasus apa kok cari pengacara yang tidak jelas praktiknya?” Katanya santai sambil terus membaca Koran.
“Kasus saya ini loh. Kantor pengacara inikan tidak mutu. Karena tidak mutu, maka tidak laku. Karena tidak laku maka tidak dipungut bayaran.” Kata orang itu ceplas-ceplos.
“Oh gitu.” Katanya santai tanpa ekspresi. Padahal dalam hatinya mendidih.
 “Saudara itu kata siapa kok bisa tahu tidak laku?” Lanjut Bob lagi.
“Lah kata saya barusan. Apa situ tidak dengar? Lihat saja papan namanya itu sudah diorek-orek tulisan begitu. Penuh karat. Apa itu artinya laku?”
“Asem nih orang, minta bantuan kok gak pake sopan.” Pikirnya dalam hati.
“Lah memangnya saudara kena kasus apa kok sampe frustasi mencari pengacara yang tidak laku?”
“Kira-kira kantor pengacara ini bisa gak ya? Saya ini kan guru honorer. Sudah 10 tahun saya bekerja, kok enggak diangkat-angkat jadi guru tetap. Padahal rekan-rekan saya yang lain biasanya tahun kelima sudah diangkat jadi guru tetap dengan gajih menggiurkan. Mereka sudah enak sekarang. Ada gajih, status pegawai negeri. Mengajar tidak perlu sambil ngoyo gitu.” Kata orang itu dengan gaya yang sangat angkuh. Seolah ia adalah guru dan dihadapannya adalah pengangguran tak berdaya.
“Lah saudara sudah tanya kenapa anda tidak diangkat?”
“Ya biasalah, orang-orang pada sinis sama saya. Apalagi yang ngurusin administrasi dan pengangkatan PNS di sekolah saya, mereka itu sinis sekali. Kelihatannya terlalu diskriminasi terhadap saya. Padahal saya ini pinter, punya banyak ide. Memang agak angkuh. Biasalah orang pinter itu mesti angkuh, mesti sombong, biar karya-karyanya gak dibajak, gak dicuri orang. Apalagi anak gadis ketua yayasan yang naksir saya sempat saya tolak. Saya enggak berpikir kalau kemudian hari nasib saya akan jadi seperti ini. Masalahnya yang ngejar-ngejar saya banyak. Maklum saya ganteng.” Kata orang itu panjang lebar.
“Alah lebay! Sok laku.” Kata Bob dalam hati.
“Meskipun demikian, saya tetap akan mempertahankan hak saya.” Kata orang itu penuh percaya diri.
“Lah terus saudara yakin pengacara yang tidak mutu itu bisa membantu kasus saudara?”
“Yakin gak yakin pak. Soalnya kasus saya ini kasus ringan. Saya sudah mempertimbangkan masak-masak ngubek-ngubek pengacara di Jakarta ini tidak ada yang murah. Mereka meminta minimal 25 juta. Lah saya ini sedang pas-pasan masak diakalin kaya gitu. Gimana ini? Kebetulan pas saya melihat papan nama pengacara gak mutu ini sudah jelas tidak ada kasus yang bermutu. Palingan dikasih 500 ribu, pengacara itu menganggap itu rejeki. Lumayan buat beli rokok sama beli pulsa. Apalagi kalau pengacara itu mau diajak kongkalingkong dalam rangka untuk memeras ketua yayasan. Pengacara itu saya suruh buat somasi lalu mengancam ketua yayasan agar membayarkan gajih saya selama 5 tahun dengan kerugian materil dan immaterilnya. Kalau materil minimal 1 milyar, nah kalau yang immaterial bisa 5 milyar.
Wah bisa cepat kaya saya pak. Saya tinggal gunain pengacara bodoh itu, dan saya uncang-uncang kaki menerima harta hasil rampasan. Pasti pengacara itu saya kasih 1 juta akan senengnya bukan main.”
Bob Arno mengerutkan dahinya seperti orang linglung setelah mendengar petir gledek yang gak berenti-berenti. Seolah ingin bertanya dan mempertegas setiap kalimat yang diungkap dan begitu menyinggung perasaannya tetapi ia agak malas menanggapi orang bodoh ini.
“Jangan heran pak. Kerjanya pengacara memang begitu. Lah wong pengacara itu singkatannya Pengangguran Banyak Acara. Yang ujung-ujungnya duit alias UUD. Hahahaha” Kata orang itu terbahak-bahak.
Kuping Bob Arno semakin panas. Setelah selesai sarapan mie ayam Bob Arno masuk ke pekarangan kantornya. Orang asing yang sedang asyik merokok malah terkejut. Tetapi dasarnya orang sombong, malah ia menganggap Bob adalah tukang kebunnya. Ya jelas karena pakaian menunjukkan identitasnya sebagai tukang kebun. Pakai sandal jepit, kaos oblong, celana selutut. Semua telah menjelaskan bahwa sosok Bob Arno hanyalah tukang kebun. Kebetulan saja membawa Koran sehingga terlihat agak berbeda. Tetapi maknanya sama. Yaitu tukang kebun.
Terlebih setelah itu Bob membuka gerbang dan mengambil sapuh lidi yang panjang seolah ingin menyapu halaman. Orang tadi kemudian mengikutinya dan masuk kantor dengan gagahnya setelah ia membuang puntung rokok di depan Bob Arno. Sambil mengangkat-ngangkat dahi menyuruh Bob Arno menyapuh dengan bersih.
Siapa nyana, sungguh ia terkejut melihat kantor pengacara yang anak buahnya semua sibuk mengurus banyak kasus. Tidak kalah sibuknya dengan kantor pengacara yang maunya dibayar mahal. Orang itu duduk seperti orang tolol. Mungkin juga syok melihat keadaan yang berbeda dengan alam bawah sadarnya.
Tidak lama seorang perempuan cantik di front office menyuruhnya mengisi buku tamu dan memintanya mengisi registrasi. Semakin kagetlah ia ketika ia melihat Bob Arno yang sedang ditanya oleh anak buahnya yang berpakaian rapih dan berdasi, bertanya kepadanya tentang hukum. Bob Arno menjelaskan beberapa peraturan lengkap dengan nama peraturannya yang sudah ia hafal di luar kepala.
Kalau tidak salah sengketa mengenai Hak Paten sebuah industri otomotif di Jakarta yang telah dibajak oleh perusahaan dari Prancis. Bob menerangkan dengan bersahaja dan menghafal semua peraturan yang terkait di dalamnya.
Sambil sesekali melirik dan mengawasi orang itu, ia melihat orang itu malah pergi begitu saja melarikan motornya yang terparkir di luar pintu gerbang. Aih-aih malu deh cyn. Makanya jadi orang jangan sok asoy!

















2.    Sekretaris Cantik
Bob tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan orang tadi yang tidak genah. Dengan penasaran, ia melihat buku tamu dan mengecek namanya. Namanya Suparjo, lahir di Kebumen, 12 April 1984. Ia bercerita dihadapan para anak buahnya dengan tertawa puas sekali.
Kali ini ia  telah mengelabui orang tersebut dengan cara yang sangat bersahaja. Tiba-tiba ia bertanya mengenai DUKUH. Siapa yang menulis DUKUH di Papan Praktiknya? Apa artinya?
Sekali lagi tidak ada yang mengaku. Hanya mereka tertawa terbahak-bahak menertawakan ketidaktahuan Bob Arno tentang DUKUH.
“DUKUH Palembang kali bos.” Kata Firman sambil tertawa.
“Gini bos, pernah dengar singkatan DUREN?” Apri mulai memberitahukannya.
“DUREN itu aku, DUda keREN. Nah DUKUH? DUda gak laKUH gitu?” Katanya sambil menebak-nebak.
Semua orang yang ada di situ tertawa-tawa. Mengingat bos mereka yang memang lugu, yang marahnya lucu, selalu menikmati hidup apa adanya.
“DUKUH itu DUda KumUH!” Kata Marsela sambil tertawa.
“Gembus kowe Sel. Ngatain aku kok dalem buanget.” Marahnya sambil melempar kertas.
Catatan : Marsela ini adalah anak buahnya yang jaga di front office. Ia sangat manis. Tetapi pernah berprestasi menolak cinta Bob Arno karena telah memiliki pacar seorang dokter. Meski kadang Bob Arno masih menyimpan kecewa pada Sela, tetapi ia masih menginginkan Marsela berada di garda depan kantor pengacaranya. Sebab ia sangat professional dan sangat menjual.
Setelah mengingat kejadian barusan, tidak lama Bob Arno mengumumkan kepada anak buahnya untuk bebas berpakaian apa saja. Boleh pakai pakaian adat, boleh pakai baju tidur, bahkan boleh kausan singlet sandal jepit untuk berangkat ke kantor pun tidak apa-apa. Sebab yang namanya kerja tidak dilihat dari pakaian, tetapi dari intelektualitas dan kemampuan kalian dalam berkarya.
Bob bangga sekali karena telah membuat orang lain begitu tertipu dengan penampilannya barusan. Ia langsung menulis di twitternya : Ay malu deh cinnn ketempong sama kulit aing!!!
Bukan kali ini saja, tetapi hal ini membuatnya tertawa terbahak-bahak. Pengalamannya pada masa lalu, saat ia berpakaian kumel diperlakukan semena-mena oleh calon kliennya yang berasal dari golongan pejabat daerah. Kemudian tidak lama ia berpakai pakaian yang berkelas. Tentu saat itu juga ia mendapat penghargaan dan perlakukan yang berbeda. Sehingga ia tahu benar bagaimana orang yang berperangai baik hanya ketika di hadapannya yang berpakaian serba necis saja. Di luar itu, ia akan diinjak-injak , ditendang, dipermainkan secara tidak wajar. Ya itu hanya sedikit mengenai BAB PAKAIAN. Belum lagi bab-bab kehidupan yang lain yang seringkali menipu pandangan mata manusia secara zahir.
Bob juga pernah membuat malu beberapa pejabat penting akhirnya tertunduk tersungut-sungut bila bertemu dengan dirinya. Sungguh ini adalah sesuatu yang membuatnya tertawa terkekeh-kekeh apabila mengingat kejadian ini. Bahkan tidak berhenti tertawa. Ia merasa hatinya dikelitiki oleh benda kecil semacam bulu angsa yang tiada henti. Ia hanya tertawa dan kemudian lemas, lalu tertawa lagi. Nyaris gila karena ketawa.
“Kalau gak pake baju, gimana bos?” Tanya Ardi.
“Terserah kamu toh. Yang penting si Sela harus tetap cantik. Lawyer dan paralegal harus tetap professional dandanannya. Selain itu mau lempar-lemparan piring, mau menyetel music keras-keras di kantor ini, tidak masalah. Berbuatlah sesuka kalian tanpa tekanan. Tetapi ya harus bertanggung jawab.” Katanya sambil duduk dan menaikkan kakinya di atas meja dan menyetel music rock keras-keras.
Ketika ia sedang duduk santai sesantai-santainya tiba-tiba melintas wanita cantik dengan tinggi semampai dan rambutnya panjang terurai. Senyumnya manis sekali bak puteri bulan.
Tetapi sayang pemandangan yang begitu indah itu tidak sengaja dirusak oleh Firman yang tidak sengaja melempar rambutnya dengan kulit kacang. Dengan mata melotot Bob memarahi Firman sambil berkenalan dengan wanita itu dengan gayanya yang sok asoy.
Namanya Candra Kirana. Wanita itu adalah panggilan kerja Ardi bagian HRD. Ia mengajukan diri sebagai akuntan kantor pengacaranya dan hari ini adalah hari interviewnya.
Bob Arno langsung memanggil Ardi. Nampaknya ia sangat tertarik dengan penampilan Candra yang telah membuat hatinya terpenjara. “Ckckckck bidadari sorga hadiah yang begitu istimewa untuk seorang jomblo seperti saya. Jomblo bukan berarti tidak laku. Jomblo bukan pula pecundang. Ia hanya orang yang sedang menanti kesempatan menemui bidadarinya yang telah  dikirimkan oleh Tuhan.
Ironis sekali! Peraturan yang baru saja ia buat, terpaksa harus ia cabut kembali karena tidak sesuai dengan asas kemanfaatan dan ketertiban umum.
“Secara sosiologis masyarakat sini belum dapat menerima peraturan. Apalagi secara filosofis. Masyarakat sini pun tidak dapat mengerti apa arti filosofis kebebasan dalam sebuah aturan hukum yang diberlakukan. Masyarakat sini belum dapat membedakan antara kebebasan dengan kebablasan.” Katanya nyerocos sendirian.
Benar saja, begitu ia masuk ke ruang umum, ia melihat anak buahnya yang sudah lagi berpakaian layaknya bekerja pada kantor pengacara. Bangku dan kursi sudah berantakan sekali. Sebuah pemandangan yang buruk sekali.
Mereka malah melempar-lempar kulit kacang dan menebarnya kemana-mana. Keadaan sudah benar-benar darurat apalagi di depan wanita secantik Candra.
“Cuit…cuit ada cewek cantik…”
“Namanya capa cih?”
“Neng bapaknya tukang ojek ya neng? Sebab hati abang telah eneng ojeki sama permen kojek.”
Gitu deh liarnya lelaki, gak boleh lihat perempuan yang jidatnya bening sedikit langsung keluar sifat liarnya. Bob Arno sudah tidak lagi terlihat sebagai bos. Sosoknya seperti angin yang bening yang tidak terlihat. Makanya dia keki banget.
Bob Arno langsung meniup pluit panjang dan memainkan tangannya seperti layaknya hakim garis di pada pertandingan sepak bola yang akan memberikan kartu kuning kepada anak buahnya. Ia menyuruh anak buahnya untuk menghentikan segala aktivitas yang memalukan.
“Semua duduk kembali ke tempat semula. Peraturan yang barusan saya buat, saya cabut kembali. Kalian ini sangat tidak disiplin. Dikasih sedikit kesempatan untuk berkreasi, malah kebablasan. Sehingga betul apa yang dikatakan seorang ahli hukum bahwa kekuasaan akan menyebabkan seseorang melakukan korupsi, menyalah gunakan kekuasaan, ya seperti ini.
Sekarang ini saya tambah lagi peraturan agar kantor tetap dalam keadaan disiplin maka setiap detik keadaan kantor harus di up load ke youtube sebagai pertanggungjawaban kalian di hadapan publik.”
“HAAAAAAHHHHHHHHHHH??? Apa perlu begitu Pak?” Seru Candra tanpa sadar.
“Hups tidak perlu dik Candra. Pokoknya semua harus rapih dan disiplin untuk meningkatkan kinerja kita.”
Bob berbicara empat mata pada Ardi. Rupanya ia meminta CV Candra dan juga meminta Candra untuk menjadi sekretaris pribadinya pada Ardi. Ardi sempat mempertahankan Candra untuk tetap menjadi akuntan kantor.
“Masalahnya Candra itu jurusan akuntansi, bukan sekretaris. Kita harus bekerja secara professional Pak. Ia pun melamar untuk bagian akuntansi, bukan sekretaris.”
“Iya, tapi yang punya kantor kan saya. Apa kantor kita butuh akuntan?”
“Betul, seperti yang Bapak bilang tadi, kekuasaan membuat seseorang untuk berbuat sesuka hati. Kita harus melihat apa kemauan Candra yang akan saya interview nanti. Kita membutuhkan seorang akuntan untuk melindungi keuangan kita agar jangan sampai terjadi korupsi. Semua orang dapat melakukan korupsi. Tidak Bapak, tidak saya, mungkin juga teman-teman kita.” Kata Ardi yang sebal.
“Tidak perlu kamu interview. Biar saya saja. Mana CVnya?” Kata Bob yang begitu bersemangat untuk mengetahui siapa gadis cantik ini. Sedang Ardi cemberut kecut.
“Okey saya bisa mengerti kalau saya salah. Tetapi saya kira kantor ini tidak membutuhkan akuntan. Toh tidak ada yang korupsi di sini. Semua dibayar sesuai dengan kinerja yang ada. Saya hanya butuh sekretaris pribadi dan saya hanya mau dik Candra.” Katanya sambil melihat-lihat CV Candra dengan fotonya yang sangat manis.
“Tidak masalah. Sekretaris bukan berarti akan menjadi pasangan hidup nantinya. Kita bersaing secara sehat dan jantan sebagai lelaki” Kata Ardi yang mulai mengerti apa kemauan bosnya.
“Baik!” Katanya penuh percaya diri.
Bob langsung menyuruh anak buahnya untuk mendesain ruangannya yang sekarang ada Candra di dalamnya. Candra pun terkejut dengan penerimaan dirinya tanpa wawancara.
Jujur saja, sebenarnya ia hanya ingin melakukan riset tesisnya tentang audit kantor pengacara yang terkenal sangat bersahaja. Bagaimana kondisi finansial kantor ini? Bagaimana kemakmuran para pegawainya?
Tentu semua beberapa identitasnya seperti sudah menikah dan sedang melanjutkan pendidikan jenjang S2 tidak ia cantumkan. Tujuannya agar kantor pengcara dapat memberikan data yang akurat sehingga ia dapat memastikan hasil penelitiannya sedemikian valid.
Candra Kirana sudah menikah dengan seorang lelaki yang bekerja sebagai pegawai Bank Central. Setelah 2 tahun menikah, ia tidak memiliki anak. Beberapa faktor yang menyebabkan ia tidak memiliki anak sampai sekarang sampai saat ini antara lain karena suaminya sibuk bekerja dan juga tubuh suaminya yang agak sedikit gendut.
Sedangkan dirinya masih luntang-lantung dengan tesisnya yang belum jelas bagaimana penelitiannya. Ia pun ingin sekali bekerja dan mencari penghasilan tambahan apalagi ia memiliki banyak waktu luang untuk bekerja.
Sebenarnya suaminya ingin ia tidak bekerja. Mengurus rumah tangga saja. Suaminya, Darwis sayang sekali padanya. Terkadang ketika liburan ia sengaja bangun lebih awal membuatkan sarapan, memanjakan Candra seperti anak bungsu yang sukar bangun. Darwis memiliki kemampuan memasak yang mahir melebihi kemapuan memasak perempuan pada umumnya. Keterampilan berharga ini ia dapati ketika ia mengambil master di negeri kangguru dan ia bekerja paruh waktu pada sebuah resto ternama di sana.
Dasarnya Candra si anak manja, ia malah betah tinggal di rumah dengan aktivitas yang itu-itu saja. Tidak ada anak, dan setiap hari kerjanya hanya sibuk shopping dan melototi televisi. Makanya ia berangkat kuliah untuk meneruskan masternya. Tetapi kok kuliahnya kini malah terbengkalai akibat penelitian tesisnya yang belum juga ia mulai. Maka mulailah ia untuk menyingsingkan lengan mengerjakan tesisnya.
Ketika ia searching di mbah Google, ia menemukan sebuah kantor pengacara yang sedang membutuhkan akuntan untuk mengaudit kantornya. Hal ini dibutuhkan untuk transparasi kantor sehingga semakin jelas aliran dana-dana yang diterima adalah dana yang berasal dari sumber bersih.
Semula ia sangat heran dengan kantor pengacara yang ingin mengadakan audit seperti ini. Tetapi atas nama transparansi mengapa tidak. Toh ini memang menarik. Mungkin saja kantor pengacara yang besar telah melakukannya tetapi lain cerita ini adalah kantor pengacara yang tidak begitu terkenal namanya. Alamatnya di perkampungan kecil pula. Websitenya pun tidak ada.
Dengan menyingkirkan berbagai keraguan, ia mencoba melamar pekerjaan demi sebuah tesis yang harus selesai. Setelah tesis itu selesai, barulah ia memikirkan hal ihwal ia akan memiliki pekerjaan di kantor yang bonafid.
Dengan kehadiran Candra di kantor ini memberikan perubahan yang begitu drastis. Bob Arno menyuruh anak buahnya untuk memasang AC di ruangannya. Padahal dulu tidak kepikiran sampai pasang AC segala.
Ruang perpustakaan ditata sedemikian menarik seperti ruang perpustakaan kampus-kampus di Eropa. Semua buku-buku besar semacam Black Law Dictionary, Law Ensilkopedia, buku-buku karangan Utrecht harus terpampang jelas di muka dengan identitas buku yang begitu jelas terbaca. Siapa peminjam, kapan akan dikembalikan, semua harus terdata dalam sistem komputerisasi.
Sekarang kantor telah memiliki website yang apik. Setiap orang yang ingin menyewa jasanya dengan mudah dapat dicari di internet. Beberapa logo klien perusahaan yang pernah menyewa jasanya, dipampang dengan jelas di halaman web. Semua tampak serba professional.
Bob juga mempercantik taman-taman tanpa melupakan harus memperbaharui Papan Praktiknya dari coret-coretan kotor. Desain interior pun sungguh menarik. Nyaman, asri dan segar dengan iringan instrument musik seperti Anda mengunjungi toko buku Gramedia.
Tentu juga penampilan Bob yang semakin berwibawa di mata anak buahnya. Sekarang ia memakai jas, kadang tusedo yang mahal. Bahkan orang tidak akan tahu kalau ia membelinya di Pasar Ular dan harganya pun tidak lebih dari seratus ribu rupiah.
Beberapa kali ia mulai sering melakukan perawatan wajah untuk sedikit mengurangi keriput di wajahnya. Tentu saja yang mengantar adalah Candra dengan SUV Jukenya.
 Sebuah perubahan yang luar biasa nyaris dapat dibilang revolusi total. Kenapa ia melakukan semua ini? Yang pertama mungkin ia menginginkan suasana yang baru karena kehadiran seorang Candra yang terlihat selalu rapih. Kedua mungkin ia sedang jatuh cinta pada Candra. Itu merupakan hal yang biasa dilakukan oleh seorang yang sedang jatuh cinta yaitu berbuat bodoh dan selalu melakukan hal yang tidak diduga-duga sebelumnya.
So pasti tidak mengurangi siapa Bob Arno yang suka cekakan dan berhumor gila-gilaan. Meskipun sedikit agak berkurang akibat jaim terhadap Candra.
Candra adalah bulan yang tengah tersenyum di dalam hati Bob. Mungkinkah Bob telah benar jatuh hati padanya? Tentu sebaliknya, apakah Candra akan jatuh hati pada sosok Bob yang usianya jauh lebih tua di atasnya dan Candra pun telah memiliki suami pula?
“Dik Candra, sudah sarapan belum?”
Candra tersenyum, lalu menjawab “sudah Pak”.
“Mau ikut sarapan lagi sama saya? Kebetulan nih saya bawa nasi uduknya 2 bungkus?”.
“Terima kasih Pak saya sudah kenyang.” Jawab Candra malu-malu.
“Wooooo… yang ditawarin cuma Candra doang, kita-kita gak ditawarin.” Ledek Ardi yang sebal dengan tingkah Bob yang sekarang aneh.
“Lah nek nawari kowe iso entek kabeh noh. Aku ngerti nek aku nawarin Candra pasti gak diterima, makanya aku tawarin.” Alesannya sambil melirik Candra yang sedang membuka laptopnya.
Ardi yang gemas dengan bosnya, langsung membawa tentengan nasi uduk itu dan membagi-bagikannya pada rekan-rekannya yang lain. Bob Arno hanya menggeleng-geleng kepala kemudian menggigit dasinya. Ya begitulah nasibnya.



















3.    NAMANYA DEWI SARTIKA
Bob memeriksa Sella yang sedang menerima tamu. Tidak sengaja ia melihat seorang tamu wanita yang cantik jelita dengan dandanan yang begitu modis seksi meski tidak dapat dibohongi wanita ini sudah berumur.
Dengan pakaian serba mahal dan perhiasan yang serba mahal pula kiranya tentu masih dapat menarik perhatian lelaki seperti Bob untuk mengatakan bahwa wanita ini adalah cantik. Wangi parfumnya, blik-blik di hidungnya yang mancung sepertinya itu adalah berlian yang mahal harganya.
Kalau di dekatkan dengan Candra, kedudukan Candra menjadi nomor 2. Wanita cantik ini seperti berasal dari golongan high class yang tidak pernah merasakan hidup susah. Barangkali ia tidak mau sarapan dengan nasi uduk dan sambal teri. Begitu sempurna wanita ini di mata Bob. Bob begitu terlena sehingga sedikit melupakan BAB PAKAIAN yang seringkali menipu pandangan mata.
Bob menerima tamu yang datang pada kantornya dan mencoba mendengarkan segala keluhannya dengan penuh perhatian. “Bagaimana ibu Dewi Sartika, apa yang bisa saya bantu?”
“Begini Pak Bob. Saya ini seorang janda beranak satu.”
Jantung Bob berdegub kencang begitu mendengar identitasnya sebagai janda beranak satu. Seperti ia tidak berniat menghianati perasaannya pada Candra yang sedang duduk di depan komputernya memeriksa angka demi angka untuk kebaikan kantornya.
Ia tidak ingin mengecewakan Candra bila tiba-tiba perasaan Candra pun akhirnya menerima segala perhatiannya selama ini. Apalagi setiap hari Candra selalu merapihkan segala catatan untuk mata perkuliahan yang diasuh Bob di universitas yang belum rapi. Ia selalu merapihkan tempat duduknya, susunan buku dan majalah hingga segala macam yang membuat kantor ini semakin nyaman.
Sungguh dari kejauhan ia melihat keseriusan Candra dalam pekerjaan, ia begitu terlihat cantik alami. Candra begitu tulus padanya mengabdi di kantor yang belum memiliki nama besar. Namun sosok Dewi Sartika telah menawarkan segala kemegahan dan kemewahan yang ada padanya.
“Lalu..?”
“Saya bercerai dengan suami saya sejak lima tahun lalu dengan satu anak perempuan yang berusia 10 tahun. Kami memiliki perusahaan bersama yang bergerak di bidang pertambangan.”
“Wow pantastis!” Katanya dalam hati. Namun semakin jauh hati Bob Arno dari kehidupan Dewi yang asalnya memang kaya raya. Dewi pasti tidak menginginkan hidup dengan sedikit anti kemapanan sebagaimana yang ia inginkan.
“Kemudian saat kami bercerai, segala asset kami harusnya kan dibagi 2, tetapi yang terjadi malah dalam laporan perusahaan yang tertuang, terdapat kewajiban bahwa saya harus membayar beberapa hutang perusahaan dan perusahaan kami yang hampir pailit. Lalu saya menyatakan mundur dari perusahaan yang sudah bangkrut dan tidak memiliki laba melainkan sisa tumpukan hutang yang harus kami tanggung. Namun ternyata perusahaan itu tidak benar-benar bangkrut. Buktinya sampai detik ini perusahaan tersebut masih beroperasi seperti sedia kala.
Saya teringat ketika menjelang perceraian, saya menemukan setumpuk cek atas nama mantan suami saya dengan nilai hampir triliyunan. Sempat saya mempermasalahkan darimana ia memperoleh uang itu. Mengapa banyak sekali jumlah cek-cek itu atas namanya? Mantan suami saya tidak mau menjawab dan malah kami bertengkar hebat malam itu.
Saya masih bingung mengenai konsep pembagian harta gono gini dan konsep harta bawaan. Sedang perusahaan itu sebenarnya adalah perusahaan keluarga saya. Memang saya anak tunggal sehingga saya tidak perlu bertanggungjawab kepada saudara-saudara saya. Tetapi sangat tidak logis bila setelah perceraian terjadi, saya tidak memiliki apa-apa. Bahkan hak asuh anak saya yang masih berumur 10 tahun pun jatuh padanya. Kalau tidak salah secara hukum hak pengasuhan anak di bawah umur 18 tahun masih berada pada pengasuhan ibunya. Baru setelah itu ia dapat memilih kepada siapa hak asuh tersebut dipegang. Kalau tidak salah begitu kan Pak Bob?” Begitu Dewi Sartika menguraikan kasus hukumnya.
Bob Arno mengangguk membenarkan. Ia pun secara serius menyimak secara mendalam kasus posisi Dewi Sartika saat ini. Ia benar-benar merasakan hal yang aneh. Tetapi bagaimana mungkin sebuah perusahaan besar dapat beralih begitu saja tanpa adanya RUPS dan pelaporan keuangan perusahaan yang diaudit secara transparan?
Sebagai pengacara kawakan, ia mengerti betul bagaimana mencari solusinya. Ia selalu tertantang bila menghadapi kasus hukum yang jatuh padanya. Terlebih kalo ini ia merasakan sesautu yang berbeda dari biasanya.
Ia benar-benar tertantang dengan kasus Dewi Sartika. Ia ingin melibatkan Candra –yang aslinya berprofesi sebagai akuntan tetapi kini berprofesi sebagai sekretaris pribadi Bob Arno- agar mereka dapat mengetahui pos-pos mana yang digelapkan oleh mantan suami Dewi Sartika. Bagaimana asset itu beralih, dan bagaimana keadaan harta perusahaan saat ini.
Bob segera merundingkan kasus ini kepada anak buahnya. Mereka membentuk team khusus yang mampu bekerja secara profesional khusus untuk menangani perkara ini.
Candra mengajukan beberapa personal di luar sana yang dapat bekerja dengan gerak cepat. Kebetulan ia mengenal Susi yang bekerja sebagai akuntan di perusahaan mantan suami ibu Dewi Sartika.
Susi adalah sahabat dekat Candra ketika duduk di bangku kuliah. Seperti sebuah kebetulan saja. Dari susi ia mengumpulkan beberapa pos-pos yang mencurigakan selama ini yang akan diajukan sebagai novum di pengadilan.
Tentu ia juga akan melibatkan suaminya, Darwis yang bekerja di Bank Central. Darwis berfungsi untuk melihat rekening pribadi yang dimiliki oleh mantan suami ibu Dewi Sartika.
Kedua orang ini bekerja dalam team Candra. Demi dan atas nama profesionalitas, Candra tidak menyebutkan siapa personalnya. Ia hanya mengatakan kalau ia dapat mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan.
“Bagus sekali cara kerjamu Candra. Saya suka dengan cara kerjamu yang begitu terstruktur.” Kata Bob yang senang dengan deskripsi kerja Candra.
“Saya juga memiliki teman di perpajakan. Agar dapat mengetahu berapa besar pajak perusahaan selama ini. Sehingga kita dapat mengetahui beberapa besar asset yang ada pada perusahaan.” Kata Wawan yang biasanya ngawur tetapi kali ini serius membuktikan pada team untuk membela kasus Ibu Dewi Sartika.
Team bekerja siang dan malam. Mereka begitu semangat seolah mendapat energi baru untuk kemajuan bersama. Ternyata mereka memiliki mimpi yang besar untuk itu. Tidak melempem dengan kinerja yang dulunya acakkadul.
Tanpa putusan pengadilan niaga dan juga tanpa rapat RUPS, Ibu Dewi masih memiliki kedudukan tetap sebagai pemilik. Bob Arno menyarankan agar Ibu Dewi tetap berangkat ke kantor guna memeriksa perusahaannya meskipun dalam perasaan tidak enak terhadap mantan suaminya. Karena di sana pasti ada mantan suami dan juga jajarannya yang tidak terlampau menyukai Ibu Dewi.
Mengenai teknis, Firman akan memasang orang-orang dalam perusahaan Ibu Dewi agar Ibu Dewi kembali kerasan kembali kepada perusahaannya. Tentunya dengan selamat dan juga aman dari tekanan mantan suaminya.
Dengan penjagaan ketat orang-orang terselubung yang menyamar menjadi office boy, sekuriti, juga orang-orang yang biasanya tidak ada pada perusahaan. Semua nampak tidak terlihat kalau di sini sedang dilancarkan misi membongkar penggelapan yang dilakukan mantan suami Ibu Dewi.
Candra juga menekan Susi agar menunjukkan pos-pos kotor yang dilakukan oleh mantan suami Ibu Dewi. Susi harus menunjukkan semua itu sebagai bukti di Pengadilan Niaga kalau perusahaan mereka masih memiliki asset yang memadai dan tidak berada dalam keadaan pailit.
Mereka yang mengumpulkan bukti segera menulis nota pembelaan. Setiap hari mereka bolak-balik ke kantor ini, kantor itu. Pengadilan niaga, pengadilan umum. Mereka harus benar membuktikan adanya penggelapan yang terjadi pada perusahaan Ibu Dewi. Mereka sungguh-sungguh membantu untuk kasus Ibu Dewi.
Bob Arno pun beberapa kali mendatangi kantor Ibu Dewi dan bertemu dengan mantan suami Ibu Dewi yang sekarang diketahui sudah memiliki pacar lagi. Bob geram sekali dengan pasangan yang menghianati pasangannya.
“Kalau seandaianya pendapat saya dapat dijadikan dasar hukum, saya akan mengatakan bahwa kejahatan perselingkuhan hampir sama dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. Sebab apa?”
“Sebab apa Pak Arno?” Tanya Ibu Dewi penasaran.
“Sebab perselingkuhan telah membuat kehidupan pasangan yang sebelumnya menjadi tidak tentram, berantakan, menjadi tidak harmonis, sulit mengejar kehidupan yang lebih indah karena didera perasaan kecewa yang mendalam. Namun sayang, pendapat saya tidak dapat dijadikan dasar hukum karena saya bukan siapa-siapa. Saya bukan ahli hukum yang perkataannya dapat dijadikan sebuah doktrin, saya juga bukan hakim yang dapat mengeluarkan yurisprudensi dalam putusannya, dan perselingkuhan yang tertera dalam KUHP tidak pernah disebut sebagai kejahatan. Hanya delik perzinahan yang dijadikan delik aduan saja oleh pasangannya yang merasa dirugikan. Itu pun masih dengan catatan, bila hal tersebut dilaporkan oleh pasangannya. Kalau pasangannya tidak merasa dirugikan dan tidak melaporkan, maka hal itu dianggap biasa-biasa saja.”
“Harusnya demikian ya Pak Bob. Hanya masalah perasaan yang sering diabaikan oleh orang sebenarnya urgensinya penting. Sulit sekali perasaan yang telah terluka untuk dikembalikan kepada keadaan semula. Padahal di sana banyak kehidupan. Ya isteri, ya suami, ya anak. Ya kalau anaknya hanya satu seperti saya, tetapi kalau anaknya banyak? Apa jadinya? Bagaimana kehidupan tidak hancur lebur oleh perasaan terluka yang semestinya tidak ada?” Kata Ibu Dewi yang sebenarnya mengiyakan pendapat Bob Arno.
“Nah kalau Pak Bob bagaimana kabar keluarga Pak Bob Sendiri? Anak sudah berapa? Pastinya harmonis kan?” Lanjut Ibu Dewi yang sama sekali tidak tahu menahu tentang kondisi keluarga Bob Arno.
Bob Arno terdiam. Ibu Dewi terus memancingnya untuk menjawab.
“Tidak jauh keadaan keluarga saya dari keadaan keluarga Ibu Dewi. Hanya saya tidak memiliki anak. Isteri saya pergi dari rumah meninggalkan saya.”
“Oh tidak. Anda kan pengacara? Kenapa bisa terjadi?” Dewi Sartika begitu heran.
“Ya bisa-bisa saja. Saya manusia biasa. Dan mantan isteri saya juga manusia biasa yang bisa pindah hatinya kapan saja dia mau dan kepada siapa saja yang ia inginkan. Tentu hal itu bisa saja terjadi kepada siapa saja.”
“Prihatin juga mendengar kondisi Anda. Sudah berapa lama?”
“7 tahunan. Ya 7 atau 8 tahun begitu. Karena saya pun tidak mau mencari orang seperti dia. Sejauh ini saya nyaman hidup sendiri untuk mengabdi kepada hukum. Membantu orang yang membutuhkan hukum. Juga mengajarkan hukum kepada kelas yang membutuhkan ceramah saya. Juga sahabat-sahabat saya di firma yang begitu setia. Meski seringkali terjadi huru-hara. Ya begitulah kehidupan saya sekarang. Tanpa keluarga tetapi banyak orang disekitar saya. Sehingga saya tidak terlalu merasa tidak berguna.”
“Hahaha kenapa bisa? Terus terang Pak Arno, saat saya memasuki kantor Anda, saya merasakan persahabatan yang begitu kental. Bagus sekali Anda mengelola anak buah Anda dengan baik.”
“Ya begitulah. Sejak dulu saya inginkan ya seperti itu. Saya menganggap mereka seperti adik-adik saya..”
“Termasuk dik Candra yang sangat manis. Hahahaha” Sambung Ibu Dewi dengan cepat.
“Loh kok Ibu Dewi tahu kalau saya memanggil ia dengan sebutan dik Candra?”
“Iya, saya tahu. Beberapa kali saya mendengar Pak Arno memanggil namanya dengan sebutan “dik”. Kebetulan saya juga sebagai wanita, sehingga saya tahu betul bagaimana perasaan dik Candra saat Pak Arno memanggil itu.”
“Kalau boleh tahu, perasaan wanita akan seperti apa ya Ibu Dewi? Saya jadi kepingin tahu?”
“Yang saya lihat saya sangat malu. Tetapi sukar ia mengatakan tidak. Sebab ia sangat hormat kepada Anda.” Jawab Ibu Dewi.
“Terus terang, ia baru beberapa bulan bekerja di firma. Ya, baru beberapa bulan. Banyak sekali yang menyukainya. Ia sangat baik, teratur, dan tentu dapat diandalkan.”
“Ya saya melihat hal itu pada Candra. Ia sosok yang memang piawai dalam memegang pekerjaan. Komitmennya tinggi terhadap komitmen yang telah ia buat. Saya akui Pak Arno, Anda sangat beruntung memiliki pegawai seperti Candra.” Puji Ibu Dewi berkali-kali.
“Alhamdulillah Ibu Dewi akhirnya Tuhan menunjuki saya orang-orang yang baik. Seperti halnya Ibu Dewi yang saya rasa Anda juga orang baik. Anda sabar menghadapi ujian seperti ini. Yang tidak jarang seorang wanita mau berjuang lebih keras melawan segala cobaan hidup yang dialami. Kebanyakan mereka memilih mundur dan tidak mencari haknya lebih jauh.” Puji Bob Arno yang melambungkan perasaan Dewi Sartika.
Barangkali keduanya mungkin telah memiliki perasaan yang sama. Namun apakah waktu akan mengijinkan mereka dapat hidup bersama-sama? Oh so sweet..




4.    CANDRA VS DEWI
Kasus Ibu Dewi telah didaftarkan kepada Pengadilan. 2 Pengadilan sekaligus yang memeriksa. Yang pertama Pengadilan Agama yang mengurus tentang harta perceraian dan juga hak asuh puteri Ibu Dewi. Yang kedua adalah Pengadilan Niaga yang akan membongkar penggelapan perusahaan yang dilakukan oleh mantan suami Ibu Dewi.
Bila kasus telah didaftarkan dan telah diterima oleh pengadilan, maka tinggal tunggu waktu proses pengadilan akan berjalan. Hanya butuh sedikit kesabaran untuk memperoleh kemenangan yang gemilang.
Mantan suami Ibu Dewi begitu terkejut ketika ia mengetahui telah ada akuntan publik yang mengaudit perusahaan di luar sepengetahuannya. Tentu data-data yang disodorkan adalah riil dan valid.
Akibat dari kesaksian akuntan publik ini semakin memberatkan posisi mantan suami Ibu Dewi. Demikian juga mantan suami Ibu Dewi telah melakukan kejahatan penggelapan pajak. Semakin rumitlah ia.
Dalam keadaan yang serba kepepet ini, ia menekan kepada pihak Ibu Dewi dengan berbagai serangan yang bertujuan untuk memaksa Ibu Dewi mencabut gugatannya. Ia mengancam untuk membunuh Ibu Dewi. Ia melempar rumah Ibu Dewi dengan bom Molotov. Tentu saja team pengacara Bob Arno telah memperkirakan sebelumnya akan terjadi kejadian seperti ini.
Semua kejahatan telah direkam dengan baik dan tidak ada kejahatan yang terlewat begitu saja. Dengan pengacara yang handal, Ibu Dewi merasa kedudukannya begitu kuat dan terlindungi.
Ia mengatakan bahwa pelayanan hukum yang diberikan Bob Arno lebih dari sekadar pelayanan hukum biasa. Ia telah benar-benar merasa nyaman dengan semua ini. Ia tidak takut bila mantan suaminya mendekat. Bahkan Annisa yang kini berada dalam pengasuhan mantan suaminya, telah dilengkapi orang-orang sewaan yang akan melindungi keamanannya bila terjadi sesuatu.
Bila terdapat gelagat yang tidak baik dari mantan suami Ibu Dewi, orang-orang sewaan itu akan bekerja lebih cepat dan tanggap. Tentu mereka bekerja dengan perjanjian yang diinginkan oleh Ibu Dewi.
“Kalau begini aku dapat tidur pulas Candra. Sungguh kalian ini adalah sahabat yang telah diutus Tuhan untuk saya.” Kata Ibu Dewi sambil meneteskan air mata dan mengharu biru.
“Senang sekali Bu, kami dapat menolong Anda. Bukankah hidup ini memang ditakdirkan untuk saling tolong menolong?” Jawab Candra.
“Candra, aku kagum padamu. Engkau masih muda, tetapi hatimu begitu lembut. Saya pun dapat merasakan kelembutan itu. Beruntung sekali Bob Arno mendapat sahabat seperti Anda.”
“Tidak berlebihan Ibu Dewi. Saya justru belajar dari rendah hatinya Pak Bob. Ia tidak hanya membangun istana untuk dirinya sendiri, melainkan juga istana orang-orang lain yang ada di sekitarnya. Mereka amat senang bekerja dengan Pak Bob. Termasuk juga saya.”
“Maaf Candra, apa kau juga naksir padanya?” Tanya Ibu Dewi yang mulai menanyakan hal-hal yang spesifik.
“Ah tidak Bu. Saat ini saya telah memiliki suami yang baik. Saya tidak mungkin berpaling darinya meskipun Pak Bob begitu baik kepada saya.” Jawab Candra.
“Lah saya tahunya Anda dengan Pak Bob telah memiliki hubungan khusus?” Ibu Dewi memang tidak seharusnya bertanya-tanya seperti ini. Tetapi entah mengapa ia ingin mengetahui lebih dalam tentang hubungan mereka karena mungkin Ibu Dewi telah memiliki perasaan kepada Bob Arno meskipun hanya sedikit.
“Sama sekali tidak Bu. Hanya rekan kerja biasa.”
Mendengar jawaban seperti itu, bukan semakin puas Ibu Dewi mendengarnya. Bahkan ia ingin menyakinkan diri bahwa Candra tidak mencintai Bob Arno sama sekali.
“Apa Pak Arno tahu bahwa Anda telah bersuami?”
“Sebenarnya saya ingin memberitahu sebelumnya. Namun saya takut akan merusak iklim persahabatan yang telah firma bangun. Saya hanya ingin bekerja secara professional.”
“Kan seharusnya Pak Arno mengetahui hal ini agar ia tidak salah faham. Saya kok yakin Pak Arno memiliki perasaan lebih terhadap Anda.”
Ditanya seperti ini oleh Ibu Dewi, Candra semakin risih dan seolah merasa mangkel telah bertemu dengan orang yang sedang ia tolong malah kepo. Menanyakan hal-hal yang tidak penting baginya dan membuat perasaan menjadi tidak enak.
“Maaf Bu Dewi, sudah sebaiknya kita tidak membicarakan hal ini. Kita fokus saja pada kasus yang sedang kita tangani. Takutnya malah menjadi tidak fokus sehingga tidak mencapai tujuan. Tentu itu bukan juga menjadi masalah firma bila saya tetap bekerja secara professional dan Pak Bob telah dewasa menilai apa yang terjadi.”
Candra mulai menyadari sebuah kelemahan dari Bob Arno. Banyak sisi yang mesti dikagumi dari sosok Bob Arno. Ia cerdas, terpelajar, baik hati, cuma sayangnya ia terlalu terbuka dalam urusan percintaan. Sedemikian ia bersikap lugu tanpa memperhatikan keberlangsungan kinerja team dan apa tujuan Bu Dewi ketika harus bertanya-tanya hal itu?
Setelah itu keadaan menjadi dingin diantara keduanya. Ibu Dewi pun sadar bahwa ia telah menyentuh hal-hal yang sensitif. Lalu ia meminta maaf kepada Candra. Meskipun ia telah meminta maaf, Candra menjadi agak menjaga jarak pembicaraan kepadanya.
Candra sedikit menghindar. Tetapi Ibu Dewi terus mendekati. Malah sore ini selepas menghadiri persidangan dengan agenda pembacaan gugatan, Ibu Dewi menumpang mobil pada Candra dengan tujuan kantor pengacara Bob dengan alasan mobilnya harus diperiksa di bengkel karena agak goyang ban belakangnya.
Dengan tangan terbuka Candra menuruti kemauannya. Namun dengan hati sedikit tertutup ia tidak ingin membicarakan masalah pribadinya kepada Ibu Dewi.
Benar saja ketika mereka berdua turun dari SUV Candra, Bob Arno telah menanti keduanya di serambi halaman depan rumahnya. Senang sekali rupanya ia bertemu Candra. Hampir seharian ia tidak ditemani Candra, rasanya ada hari yang hilang.
Lebih bahagia lagi ketika ia melihat Ibu Dewi yang ternyata ikut bersama Candra. Hatinya sedikit bertanya. Namun Ibu Dewi menjelaskan kedatangannya bahwa ia ingin bercerita keadaan pengadilan tadi pagi.
Entah kebetulan atau tidak, hari ini Bob Arno membuatkan pisang goreng kremes. Pisang goreng kremesnya masih hangat. Tinggal ia tambahkan 2 cangkir kopi lagi, jadilah sore itu semakin nikmat. Apalagi dengan dua wanita yang sekarang sedang bertahta di hatinya.
Sebagai wanita yang sedang agak tidak suka dengan sikap Dewi dan ia terlanjur kesal, Candra menolak untuk mengopi bersama. Ia memberikan alasan kalau hari sudah semakin sore dan takut macet Jakarta.
Dewi memahami betul kondisi hati Candra. Ia tidak terlalu banyak komentar dan tanya. Ia masih berniat mengopi bersama dengan Bob Arno sampai sopir menjemputnya.
Bob Arno tidak merasakan sesuatu yang telah terjadi pada Candra dan Dewi. Ia merasakan Candra yang kelelahan memang seperti itu. Tetapi sungguh ia masih rindu pada Candra.
“Can, sebenarnya aku beratloh kamu pulang. Hari ini kan kita gak sama-sama. Baru sebentar ketemu aku kok malah pulang.” Manjanya yang secara tidak sadar ia lakukan di hadapan Dewi yang sudah tahu bahwa Candra telah memiliki suami.
Bob tersadar, ini bukan sikap yang baik yang harus ditunjukkan kepada kliennya. Bob membiarkan Candra pulang. Lalu ia mengambil hpnya dan mengirin sms padanya. “TT DJ y Can J” Pesannya pada sms yang dikirimkan pada Candra. Candra hanya tersenyum dan berkata “Gak perlu saya balas. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Dewi yang mencurigai percakapan mereka tersenyum dan tertawa. Ia hanya yakin yang dibicarakan bukan dirinya. Tetapi tingkah kekanak-kanakan yang sering muncul ketika seseorang sedang jatuh cinta.
“Aduh pisang kremesnya menggoda kepingin dimakan. Boleh saya coba Pak Arno?”
“Eh silahkan, ayo dicoba. Maaf saya sampai lupa. Biasa kalau becanda dengan anak buah bisa sampai lupa keadaan. Beginilah saya.”
Sementara SUV Candra tetap melaju meninggalkan keduanya. Di dalam SUV Candra pun berpikir untuk menjodohkan keduanya dan mengatakan bahwa ia telah memiliki suami. Tetapi kapan? Bagaimana? Perasaan takut mengecewakan Bob Arno ia biarkan merajalela di kepalanya. Ia pernah mengetahui dari Marsella bahwa Bob tidak memiliki keluarga yang utuh. Ia ditinggal oleh isterinya dengan sebab yang tidak jelas.
Candra ingin sekali berkata jujur, namun timmingnya belum tepat bila dikatakan saat ini. Bagaimana dengan tesis? Apakah masih minat ia pada tesisnya? Atau ia memang tidak memerlukan tesis tetapi ia kan terus bekerja pada firma. Namun bagaimana kiranya bila Bob tidak suka padanya dan melemparkannya begitu saja?
Tidak, tesis harus dikerjakan dengan obyek yang lain. Ia dapat mencari data tentang apapun yang dapat mendukung penelitian tesisnya. Bahkan ia dapat meminta Darwis untuk melakukan hal itu. Darwis pasti bersedia membatunya.
Tiba-tiba ia teringat Darwis yang suka sekali dengan steake. Lalu ia menghentikan SUVnya di depan Resto Steake. Ia memesan steake 2 buah untuk dibungkus dan dibawa pulang.
Ia begitu merindukan suaminya. Ia mencoba menghubungi suaminya melalui ponsel.
“Iya sayang, aku sedang berada di warung steake langgananmu. Aku belikan untukmu.” Kata Candra.
Tetapi apa yang ia lihat? Benarkah itu Darwis? Ya itu Darwis. Ia pun sedang memesan steake untuk dibawa pulang.
“Sayang, inikah yang disebut kebetulan?”
  


Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 10.02
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog