Minggu, 23 Desember 2012
In:
Fiksi
12. KENA BATUNYA
Ini hari kedua Sekar bermuka kaku. Saudara-saudaranya mulai
kerasa dengan keterasingannya. Ada yang aneh, ada yang kurang, ada yang hambar
pada hari-hari mereka. Sebab apa? Sebab mereka adalah tumpah darah yang satu
tumpah darah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia.
Hari ini mereka tetap berangkat bersama-sama dari rumah.
Meski canggungberada dalam satu mobil tetapi tidak saling sapa dan usil kayanya
nyebelin. Sekar punya pikiran untuk membawa mobil sendiri. Paras dan Adis pun
demikian. Biar mereka berangkat sendiri-sendiri dan tidak saling menyapa juga
tidak apa-apa.
Hari terus berlalu. Hingga sore itu mereka kumpul kembali.
Kejadian di rumah rempong ramai kembali. Ketika Adis yang pulang ke rumah dalam
keadaan menangis dengan tragis.
Ia mulai mengadu pada Paras,
“Kakak gua harus ngulang karya ilmiah gue. Pasalanya gue
dituduh penjiplak dan gue harus ngebuktiin semua teori yang ada dalam tulisan
yang temenlu buat. Gue mana mampu!!! Sebab bahasanya ilmiah semua.”
“Lah terus waktu presentasi lu gimana?”
“Gue gak bisa menerangkan bagaimana teori yang sesungguhnya.
Kenapa begini? Kenapa begitu? Bahkan guru gue mensyinyalir karya ilmiah gue
adalah…”
“Adalah apa Dis?” Tanya Sekar yang sudah mulai ingin tahu apa
yang yang diduganya akan terjadi.
“Mao tau aja loh!” Jawab Adis secara sadis.
“Iya, karya ilmiah lo kenapa Dis?” Tanya Paras.
“Plagiat”
“Hah pla-gy-yat?” Kakak-kakaknya kaget semua.
“Kok bisa?” Paras heran karena si Codet bilang itu sudah
sempurna.
“Iya hasil copy paste dari blog guru gue semua dan parahnya di
situ gak disebutin sumbernya. Huwaaaaa….” Adis menangis dengan deras.
“Codet..ttt berani bokis lo ya sama gue.” Geram Paras.
“Syukur, apa yang gue bilang. Makanya Ras, anak kaya gini
emang disuruh untuk mandiri. Jangan apa-apa dijejali. Yang terjadi ya kaya gini,
malu-maluin aja jadinya. Gue ucapin sekali lagi, selamat ya lu dah jerumusin
Adis menjadi seorang plagiat.” Begitu jawab Sekar yang sudah mulai tahu kalau
ia diadu domba oleh Adis.
Paras menghela nafas panjang.
“Yaudah Dis, emang sebaiknya lu ngerjain ilmiah itu sendiri
aja. Lagian lu dah harus pandai ngebagi waktu kapan lu main, kapan lu belajar.
Ya harus diatur dengan baik. Kalo lu gak bisa ngatur, lu yang bakal diatur-atur
terus sama waktu. pedihnya ya, kalo lu gak bisa ngatur waktu, lo bakal tertinggal
sama temen-temenlo yang selevel. Lo bakal ditinggalin dan bakal dijauhin dari
mereka. Dan lo sangat iri dengan keadaan ini. Lalu lo menyalahkan takdir.
Padahal semua ini terjadi karena elo telah menyia-nyiakan waktu.” Tegur Paras.
“Ya selama ini gue emang gak cocok dengan gaya kak Sekar yang
cenderung ekstrim dan disiplin terhadap waktu. Karena waktu adalah sesuatu yang
sangat berharga dalam hidup kita.” Lanjut Paras lagi yang sangat kecewa membela
Adis yang telah menyia-nyiakan pembelaannya.
“Lain kali Ras kalo lo mau menolong Adis, sudah seharusnya lo
ngasih kail, bukan ngasih ikan. Lagian kalo dikasih ikan, apalagi ikan tuna,
anak kek gini gak bisa makan tuna.”
Sekar mulai mesem-mesem gak jelas. Sekarang dia benar-benar
tahu kalau memang semua ini terjadi karena desakan Adis yang agak sadis
sporadis. Sedang Adis sewot sendirian. Tetapi hatinya sudah mulai mengakui
bahwa dirinya bersalah. Dan dia akan merubah sikapnya. Ia harus lebih
bertanggungjawab atas dirinya.
Sebagai kakak yang sekarang sudah baikan, Sekar dan Paras
tidak mempermasalahkan adik bungsunya. Mereka semua merangkul dan mengajak Adis
untuk lebih bersikap dewasa.
“Dis gue mao kok bantu lo melakukan penelitian. Gue akan
nyediain buku-buku sains dan tentunya lo yang harus nyerjain sendiri. Gue hanya
sebagai dosen pembimbing.” Lanjut Sekar.
“Boleh kak, yang penting tugas gue rampung.”
“Oklah kalau begitu. Lo tao kan cara kerja gue kaya apa? Gue
mao no nulis setiap hari satu bab aja. Jadi dalam waktu seminggu tugas karya
ilmiahlo itu dah gue udah ujikan. Lo harus presentasi di depan gue, Paras, sama
Ola. Lu harus jawab sebagaimana forum ilmiah. Kalo Ola nanya, lo juga harus
jawab secara ilmiah. Lo juga boleh bawa peserta lain untuk menguji lo. Dan…”
Sifat rempong Sekar mulai keluar.
“Aduh kak, rempong banget sih. Udah yang biasa aja. Kalo kaya
gitu gue yang malah stress dan gak bisa ngerjain gimana?”
“Ssst udah-udah. Gini aja Dis, lu tulis aja yang banyak,
nanti gue suruh…” Belum selesai Paras menjelaskan, Adis sudah dapat.
“Gue suruh si Codet yang meriksa. Ada apasih lo Codet
lagi-codet lagi. Gue jadi penasaran sama Codet. Tapi gak minat nampung
curhatanlo tentang Codet.” Tukas Adis yang berlalu dari meja makan.
“Adis ini serius. Lo ngerjain aja. Kalo lo ngerjain dalam
waktu 2 hari, gue kasih duit 100 rebu. Lo tertarik gak?” Tantang Paras.
“Tertarik gue!” Jawab Adis menerima tantangan Paras.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar