Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Minggu, 23 Desember 2012
In: Fiksi

12. KENA BATUNYA


Ini hari kedua Sekar bermuka kaku. Saudara-saudaranya mulai kerasa dengan keterasingannya. Ada yang aneh, ada yang kurang, ada yang hambar pada hari-hari mereka. Sebab apa? Sebab mereka adalah tumpah darah yang satu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia.
Hari ini mereka tetap berangkat bersama-sama dari rumah. Meski canggungberada dalam satu mobil tetapi tidak saling sapa dan usil kayanya nyebelin. Sekar punya pikiran untuk membawa mobil sendiri. Paras dan Adis pun demikian. Biar mereka berangkat sendiri-sendiri dan tidak saling menyapa juga tidak apa-apa.
Hari terus berlalu. Hingga sore itu mereka kumpul kembali. Kejadian di rumah rempong ramai kembali. Ketika Adis yang pulang ke rumah dalam keadaan menangis dengan tragis.
Ia mulai mengadu pada Paras,
“Kakak gua harus ngulang karya ilmiah gue. Pasalanya gue dituduh penjiplak dan gue harus ngebuktiin semua teori yang ada dalam tulisan yang temenlu buat. Gue mana mampu!!! Sebab bahasanya ilmiah semua.”
“Lah terus waktu presentasi lu gimana?”
“Gue gak bisa menerangkan bagaimana teori yang sesungguhnya. Kenapa begini? Kenapa begitu? Bahkan guru gue mensyinyalir karya ilmiah gue adalah…”
“Adalah apa Dis?” Tanya Sekar yang sudah mulai ingin tahu apa yang yang diduganya akan terjadi.
“Mao tau aja loh!” Jawab Adis secara sadis.
“Iya, karya ilmiah lo kenapa Dis?” Tanya Paras.
“Plagiat”
“Hah pla-gy-yat?” Kakak-kakaknya kaget semua.
“Kok bisa?” Paras heran karena si Codet bilang itu sudah sempurna.
“Iya hasil copy paste dari blog guru gue semua dan parahnya di situ gak disebutin sumbernya. Huwaaaaa….” Adis menangis dengan deras.
“Codet..ttt berani bokis lo ya sama gue.” Geram Paras.
“Syukur, apa yang gue bilang. Makanya Ras, anak kaya gini emang disuruh untuk mandiri. Jangan apa-apa dijejali. Yang terjadi ya kaya gini, malu-maluin aja jadinya. Gue ucapin sekali lagi, selamat ya lu dah jerumusin Adis menjadi seorang plagiat.” Begitu jawab Sekar yang sudah mulai tahu kalau ia diadu domba oleh Adis.
Paras menghela nafas panjang.
“Yaudah Dis, emang sebaiknya lu ngerjain ilmiah itu sendiri aja. Lagian lu dah harus pandai ngebagi waktu kapan lu main, kapan lu belajar. Ya harus diatur dengan baik. Kalo lu gak bisa ngatur, lu yang bakal diatur-atur terus sama waktu. pedihnya ya, kalo lu gak bisa ngatur waktu, lo bakal tertinggal sama temen-temenlo yang selevel. Lo bakal ditinggalin dan bakal dijauhin dari mereka. Dan lo sangat iri dengan keadaan ini. Lalu lo menyalahkan takdir. Padahal semua ini terjadi karena elo telah menyia-nyiakan waktu.” Tegur Paras.
“Ya selama ini gue emang gak cocok dengan gaya kak Sekar yang cenderung ekstrim dan disiplin terhadap waktu. Karena waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita.” Lanjut Paras lagi yang sangat kecewa membela Adis yang telah menyia-nyiakan pembelaannya.
“Lain kali Ras kalo lo mau menolong Adis, sudah seharusnya lo ngasih kail, bukan ngasih ikan. Lagian kalo dikasih ikan, apalagi ikan tuna, anak kek gini gak bisa makan tuna.”
Sekar mulai mesem-mesem gak jelas. Sekarang dia benar-benar tahu kalau memang semua ini terjadi karena desakan Adis yang agak sadis sporadis. Sedang Adis sewot sendirian. Tetapi hatinya sudah mulai mengakui bahwa dirinya bersalah. Dan dia akan merubah sikapnya. Ia harus lebih bertanggungjawab atas dirinya.
Sebagai kakak yang sekarang sudah baikan, Sekar dan Paras tidak mempermasalahkan adik bungsunya. Mereka semua merangkul dan mengajak Adis untuk lebih bersikap dewasa.
“Dis gue mao kok bantu lo melakukan penelitian. Gue akan nyediain buku-buku sains dan tentunya lo yang harus nyerjain sendiri. Gue hanya sebagai dosen pembimbing.” Lanjut Sekar.
“Boleh kak, yang penting tugas gue rampung.”
“Oklah kalau begitu. Lo tao kan cara kerja gue kaya apa? Gue mao no nulis setiap hari satu bab aja. Jadi dalam waktu seminggu tugas karya ilmiahlo itu dah gue udah ujikan. Lo harus presentasi di depan gue, Paras, sama Ola. Lu harus jawab sebagaimana forum ilmiah. Kalo Ola nanya, lo juga harus jawab secara ilmiah. Lo juga boleh bawa peserta lain untuk menguji lo. Dan…” Sifat rempong Sekar mulai keluar.
“Aduh kak, rempong banget sih. Udah yang biasa aja. Kalo kaya gitu gue yang malah stress dan gak bisa ngerjain gimana?”
“Ssst udah-udah. Gini aja Dis, lu tulis aja yang banyak, nanti gue suruh…” Belum selesai Paras menjelaskan, Adis sudah dapat.
“Gue suruh si Codet yang meriksa. Ada apasih lo Codet lagi-codet lagi. Gue jadi penasaran sama Codet. Tapi gak minat nampung curhatanlo tentang Codet.” Tukas Adis yang berlalu dari meja makan.
“Adis ini serius. Lo ngerjain aja. Kalo lo ngerjain dalam waktu 2 hari, gue kasih duit 100 rebu. Lo tertarik gak?” Tantang Paras.
“Tertarik gue!” Jawab Adis menerima tantangan Paras.

Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 04.45 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Sabtu, 22 Desember 2012
In: Fiksi

11. SEKAR YANG GALAU


Akibat peristiwa semalam, paling tidak pagi ini Sekar merasa tidak enak dan serba canggung terhadap kedua saudaranya. Ingin sekali ia marah, tetapi kepada siapa? Pada Adis? Tetapi bukankah itu wajar kalau Adis memang tidak suka dengan sikapnya yang suka ngatur kaya kondektur?
Ingin sekali ia bertanya kepada Adis tentang masalah yang sedang dirundungnya. Tetapi sifat angkuhnya masih saja merajalela. Apalagi sekarang ia sudah benar-benar yakin bahwa kubu Paras sekarang sudah merapat pada kubu Adis.
Pikirannya semakin lelah. Ketika ia merasa telah ditinggalkan oleh kedua saudaranya. Semua ini terjadi atas kesalahannya yang tidak dapat mengontrol emosi dan kurang peka terhadap adik-adiknya.
Meskipun demikian ia terhalang oleh sulitnya untuk mengakui dan berendah hati sedikit saja kepada mereka. Yang ada ia hanya terdiam dan mengasingkan diri dari lingkungan sekitar.
Bahkan pagi ini ia tidak mengatur-ngatur si Ola seperti biasanya. Ia hanya menyuruh Ola untuk membuat sayur apa saja, lauk apa saja untuk hidangan makan siang dan makan malam, yang penting enak.
Ola pun jadi turut sedih dan bingung. Tetapi di satu sisi hatinya yang lain ia merasakan kegirangan yang luar biasa. Sebab apa? Sepertinya hari ini ada tanda-tanda bahwa hari ini adalah bebas rempong. Ia hanya cengengesan ketika ia menerima uang belanja dari Paras.
Di dalam Jazzy Sekar pun masih mengasingkan diri. Ia tidak berkata apa-apa, tidak bertanya apa-apa kepada kedua saudaranya. Mukanya berat untuk menatap saudaranya, apalagi memaki-maki Adis seperti biasa. Benar-benar berat. Seberat hatinya yang ingin mengakui bahwa dirinya telah bersalah dan ingin meminta maaf kepada kedua saudaranya yang selama ini ia dzalimi. Tetapi mungkinkah?
Lebih dari itu, ia lebih memilih menjadi batu gunung yang tidak ingin berbicara sampai semuanya mau membuka hati. Terutama Adis yang dianggap anak bungsu yang harus mau meminta maaf dan merubah sikap lebih dahulu.
Tetapi nyatanya, Adis malah bersikap biasa saja. Ia semakin nyaman dalam keadaan ini. Apalagi kubu Paras sudah benar-benar melindunginya dari berbagai serangan Sekar. Ia benar-benar santai dan manja pada Paras.
“Kak, lo kenal Dodo gak?”
Sekar semakin cemberut. Ia tahu kalau yang dimaksud “Kak” adalah Paras, bukan dirinya.
“Kak, lo kenal Dodo gak?” Tanyanya mengulangi.
“Dodo mana Dis? Do-do? Do-do mana?” Jawab Paras yang ketika ia sadar kalau yang dimaksud Kak adalah dirinya. Maklum selama ini Paras yang selalu jadi sopir bila mereka bertiga pergi.
“Dodo Hendraman teman pesbuklo. Ini kok nge-invite gue jadi temennya.”
Tapi tahu gak sebenarnya apa yang terjadi? Barusan Adis buka-buka pertemanan dalam akun Paras. Ia berniat melihat-lihat teman-teman Paras. Tetapi ia malah tertarik dengan foto Dodo yang sedang memegang kamera dengan lensa yang besar dan panjang.
“Tau deh. Temen gue di pesbuk kan banyak banget. Gue asal add aja. Gak kenal gak apa. Lagian gue gak pernah aktif, gak pernah update status. Abisnya gue males jawab-jawab komen gitu. Lo tau sendiri kan kerjaan gue banyak banget. Kalo ditambah pesbukan, nanti malah pekerjaan lain terbengkalai. Bisa mampus gue diomelin bos.” Jawab Paras lagi sambil sesekali melirik Sekar yang selalu update status.
Selama ini hanya Sekar dan Adis yang suka pesbukan. Bisa dibilang keduanya orang yang selalu ingin aksis dimanapun mereka berada. Sekar merasa kalau pesbuk akan menambah jaringan kerjanya sebagai staff IT semakin banyak. Ia senang sekali memungut informasi dari page-page manapun. Sedangkan Adis, hal yang paling ia sukai dipesbuk adalah ngerempongin status orang dan up date status yang menarik. Ia senang sekali bila statusnya diberi jempol. Apalagi komen yang setuju dengan statusnya. Dan ia selalu mengeblock dan menghapus orang-orang yang ngerempongin statusnya. Ya namanya juga anak remaja, apalagi yang dirasa menarik selain up date foto narsisnya lalu dibilang cantik.
Namun kali ini lihatlah perasaan Sekar yang dingin sedingin salju di Eropa. Ia benar-benar tak ingin bicara selain ia ingin meminta perhatian saudara-saudaranya terhadap kondisi batinnya yang telah lelah dan nyaris kalah dalam pertempuran yang melelahkan ini.
Ia ingin katakan “Ras, nanti pulang kerja gak usah jemput gue yah, biar gue pulang sendiri aja.” Dan Sekar sudah dapat menerka apa jawaban Paras atas permintaannya.  Paras akan mengatakan paling tidak “kenapa kak? Sakit? Mau diantar ke rumah sakit? Jangan kak nanti gue jemput aja. Jam berapa?” Atau apa yang akan menimbulkan perasaan ibanya terhadap kondisi batin kakaknya.
Tetapi ia ingat kalau disini ada juga Adis yang agak sadis. Ia pasti akan mengatakan “Udah biarin aja orang mau pulang sendiri, kok jadi elu yang rempong.” Atau dia akan bilang “Tau diri juga lo kalau selama ini selalu ngerepotin kita-kita.” Mendengar suara batinnya yang kira-kira jawaban Adis akan seperti itu, maka dia terdiam dan mengurungkan kata-kata itu terlontar.
Daripada menambah keadaan menjadi semangkin rempong, ia memilih kata-kata itu menguap pada hembusan nafasnya yang dalam. Ia pun lebih memilih menyejukkan hatinya yang mulai gerah dengan kedua saudaranya.
Sampai mereka semua berpisah dan Sekar memutuskan untuk menelpon Paras agar tidak menjemputnya. Ia sengaja pulang kerja lebih awal dengan alasan tidak enak badan.
Namun apa yang ia dapat? Paras malah seolah tidak perduli dengan kondisi ruang batinnya yang semakin menyempit. Paras.. Paras.. benar-benar kamu yah sudah kemakan omongan Adis.
Tidak salah juga dengan Adis, tetapi memang nyatanya Sekar memang berwatak yang merugikan. Bukan hanya Adis yang sering kena damprat, tetapi juga Paras yang sudah mengakui hal-hal yang pernah dialaminya akibat perbuatan Sekar yang dianggap mendzalimi dirinya.
***
Tidak ada salahnya bila hari ini ia mulai melakukan muhasabah terhadap beberapa orang terdekat yang sering ia bikin tidak enak hati. Ia membelikan cake pisang untuk teman satu bagiannya. Mereka Nampak heran bila hari ini Sekar mulai banyak senyum dan tidak pasang muka kusut.
Bahkan hari ini Sekar menelpon Ola dan menanyakan apakah benar-benar ia menginginkan hp Android seperti yang dimiliki Kila? Tidak potong gajih alias gratis.
Ola pun mulai merasakan sesuatu yang aneh melalui getaran suara yang ada pada Sekar. Dari nada dan suaranya rupanya ia terlihat begitu tidak danger seperti biasanya.
100% Ola sangat senang dengan keadaan Sekar seperti ini. Tetapi mungkinkah keadaan ini akan bertahan selama-lamanya? Tentu itu adalah sebuah doa yang dipanjatkan oleh orang selugu Ola.
Sampailah HP itu ditangan Ola. Sekar memberikan petunjuk cara penggunaan serta perawatan. Ia Nampak begitu dewasa dan berubah 90 derajat dari biasanya. Benar-benar Sekar yang baik hati.
Iseng-iseng Ola mengerjainya. Ia katakan kenapa tiba-tiba ia merasakan mual dan pusing dikepalanya. Sekar tiba-tiba begitu tanggap terhadapnya.
“Ingin muntah mbak Sekar.”
“Kamu masuk angin kali La, coba minum yang anget-anget. Nih mbak seduhin ramuan masuk angin abis itu kamu istirahat saja. Gak usah diporsir La, kerjaan rumah memang gak ada habisnya.Ya sudah sana kamu istirahat. Mau saya buatkan apa?”
Kedengarannya memang seperti alunan suara dari surga. Kesempatan yang amat teramat langka. Meskipun Ola adalah orang yang lugu, tetapi dalam kesempatan ini, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pergi begitu saja. Ia lantas meneruskan kepura-puraan sakitnya agar ia bisa dilayani oleh Sekar. Tepatnya ia ingin menjadi majikan dan Sekar menjadi pembantunya meski hanya sehari dan dalam koridor tanpa disadari oleh Sekar.
“Tapi gak papa mbak? Saya jadi gak enak sama mbak. Biar gak papa, saya gak sakit kok mbak.”
“Gak papa La, kamu tuh istirahat. Sudah itu saja. Jangan bandel kamu. Kalau kamu sakit…” belum sempat Sekar lanjutkan pembicaraan, Ola sudah dapat menduga arah pembicaraan selanjutnya.
“Aku juga yang repot. Mbak mau ngomong gitu kan?” Terka Ola sambil tertawa puas bila kali ini ia sudah dapat menebak arah pembicaraan majikannya.
“Iya La, kamu istirahat saja. Kamu mau makan apa? Biar aku yang buat.”
“Biasanya kalo sakit sakit aku inginnya makan sate kambing sama tongseng mbak.” Pinta Ola memanfaatkan keadaan.
Sekar berpikir keras bagaimana mendapatkan tongseng yang diinginkan Ola. Lalu ia bertanya lagi, “La, biasanya kamu beli dimana?”
Ola langsung menjawab “Tongseng Pak Kasir di ujung perempatan mbak. Pesen kalau bisa kubisnya agak banyak sama rawit cacahannya. Saya suka itu mbak. Hihihi.”
Ola kegirangan sekali karena bosnya yang paling rempong di rumah menjadi baik sekali. Sekarang ia sudah tidak bĂȘte lagi. Semoga saja mbak Sekar begini terus yah. Begitu harapannya.
Ola langsung meluncur ke kamar. Ia langsung membuka Androinya. Apalagi yang dicari selain aplikasi mp3 dan juga game Angry Bird yang ia sukai.
Membunuh waktu dengan cara nge game memang terasa ampuh sekali. Sampai ia lupa mengingat kalau hp Android ini harus ia umumkan kepada semua rekan-rekan seluruh pembantu rumah tangga yang ada di sekitar rumah kompleks mereka.
Sedang asyik-asyiknya Ola berbicara di telpon, tibalah Sekar yang mendengar percakapan yang begitu menusuk di telinganya.
“Hay iya bo, gue baru dapet hp baru nih dari juragan gue yang paling jutek sedunia. Siapalagi kalau bukan mbak Sekar. Sekarang gue kerjain. Gue suruh beli tongseng dan sate kambing. Gue sekarang lagi pura-pura sakit, biar dia sekalian ngepel, nyetrika, nyuci mobil. Semoga hari ini gue bisa tidur nyenyak ya bo. Ah rempong loh!” Begitu kata Ola yang gak berasa kalau ada Sekar yang sudah pasang muka serem di belakangnya.
Namun karena niat dan tekad bulatnya ia ingin merubah wataknya, maka ia hanya jutek ketika ia memanggil nama “Olaaaa…..” Untung saja tongseng dan sate kambingnya gak dilempar ke muka Ola. Ia hanya pasang muka serem kalau dia bener-bener tidak suka dengan tindakan Ola.
Ola yang sadar melihat pemandangan ini, langsung buru-buru masuk ke kamar dan mengunci kamar. Sampai di dalam kamar, ia menyesali perbuatannya barusan. “Oh my God, oh my God, ternyata gue salah ngomong. Oh tidak-oh tidak, semoga yang gue omongin gak mencak-mencak. Ola takut ya Tuhan. Ola mo makan apa kalau dipecat sama mbak Sekar. Tetap sih makan nasi, tapi kan harus pake duit.” Hikshikshiks, tragis!  



Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 22.42 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Rabu, 19 Desember 2012
In: Fiksi

10. JEBAKAN BETMEN


Guys hari ini si bungsu Adis ngerasa galau berat. Uring-uringan banget tuh anak. Kelihatannya doi lagi ketemu masalah yang benar-benar berat. Entah kenapa yah?
Makan malem ini aja dia gak keluar kamar guys. Sampe Paras ngunjungin kamarnya. Sayang, kelihatannya dia juga males nemuin orang. Tapi memang Paras yang hatinya lebih lembut dibanding Sekar, ia terus berusaha untuk bertemu adiknya dan berbicara 4 mata.
Meskipun Sekar udah gak mau tahu urusan dan selalu menyangka apa yang dilakukan Adis adalah modus belaka, tetapi yang namanya Paras tetap menyangka kalau adiknya itu sedang ketimpa masalah. Sebagai saudara yang lebih tua, ia merasa memiliki kewajiban untuk menolong adiknya.
Paras tetap mau menjadi tong sampah atau vas bunga sebagai wadah penyimpan keluh dan kesah. Apalagi alasannya kalau bukan kasihan  dengan Adis. Dia masih mencari pencarian jati diri. Masih kecil.
Sebaliknya, Sekar malah ngomel-ngomel dan bentak-bentak Adis. “Jangan manja Dis pake gak mau makan segala. Kalo sakit pokoknya gue gak mau dirempongin lo. Kerjaan gue aja udah banyak, kalo ditambah lo sakit, gak bakal gue urusin.” Gitu tuh gaya egoisnya Sekar.
“Huz kakak, jangan gitu. Dia itu adik kita. Kalau ada apa-apa, kita juga yang bakal bertanggungjawab dihadapan papa dan mama.”
“Kita? Lo doang kali sama Ola. Gue enggak.”
“Yaudah terserah. Lo tu memang sakit jiwa ya.”
Mendengar kakak-kakaknya ribut, tangis Adis semakin pecah. Paras semakin salah tingkah. Ya ampyun semakin rempong dah nih keadaan.
Tidak disangka, ternyata Sekar menjadi baik meskipun sedikit pura-pura karena ia penasaran sama Adis. Ia ikut Paras masuk ke kamar Adis.
Apa yang terjadi? Adis yang sok jual mahal malah mengusir Sekar. Hahaha emang enak. “Gue gak mau ya ada orang ngomel-ngomel di kamar gue. Udah lu pada keluar semua. Huwaaaa…” Bentak Adis sambil melempari kakak-kakaknya dengan bantal dan boneka.
Paras yang tidak mudah menyerah malah duduk di kasur Adis. Ia semakin iba melihat Adiknya yang sudah menghabiskan satu kotak tissue.
“Dis ini namanya pemborosan dan ngerusak lingkungan. Pake selampe mao gak?” Tawar Paras yang sama sekali belum mengerti kalau ini adalah gaya orang menangis yang telah didramatisir.
Adis masih menangis. Nampaknya memang ia sedang memperjuangkan sesuatu di balik wajahnya yang lugu dan unyu.
“Biarin aja gue sendiri. Kalau pun gue mati pun gue mati sendiri. Gue itu jauh dari orang tua, gak punya kakak, gak punya siapa-siapa, dan memang lebih baik gue gak ada dari kehidupan kalian.”
“Adis jangan gitu. Gue ini kakaklu yang selalu ada untuk elu.”
Hups rupanya Paras benar-benar gak pernah tau kalau dia sedang terperangkap jeratan modusnya Adis. Tetapi tipuan ini begitu halus sampai-sampai Paras pun tidak pernah menyadari kalau kali ini Adis akan meremponginya dengan kerjaan rempong yang rempong serempong-rempongnya.
Adis masih menjual tangisannya. Seolah ia adalah makhluk yang paling gak pernah berarti di dunia. Ia seolah orang yang paling terpuruk diantara orang yang terpuruk. Ia adalah orang yang nasibnya selalu dirundung malang.
“Dis, Adis kamu punya masalah apa? Cepet ngomong dong sama kakak. Jangan pernah biarin masalah itu semakin parah. Masih ada kakak Dis. Adis pengin sesuatu? Gak punya uang? Pengin apa? Kangen mama papa? Ayo dong Dis cerita?” Rayu Paras.
Sedikit demi sedikit mata kail Adis sudah tergigit oleh Paras. Tinggal menunggu kelihaian Adis memancing hati Paras yang begitu tidak tegaan.
“Kakak bakal ngelakuin apa yang Adis butuhin. Sebab kamu itu adalah adik kakak satu-satunya. Apa artinya seorang kakak kalau gak bisa ngebantu adiknya sendiri? Temen-temen kakak aja kakak bantu, masak kamu gak kakak bantu?
Huwaaaaa bener-bener ketangkep deh Paras. Tetapi bagaimana Adis mengambil emas murni itu tanpa si pemilik tahu? Emas murni yang dimaksud adalah pertolongan, maksud dan tujuan yang benar-benar hendak ingin ia capai. Harapan besarnya, si Paras dapat menolong Adis tanpa sedikitpun Paras merasa diberatkan. Apalagi sampai ada embel-embel dimanfaatkan. Buang deh jauh-jauh ke laut ganas.
Nah si Adis yang merasa mata kailnya sudah mendapat mangsa yang tepat, ia sudah muali nangis-nangis Bombay untuk sedikit lebih menderamatisir keadaan. Padahal hatinya bahagia berlipat-lipat melihat buruannya sudah masuk perangkap.
“Kak, gue kok ngerasa ketinggalan banget sama kalian berdua. Gue ini goblok kak. Bodoh! IQ gue jogkok. Susah bangun. Gue mungkin gak sepinter kak Sekar juga elu. Makanya kadang disuruh-suruh melulu sama kak Sekar. Bahkan gue sering banget gue ngerasa harga diri gue diinjek-injek sebagai manusia. Lu sering liatkan apa yang kak Sekar lakuin terhadap gue?”
Hem, rupanya Adis sudah mulai memelintir keadaan. Dengan tujuan agar ia menjadi obyek penderita yang paling menderita semenderita-menderitanya orang di dunia. Paraspun tercengang melihat penderitaan adiknya yang begitu dahsyat.
“Jujur kak gue tersiksa. Gue ngerasa gak ada semangat lagi untuk hidup. Lu masih bisa ngeliat gue tertawa, ceria, padahal kak hati gue hancur, remuknya bukan main. Gue rasa hidup ini gak adil. Apalagi mama dan papa yang selalu membanding-bandingkan kak Sekar, elu and gue. Rasanya gue gak ada apa-apanya kak. Gue gak punya harapan apa-apalagi untuk hidup di dunia. Tragis banget kan kak.”
Paras yang sama sekali gak tahu kalau Adis sedang mendapat tugas dari sekolah. Ia masih lugu dan polos tidak mengerti akan dibawa kemana arah pembicaraannya. Ia ingin bertanya tentang kejadian beberapa waktu lalu ketika pengajian RT digelar. Ya sewaktu Adis telat mengambil pesanan catering dan hendak dibentak-bentak oleh Sekar. Tetapi Paras masih ragu apakah hal itu yang membuat kecewa Adis bertambah parah? Sampai segitunya kah Adis sakit hati terhadap kakaknya yang sudah tau pércis wataknya Sekar seperti apa?
“Kak gue ngerasa selalu jadi bulan-bulanannya kak Sekar. Gue gak terima kak. Lu liat kan egoisnya dia barusan kaya apa? Bahkan dia gak mau urusan kalau gue sakit atau kenapa-napa.”
“Paham Dis gue kira ada masalah apalagi anatar lu sama kak Sekar. Kalau masalah itu jangankan elu, gue juga sering kena. Udah kenyang gue dengan perlakuan Sekar. Yaudah lu sabar aja, jangan masukin hati. Kan semua pasti berlalu. Gue pengin ada momentum atau peristiwa yang bikin tu bocah sadar atas kelakuannya yang sering mengabaikan adanya orang lain disekitarnya. Cuma masalahnya kapan, gue juga gak tau.”
“Ternyata masalah itu cukup mengganggu semangat belajar gue kak. Gue selalu merasa tertinggal dari kalian dan gue pasti bakal diinjek-injek terus sama kak Sekar. Semakin gak berasa dia ngelakuin sesuatu yang bikin adiknya jatuh mental. Gue jadi males sekolah kak.” Bela Adis yang sebenarnya memang malas ngerjain tugas sekolah.
“Sampe segitunya Dis? Jangan dong Dis. Lu harus punya semangat juang untuk sekolah Dis sampai kapanpun. Gue waktu sekolah selalu diinjek-injek sama Sekar. Apalagi gue sama dia cuma beda setahun. Itu artinya setiap bagi rapot selalu barengan. Dan selalu sadis orang-orang ngebandingin gue sama Sekar. Tapi gue sama sekali gak perduli dengan apa yang terjadi. Gue tetap berangkat sekolah. Gue tetep kejar prestasi, meskipun gue memang merasa tertinggal dari Sekar. Tapi nyatanya? Hidup ini let it flow begitu saja. Yang kuat pasti yang akan jadi juaranya. Dan akhirnya terbukti sekarang. Meskipun gue anak jurusan Bahasa yang selalu direndahkan banyak orang, dan dia anak IPA waktu SMA, sekarang yang kerjanya paling enak dan gajihnya paling gede siapa? Gue kan? Gue gak akan pernah nyombong tentang hal ini. Tenang aja Dis, gue tahu perasaanlu kaya apa. Gue dah kenyang Dis diinjek-injek orang. Dan Alhamdulillahnya gue gak mati sampe sekarang. Gue masih tetap bertahan menjadi manusia apa adanya gue.” Terang Paras panjang lebar.
Sayangnya, sebenarnya sejak Paras berbicara hal ini, Adis telah menutup telinga serapat-rapatnya. Sebab dia sudah hafal juga kalau Paras akan membahas hal ini. Ia akan merasa teraniaya lalu merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia berkat kerja keras, kesabaran dan juga kecantikannya. Karenanya ia selalu mendapat kejutan-kejutan dari Tuhan yang tidak terduga. Dan itu adalah jalan yang tidak dapat oranglain lalui selain Paras is the Princes.
“Iya ya kak gue jadi bersemangat menjalani hidup. Karena gue yakin ada Tuhan yang selalu menjaga kita.”
“Tepat sekali adikku yang manis. Gue juga ngerasa selalu ada Tuhan yang melimpahkan rahmatnya kepada gue yang tidak putus-putus. Gue sangat bersyukur atas semua itu.” Begitu penjelasan lugu Paras yang tidak tahu ia telah benar-benar tidak berkutik setelah Adis menarik kailnya secara perlahan.
“Kak gue jadi bersemangat ngerjain tugas sekolah gue. Gue punya tugas sekolah kak. Gue disuruh buat karya ilmiah tentang apa saja. Bagi gue sih susah banget karena gue gak pernah buat karya ilmiah. Makanya gue tadi sedih juga dan sempet gak semangat ngerjain itu. Tapi…” Sengaja Adis menggantung cerita.
“Tapia pa Dis?” Paras menjadi penasaran.
“Lu mau gue bantuin lo?” Tawarnya lagi.
“Enggak, enggak kak. Gue Cuma gak enak aja, lu kan kerja dan pasti capek berat.”
“Gak papa Dis sini gue bantu. Gue bisa nyuruh bawahan gue di kantor, ato malah gue suruh si Codet orang yang selalu ngeselin di kantor. Tapi otaknya encer dan selalu mau apa yang gue perintah. Maklum gue bosnya.” Paksa Paras.
Dalam hati Adis merasa benar-benar bahagia karena buruan ini sudah langsung jinak dan menuruti dengan segala keinginannya tanpa pemberontakan sebelumnya.
“Yaudah kak kalau lo bersedia tengkyu banget yah dah mau nolong gue. Banyak banget manfaatnya. Lo juga dah ngasih inspirasi gue, ngasi motivasi gue, dan lu emang kakak yang baik dan patut menjadi teladan. Enggak kayak kakak gue yang satu lagi yang songong itu. Ngakunya selalu juara kelas, tapi dimintain bantuan malah rempong gak jelas. Huf kakak, semoga kakak selalu diberikan rejeki yang banyak karena kakak udah nolong orang yang kesusahan.”
“Ya itu gunanya saudara Dis. Nanti juga saatnya gue kesusahan sama siapa lagi gue minta bantuan selain sama saudara. Yaudah tidur gih yang nyenyak. Lu tinggal kirim email ke gue, biar langsung gue suruh anak buah gue ngerjain. Met bobo Adis.”
Begitu Paras keluar dari kamar Adis, ternyata ada Sekar yang sedang menunggunya. Ia juga bener-bener kepingin tahu apa yang dialami Adis. Apakah ia benar frustasi di sekolah atau karena “hal lain”?
“Kenapa Ras kenapa?”
“Kak, kamu aku kasih tau ya. Kamu tuh jangan nginjek Adis terus. Dia itu gak mau ditekan sama kamu. Kamu yang selalu merasa superior injak sana injak sini, merasa paling berkuasa bikin Adis tambah stress mikirin kamu.”
“Yey stress kenapa?” Tanya Sekar ketakutan campur khawatir.
“Pake Tanya lagi. Iya, kamu dah cukup bikin aku jatuh mental. Sekarang kamu press potensi Adis seolah-olah dia gak bisa berkembang. Dan hanya kamu anak mama papa yang cerdas. Kita semua gak ada apa-apanya dibanding kamu. Puas kamu sekarang!” Bentak Paras semakin tidak menjelaskan pointnya marah.
“Gak ngerti Ras. Gue kan marahin dia karena memang dia salah. Bukan karena dia onse ato apalah. Tapi kok gue jadi malah bingung sama kalian.”
“Ya itu karena kamu terlalu egois dan gak pernah peka dengan perasaan orang lain.” Pungkas Paras sambil berlalu ke kamarnya.
Sedang Adis sekarang lompat-lompat kegirangan. Ia tahu bagaimana ia bersikap selanjutnya kepada Sekar dan Paras. Sebab control senjata mereka telah ada pada Adis. Adis bisa saja memencet tombol itu bila ia tidak suka dengan Sekar. Tanpa ia sadari perbuatan mengadu domba akan buruk akibatnya.   


Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 05.29 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

9. BIKIN KEKI


Menjelang sore, Sekar, Paras, Adis, Kila, dan Ola semakin rusuh beberapa derajat. Ola masih sibuk mengepel lantai dengan teliti sebagaima instruksi Sekar. Sedang Paras, Kila, dan Dimas sedang sibuk-sibuknya memindah-mindahkan barang sejenis sofa, bufet, almari dengan tujuan agar ruang tamu yang akan digunakan sebagai tempat pengajian dapat menampung orang lebih banyak dan terlihat lebih lapang.
Sementara Adis masih berjuang secara jiwa dan raga melawan kemacetan Jakarta dalam misi mengambil catering. Sedang Sekar masih sangat sibuk ngomelin Adis. Berkali-kali telponnya dihubungi, malah gak diangkat Adis. Adispun faham bila telpon diangkat, itu artinya kupingnya harus siap mendengar caci maki Paras.
"Hah panggilan nenek rempong bikin rusuh di jalan. Udah macet bikin stress, panggilan si rempong bikin gak tenang, hadeuh-hadeuh!" Adis mematikan ponselnya. Ia merasa sudah cukup faham dengan apa yang akan terjadi.
Waktu pun berlalu. Hingga maghrib pun datang. Setelah menunaikan sholat maghrib secara berjamaah dan juga tilawah, kondisi rumah sudah nampak begitu rapih bersih. Seolah sudah siap menyambut tamu-tamu pengajian. Meski hanya dengan beberapa piring kue bolu, kue pastel, kue lapis, semangka, melon, jeruk, anggur, apel, dan juga kelengkeng.
Tentu yang menjadi masalah sekarang adalah nasi kotak dan snack kotak yang dibawa Adis yang belum juga terlihat batang hidungnya. Kemana si Adis? Kebayang kan bagaimana paniknya Sekar.
Kalau diantara mereka tanpa Adis, orang yang paling menjadi gombal keganasan Sekar adalah Ola. Ya, Ola yang rada kurang sensi terhadap sebuah situasi kondisi dan juga keadaan. Ia malah duduk mainin game aplikasi angry bird yang ada di hp android milik Kila. Tepat sekali, Sekar malah ngamuk-ngamuk.
"Ola kamu tahu gak aku ini sedang panik, kamu tuh malah asyik-asyik ngegame tanpa perduli orang lain. Kamu tuh gak tahu apa kalau si Adis belum juga nyampe. Bukan masalah Adisnya. Adisnya mau pergi kemana, saya gak perduli. Tapi ini masalah nasi kotak dan snacknya. Bagaimana kalau gak nyampe sini tepat waktu? Bagaimana kalau ibu rempong itu bikin masalah bila dia tahu kelemahan kita? Ini sebuah bencana buat kita.” Cecar Sekar.
Ola hanya terdiam tertunduk lalu mematikan game dan mengembalikan hp itu pada Kila.
"Ya kalau kamu juga udah tau kamu harusnya panik juga dong kaya saya." Lanjut Sekar.
"Baik non saya panik."
Tahu kan sejak tengsin shawl obralan, Paras terkesan menghidari Kila. Sengaja mandinya dilama-lamain. Tadi waktu angkat-angkat barang, ia seolah lebih dekat pada Dimas dibanding dengan Kila. Padahal Dimas itu kan abangnya Kila. (Hihihi kalau pedekate harusnya deketin adiknya dulu dong, baru abangnya).
Bila memotong dan menata kue, ia sengaja mencari tempat yang berjauhan. Paling tidak ada jaraknya sehingga Kila sulit membuka komunikasi padanya. Bahkan saat ini, Kila sedang membuka-buka majalah, Paras malah asyik menyiram tanaman. Ups penting gak sih!
"Tapi non paniknya bagaimana?" Tanya Ola.
" Emang panik kamu biasanya gimana si Ol?"
"Guling-guling!" Dengan seketika Ola berguling di atas karpet sambil nangis.
"Udah Ola, kamu tuh onse banget sih jadi orang. Panik tuh panik aja gak usah pake guling-guling apalagi pake modus nangis segala. Bikin bĂȘte aja nih orang." Bentak Sekar.
"Kar, lagipula lo tuh yang rempong, masa lu yang panik kita semua harus ikut panik." Selang Kila sambil membuka-buka majalah mode milik Paras.
"Gimana gue gak panik coba Kila??? Adik gue yang rada keras kepala itu gak bisa denger perintah gue. Ini akibatnya. Kita semua jadi rempong dibuatnya. Maksud gue Kila, dia itu ngambil makanan dari siang-siang biar gak macet. Nah ini buktinya sekarang kejadian kaya gini. Makanan gak stand by. Dia juga gak ada. Gue harus bilang apa coba?"
"Yaampun Sekar udah kejadian kaya gini mau gimana lagi? Percuma lu teriak-teriak gak akan ngebalikin keadaan menjadi baik. Yang ada juga lu tuh malah jadi sinting."
"Tau deh stress tingkat menara nih gue ngadepin kaya ginian.” 
Ola masih memojok sesenggukan, menangis ketakutan.
"Itu juga pembelajaran buat Adis biar gak nyepelehin waktu dan juga orang lain. Meskipun gue itu memang cerewet dan rada bawel tetap memiliki nilai positif. Ingin semua keadaan teratur, terencana. Gak grabak-grubuk kaya gini. Tuh anak emang perlu dihajar." Sekar belum puas mengocehnya.
Paras yang sudah bosan mendengar omelan kakaknya, malah memasang headset mendengarkan musik sambil menyiram tanaman. Sungguh ia tidak mau dengar apa yang terjadi dan tidak ingin dilibatkan apapun lagi yang berbau rempong. 
 "Ola udah dong jangan nangis, gue kan gak sengaja ngebentak lo. Abis lu gak peka banget jadi manusia. Harusnya lo gak ngegame. Tapi lo beresin apa kek gitu."
"Kan-udah-beres-semua non. Lagipula hp yang ada Angry Birdnya dan yang bisa dipinjemin kan cuma punya non Kila. Jadinya ini kesempatan baik buat Ola."
"Iya, maafin gue ya. Nanti gue beliin deh hp yang kaya gitu. Tapi asal lo jangan nelantarin pekerjaan rumah demi ngegame yah. Kalo gak gue masukin kulkas lo."
"Makasih non. Ola emang pengen banget hp kaya gitu."
Din.. Din.. Si Jazzy yang dikendarai Adis minta dibukain pintu. Adis terlihat pasrah dan sudah pasang dinding yang paling tebal untuk menghadapi serangan cacian dan makian dari kakak-kakaknya. Ia tampak begitu kucal dan tidak bergairah untuk mengadakan perlawanan. 
Paras menyambut Adis dengan tidak mau membahas hal-hal yang tidak penting. Yang terpenting adalah membawa nasi kotak ke dalam rumah.
Melihat Sekar yang sebentar lagi akan mendamprat Adis, Paraspun berusaha meredam peperangan.
"Udah kak waktunya juga dah mepet. Kalau mau marah, tunggu 3 hari lagi. Kita semua capek. Dan gak ada gunanya kamu marah kaya apa. Toh udah dateng semuanya." Cegah Paras.
Sekar hanya terdiam. Adis masuk kamar mandi, sholat, dan menyiapkan diri karena sebentar lagi pengajian akan dilaksanakan.
Satu persatu tamu pengajian sudah datang. Tetapi sampai pukul 8 malam, yang datang hanya 7 orang. Mereka adalah Pak Ustadz, Pak RT, 2 ibu-ibu, 2 anak muda, dan 1 anak kecil. 3 dara plus Kila dan Ola pun sedikit kecewa. Seolah perjuangan mereka untuk menyiapkan segalanya menjadi sia-sia. Termasuk juga pupusnya harapan bertemu dengan Ibu Suk yang selama ini berada diantara penasaran dan rasa takut yang berlebihan.
Pak RT membuka acara pengajian.
"Jamaah yang telah datang, terima kasih kehadiran jamah pada kediaman adik-adik kita yang cute-cute ini pada pengajian bulanan RT. Mungkin kita semua telah mengenal mereka secara kasat mata, tetapi belum secara dekat. Tetapi Alhamdulillah kita sudah sampai di sini untuk berkenalan dan mencicipi hidangan yang nampaknya lezat... bla-bla-bla."
"Gila ya RT lo ngadain pengajian cuma buat nyari gegaresan." Bisik Kila pada Sekar sambil menutup mulut mereka pakai kipas Jepang.
“Gue dah laper nih, dari tadi sore belum makan.” Lanjut Kila.
"Sama, gue juga laper. Gak tau gue mesti ngomong apa? Kalo ini yang terjadi, gak bakal gue siapin semuanya seheboh dan serempong ini."
"Baiklah adik-adik perkenalkan diri kalian masing-masing!" Pinta Pak RT secara mengejutkan.  
"Maaf Pak RT kapan ya pengajian dimulai? Masalahnya waktu sudah hampir malam dan besok kami semua kerja dan sekolah. Bila hanya ingin berkenalan, bisa dilakukan dalam forum lain." Pinta Sekar sambil membayangkan nasi kotak dan kue yang besok pagi akan menjadi basi, terbuang sia-sia padahal perutnya saat ini sedang meronta-ronta minta diisi.
"Iya, tetapi alangkah lebih baiknya kita berkenalan sebelumnya sebelum acara pengajian dimulai." Jawab Pak RT.
3 Dara plus Kila dan Ola hanya menyeritkan alis dan menelan kecewa serta lapar yang berkepanjangan. 
"Pak RT dan Jamaah sekalian, apa jumlah anggota pengajian hanya segini?" Paras tiba-tiba bersuara.
"Oh banyak. Nanti juga akan dateng dengan sendirinya. Mungkin mereka ada kesibukan lain juga. Jadinya sesempatnya mereka datang." Jawab Pak RT.
Pak Ustadz yang sejak tadi mupeng pengin diajak ngomong pun angkat bicara.
"Begini, sepertinya saya tidak asing dengan wajah-wajah kalian ini dimana ya? Apa kita sering ketemu?"
Mereka semua menggelengkan kepala.
"Ohya di televisi. Itu yang setiap acara setiap imsak itu. Saya baru ingat." Pak Ustadz dengan modus.
Mereka semua menggelengkan kepala. Mereka semakin sebal, kesal dan geram.
"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak RT, Pak Ustadz dan jamaah, kami ingin pengajian segera dimulai. Sebab kami sebagai tuan rumah memiliki agenda lain selain pengajian ini. Apabila pengajian tidak segera dimulai, dengan berat hati kami persilahkan jamaah untuk meninggalkan rumah ini. Terima kasih." Kata Paras sambil hati yang remuk redam dan perut keroncongan.
Rupanya hal itu begitu membangunkan pengertian Pak Ustadz yang segera memulai acara dan membacakan ayat suci Al Quran lalu menutup pengajian. Ketika hendak membagikan hidangan, apa yang terjadi saudara? Satu persatu jamaah pengajian yang belum hadir tiba-tiba hadir. 
Setiap jamaah yang datang dan mendapat nasi kotak dan snack kotak selalu mengatakan, maaf tadi ketiduran. Hingga datang seorang anak perempuan yang dikenal sebagai anak gadis ibu Suk, juga mengatakan, maaf tadi ketiduran.
Sampai semua hidangan habis dan tersisa hanya tinggal kelengkeng sepiring tanpa teman. Tenaga mereka telah terkuras habis. Sementara Ola yang tadinya begitu lesu, kini berinisiatif untuk memesan makanan dengan pesan antar. Acara pengajian begitu sukses digelar. Akankah mereka akan trauma mengenali warga yang banyak maunya?


Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 01.26 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Selasa, 18 Desember 2012
In: Fiksi

8. PERUSUH KECIL


Datanglah hari kamis yang mereka nanti-nantikan. Mereka memiliki harapan besar terhadap suksesnya acara pengajian malam nanti. Tentu nanti malam adalah acara pengajian yang diselenggarakan ditingkat RT. Siapa tahu mereka akan dapat mengenali dan membuka topeng siapa Ibu Suk sebenarnya. Apa motif Ibu Suk untuk memusuhi mereka?
Mudah-mudahan ketidaksukaan itu segera berakhir dan tidak berlarut-larut. Tentu saja tidak melupakan tema utama yaitu suksesnya acara pengajian.
Paras dan Sekar meminta ijin kerja setengah hari. Sedang Adis harusnya sudah harus siap-siap stand by di rumah mengambil catering dan mengkoordinator semuanya.
Dasarnya Adis yang suka lelet, ia malah ijin sekolah tetapi malah ketiduran di rumah. Bisa dibayangkan kegaduhan apa yang bakal terjadi. 
Akhirnya mereka meminta bantuan Sakila, teman kantor Paras untuk menemani mereka menghadapi Ibusuk yang takutnya akan terjadi apa-apa. Tentu saja Sakila diminta membawa kakaknya, Dimas untuk menemani mereka.
Mereka sudah sangat ketakutan bila nanti Ibu Suk mengamuk di dalam pengajian itu. Atau apalah yang terjadi akibat ketidaksukaan Ibu Suk terhadap mereka.
Hari sudah semakin sore. Melihat Adis yang lelet kerjanya, langsung saja didamprat oleh Sekar. "Dis, kamu tuh ya bukan malah cepet ngambil catering eh malah santai-santai."
"Yaelah kak, masih siang. Nanti kalau udah siap semuanya pasti di call deh sama catringnya."
"Iya tapi kerjaan tambah banyak. Tuh mobil gak cuma dipake buat ngambil catering. Tapi juga beli tambahan kue, buah, plastik, piring-piring. Gak ada istilah santai-santai."
"Ciye yang gak santai. Udah gak tahan ya kepengen ketemu bu Suk?" Ledeknya.
"Adissssss!!!!!" 
Sakila datang dengan shawl yang mirip percis yang dibeli oleh Paras. Warna, corak, ukuran, pokoknya sama percis. Adis yang usil langsung membahas.
“Kak Kila, dapet shawl juga ya dari bosnya?” Tanya Adis Tanpa ia sadari Paras yang ada di tempat itu sudah mulai tersinggung setengah mati. Mukanya merah padam. Telinganya sedikit panas.
“Bos apaan orang ini mah belinya diobralan.”
“Kok bisa sama percis sama shawl yang dibawa kak Paras tempo hari yang dari bosnya?”
Paras menunduk dan pura-pura tidak mendengar percakapan ini. Ingin rasanya ia jejali mulut Adis dengan cabe karena hal yang sepeleh saja harus dibahas. Tetapi apa salah Adis? Adis hanya bertanya berdasarkan apa yang ia terima dari Paras kalau mereka itu adalah hadiah dari bosnya yang baru pulang dari luar negeri.
"Adis udah deh kamu tuh disuruh kak Sekar ngapain?"
“Ras, bos yang mana? Bos kita kan pada pelitnya naudzubillahi min dzalik?” Tanya Sakila yang semakin reseh. Sebenarnya ia sudah sedikit mengerti dengan watak Paras yang selalu ingin dikatakan diberikan orang lain dan dianggap istimewa oleh orang-orang tertentu dengan hadiah dan barang-barang gratisan yang mahal-mahal.
“Bos kenalan gue yang di kafe. Lu pasti gak kenal.”
“Siapa Ras pasti gue kenal. Temenlu kan sedikit banyaknya temen gua juga.” Selidik Sakila.
“Yaelah Kila percuma gue bahas. Sampe mulut gue berbuih-buih lu pasti gak bakal kenal deh. Lu kenal gak atase perdagangan luar negeri yang sekarang dinasnya di Korea, rumahnya di Tanggerang, rumah anaknya di Lipo, dan gue kenal sahabatnya temen SMA gue waktu gue SMA di Bandung? Nah itu yang ngasih gue hadiah.” Paras benar-benar merasa terpojok. 
Untunglah Sekar segera datang meminta Paras membeli beberapa buah segar yang dipotong, juga jeruk, anggur, apel, dan juga klengkeng.  Seketika Paras langsung pergi meninggalkan Kila.
“Tapi Ras, kalo lo dikasih lagi, gue minta yah. Soalnya gue udah kenyang nih make barang yang obral-obral melulu. Pengen juga sih yang kaya lu selalu dapat yang gretongan dari kolega lu dari luar negeri lagi.” Teriak Kila setengah agar terdengar oleh Paras yang sudah menjauh.
Paras hanya cemberut. “Ah rempong deh lu pake nanya-nanya kaya ginian.”

Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 08.12 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

7. BIKIN CLOUDY


Sudah jauh-jauh hari Sekar, Paras dan Adis sepakat untuk menggunakan catering untuk jamuan pengajian. Selain sangat praktis, juga sangat membantu mereka yang selalu dirundung kerempongan dalam berbagai hal. Termasuk juga keterasingan untuk menyiapkan makanan yang lezat dan enak.
Mereka sudah koordinasi sama Pak RT tentang Ustadz, dan juga berapa jumlah jamaah yang akan datang dan ikut pengajian. Mereka juga tanya-tanya kenapa mereka baru tahu kalau di komplek ini ada pengajian padahal mereka kan sudah hampir 2 tahun tinggal di sini dan belum pernah ada pemberitahuan tentang pengajian.
Mereka juga butuh bergaul dengan orang-orang sekitar. Selama ini mereka tidak pernah tau ada kegiatan apa saja yang ada di lingkungan sekitar. Siapa tetanggan mereka dan kesannya kompleks perumahan mereka selalu senyap tidak ada kontak antar warga.
Pak RT juga bingung kenapa mereka bertiga tidak pernah muncul kalau ada kegiatan di RT. Padahal mereka selalu diundang.
“Mungkinkah ada sabotase?” Tanya Sekar sebagaimana pertanyaan Adis tadi pagi.
“Sa-bo-tase??? Tidak mungkin non di sini ada sabotase. Maling aja masuk sini langsung pulang tinggal nama. Apalagi teroris, sabotase, mana mungkin berani masuk sini. Sebab di sini ada jagoan. Ibu Sukarti yang biasa dipanggil Ibu Suk. Mereka, para teroris, sabotase akan takut kalang kabut lari tunggang langgang ketika nama itu disebut.”
Mereka bertiga hanya mampu saling menatap. Merasa sedikit menyesal menanyakan tentang sabotase.
“Nah Ibu Suk itu orangnya sangat jahaaaaaattttt sekali. Meskipun saya RT, saya tidak berani sama dia. Apalagi sampai sabotase masuk ke RT sini. Sudah leyaplah ia sebelum waktunya. Ibu Suklah yang selama ini mengurus tentang pengajian, arisan, kerja bakti, dan hal lain. Sedang saya selalu diatur-atur olehnya. Sedihnya nasib saya.” Kata Pak RT sambil menghayati kepedihannya.
Tetapi tiba-tiba Pak RT mengingat tentang satu hal :
“Saya yakin kenapa undangan itu tidak pernah disampaikan?” Katanya mantap.
“Kenapa Pak?” Kata ketiga dara kompak dengan tatapan mata penuh tanya.
“Hmmm… tepat sekali. Bukan karena sabotase atau karena teroris atau karena hal lain. Tetapi karena Ibusuk tidak suka dengan kalian.”
“Tidak suka??? Kenal aja enggakkkk!” Jawab ketiganya kompak.
“Iya, tapi Ibu Suk kenal kalian. Kalian adalah para gadis-gadis yang cantik-cantik dan manis-manis dan modis-modis pujaan hati para pemuda kompleks ini.”
“Ups keceplosan. Jangan bilang-bilang ya non, kalau tentang ini dari saya. Sumpah non jangan! Bisa digantung hidup-hidup saya. Saya hanya pemimpin yang berupaya sekuat tenaga ingin para warga netral saja tidak memihak. Tidak membuat keributan.” Pak RT memohon sambil memelas ketakutan.
Mereka bertiga semakin bingung apa yang terjadi. Para warga telah mengenal mereka, tetapi kok mereka gak kenal warga? Memangnya mereka siapa? Kan bukan siapa-siapa? Mereka hanya bertanya siapa Ibu Suk sebenarnya. Mau apa ia terhadap mereka?
“Kalian adalah bunga komplek sini. Sejak kedatangan kalian komplek ini semakin berwarna. Hanya Ibu Suk yang tidak suka. Kalau Ibu Suk tidak suka. Jangan pernah berharap hidup dapat tenang.”
Mereka semakin garuk-garuk kepala dan bingung. Sambil membatin, apa yang tidak tenang. Toh selama ini mereka hidup tenang-tenang saja, stabil, tidak ada gelombang apapun yang meruntuhkan benteng kehidupan mereka. Kecuali setelah mendengar nama Ibu Suk yang ternyata telah memusuhi mereka secara berjamaah.
“Ini ciyusan Pak?” Tanya Sekar.
“Nelan. Engga oong-oong.”
Aduh ni RT semakin bikin cloudy, bikin gemuruh suara hati. Lebih tepatnya membuat hati menjadi was-was.
“Jangan takut non, pemilihan RT mendatang, ia akan ikut menjadi bakal calon ketua RT. Jadi non sekalian bisa memilih RT yang sesungguhnya. Bukan saya lagi yang cuma oong-oongan.”
Mereka bertiga pulang dengan wajah yang ditekuk semua. Bingung memikirkan bagaimana nasib mereka ke depannya.

Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 07.59 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog