Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Minggu, 23 Desember 2012
In: Fiksi

12. KENA BATUNYA


Ini hari kedua Sekar bermuka kaku. Saudara-saudaranya mulai kerasa dengan keterasingannya. Ada yang aneh, ada yang kurang, ada yang hambar pada hari-hari mereka. Sebab apa? Sebab mereka adalah tumpah darah yang satu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia.
Hari ini mereka tetap berangkat bersama-sama dari rumah. Meski canggungberada dalam satu mobil tetapi tidak saling sapa dan usil kayanya nyebelin. Sekar punya pikiran untuk membawa mobil sendiri. Paras dan Adis pun demikian. Biar mereka berangkat sendiri-sendiri dan tidak saling menyapa juga tidak apa-apa.
Hari terus berlalu. Hingga sore itu mereka kumpul kembali. Kejadian di rumah rempong ramai kembali. Ketika Adis yang pulang ke rumah dalam keadaan menangis dengan tragis.
Ia mulai mengadu pada Paras,
“Kakak gua harus ngulang karya ilmiah gue. Pasalanya gue dituduh penjiplak dan gue harus ngebuktiin semua teori yang ada dalam tulisan yang temenlu buat. Gue mana mampu!!! Sebab bahasanya ilmiah semua.”
“Lah terus waktu presentasi lu gimana?”
“Gue gak bisa menerangkan bagaimana teori yang sesungguhnya. Kenapa begini? Kenapa begitu? Bahkan guru gue mensyinyalir karya ilmiah gue adalah…”
“Adalah apa Dis?” Tanya Sekar yang sudah mulai ingin tahu apa yang yang diduganya akan terjadi.
“Mao tau aja loh!” Jawab Adis secara sadis.
“Iya, karya ilmiah lo kenapa Dis?” Tanya Paras.
“Plagiat”
“Hah pla-gy-yat?” Kakak-kakaknya kaget semua.
“Kok bisa?” Paras heran karena si Codet bilang itu sudah sempurna.
“Iya hasil copy paste dari blog guru gue semua dan parahnya di situ gak disebutin sumbernya. Huwaaaaa….” Adis menangis dengan deras.
“Codet..ttt berani bokis lo ya sama gue.” Geram Paras.
“Syukur, apa yang gue bilang. Makanya Ras, anak kaya gini emang disuruh untuk mandiri. Jangan apa-apa dijejali. Yang terjadi ya kaya gini, malu-maluin aja jadinya. Gue ucapin sekali lagi, selamat ya lu dah jerumusin Adis menjadi seorang plagiat.” Begitu jawab Sekar yang sudah mulai tahu kalau ia diadu domba oleh Adis.
Paras menghela nafas panjang.
“Yaudah Dis, emang sebaiknya lu ngerjain ilmiah itu sendiri aja. Lagian lu dah harus pandai ngebagi waktu kapan lu main, kapan lu belajar. Ya harus diatur dengan baik. Kalo lu gak bisa ngatur, lu yang bakal diatur-atur terus sama waktu. pedihnya ya, kalo lu gak bisa ngatur waktu, lo bakal tertinggal sama temen-temenlo yang selevel. Lo bakal ditinggalin dan bakal dijauhin dari mereka. Dan lo sangat iri dengan keadaan ini. Lalu lo menyalahkan takdir. Padahal semua ini terjadi karena elo telah menyia-nyiakan waktu.” Tegur Paras.
“Ya selama ini gue emang gak cocok dengan gaya kak Sekar yang cenderung ekstrim dan disiplin terhadap waktu. Karena waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita.” Lanjut Paras lagi yang sangat kecewa membela Adis yang telah menyia-nyiakan pembelaannya.
“Lain kali Ras kalo lo mau menolong Adis, sudah seharusnya lo ngasih kail, bukan ngasih ikan. Lagian kalo dikasih ikan, apalagi ikan tuna, anak kek gini gak bisa makan tuna.”
Sekar mulai mesem-mesem gak jelas. Sekarang dia benar-benar tahu kalau memang semua ini terjadi karena desakan Adis yang agak sadis sporadis. Sedang Adis sewot sendirian. Tetapi hatinya sudah mulai mengakui bahwa dirinya bersalah. Dan dia akan merubah sikapnya. Ia harus lebih bertanggungjawab atas dirinya.
Sebagai kakak yang sekarang sudah baikan, Sekar dan Paras tidak mempermasalahkan adik bungsunya. Mereka semua merangkul dan mengajak Adis untuk lebih bersikap dewasa.
“Dis gue mao kok bantu lo melakukan penelitian. Gue akan nyediain buku-buku sains dan tentunya lo yang harus nyerjain sendiri. Gue hanya sebagai dosen pembimbing.” Lanjut Sekar.
“Boleh kak, yang penting tugas gue rampung.”
“Oklah kalau begitu. Lo tao kan cara kerja gue kaya apa? Gue mao no nulis setiap hari satu bab aja. Jadi dalam waktu seminggu tugas karya ilmiahlo itu dah gue udah ujikan. Lo harus presentasi di depan gue, Paras, sama Ola. Lu harus jawab sebagaimana forum ilmiah. Kalo Ola nanya, lo juga harus jawab secara ilmiah. Lo juga boleh bawa peserta lain untuk menguji lo. Dan…” Sifat rempong Sekar mulai keluar.
“Aduh kak, rempong banget sih. Udah yang biasa aja. Kalo kaya gitu gue yang malah stress dan gak bisa ngerjain gimana?”
“Ssst udah-udah. Gini aja Dis, lu tulis aja yang banyak, nanti gue suruh…” Belum selesai Paras menjelaskan, Adis sudah dapat.
“Gue suruh si Codet yang meriksa. Ada apasih lo Codet lagi-codet lagi. Gue jadi penasaran sama Codet. Tapi gak minat nampung curhatanlo tentang Codet.” Tukas Adis yang berlalu dari meja makan.
“Adis ini serius. Lo ngerjain aja. Kalo lo ngerjain dalam waktu 2 hari, gue kasih duit 100 rebu. Lo tertarik gak?” Tantang Paras.
“Tertarik gue!” Jawab Adis menerima tantangan Paras.

Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 04.45
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog