Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Selasa, 18 Desember 2012
In: Fiksi

7. BIKIN CLOUDY


Sudah jauh-jauh hari Sekar, Paras dan Adis sepakat untuk menggunakan catering untuk jamuan pengajian. Selain sangat praktis, juga sangat membantu mereka yang selalu dirundung kerempongan dalam berbagai hal. Termasuk juga keterasingan untuk menyiapkan makanan yang lezat dan enak.
Mereka sudah koordinasi sama Pak RT tentang Ustadz, dan juga berapa jumlah jamaah yang akan datang dan ikut pengajian. Mereka juga tanya-tanya kenapa mereka baru tahu kalau di komplek ini ada pengajian padahal mereka kan sudah hampir 2 tahun tinggal di sini dan belum pernah ada pemberitahuan tentang pengajian.
Mereka juga butuh bergaul dengan orang-orang sekitar. Selama ini mereka tidak pernah tau ada kegiatan apa saja yang ada di lingkungan sekitar. Siapa tetanggan mereka dan kesannya kompleks perumahan mereka selalu senyap tidak ada kontak antar warga.
Pak RT juga bingung kenapa mereka bertiga tidak pernah muncul kalau ada kegiatan di RT. Padahal mereka selalu diundang.
“Mungkinkah ada sabotase?” Tanya Sekar sebagaimana pertanyaan Adis tadi pagi.
“Sa-bo-tase??? Tidak mungkin non di sini ada sabotase. Maling aja masuk sini langsung pulang tinggal nama. Apalagi teroris, sabotase, mana mungkin berani masuk sini. Sebab di sini ada jagoan. Ibu Sukarti yang biasa dipanggil Ibu Suk. Mereka, para teroris, sabotase akan takut kalang kabut lari tunggang langgang ketika nama itu disebut.”
Mereka bertiga hanya mampu saling menatap. Merasa sedikit menyesal menanyakan tentang sabotase.
“Nah Ibu Suk itu orangnya sangat jahaaaaaattttt sekali. Meskipun saya RT, saya tidak berani sama dia. Apalagi sampai sabotase masuk ke RT sini. Sudah leyaplah ia sebelum waktunya. Ibu Suklah yang selama ini mengurus tentang pengajian, arisan, kerja bakti, dan hal lain. Sedang saya selalu diatur-atur olehnya. Sedihnya nasib saya.” Kata Pak RT sambil menghayati kepedihannya.
Tetapi tiba-tiba Pak RT mengingat tentang satu hal :
“Saya yakin kenapa undangan itu tidak pernah disampaikan?” Katanya mantap.
“Kenapa Pak?” Kata ketiga dara kompak dengan tatapan mata penuh tanya.
“Hmmm… tepat sekali. Bukan karena sabotase atau karena teroris atau karena hal lain. Tetapi karena Ibusuk tidak suka dengan kalian.”
“Tidak suka??? Kenal aja enggakkkk!” Jawab ketiganya kompak.
“Iya, tapi Ibu Suk kenal kalian. Kalian adalah para gadis-gadis yang cantik-cantik dan manis-manis dan modis-modis pujaan hati para pemuda kompleks ini.”
“Ups keceplosan. Jangan bilang-bilang ya non, kalau tentang ini dari saya. Sumpah non jangan! Bisa digantung hidup-hidup saya. Saya hanya pemimpin yang berupaya sekuat tenaga ingin para warga netral saja tidak memihak. Tidak membuat keributan.” Pak RT memohon sambil memelas ketakutan.
Mereka bertiga semakin bingung apa yang terjadi. Para warga telah mengenal mereka, tetapi kok mereka gak kenal warga? Memangnya mereka siapa? Kan bukan siapa-siapa? Mereka hanya bertanya siapa Ibu Suk sebenarnya. Mau apa ia terhadap mereka?
“Kalian adalah bunga komplek sini. Sejak kedatangan kalian komplek ini semakin berwarna. Hanya Ibu Suk yang tidak suka. Kalau Ibu Suk tidak suka. Jangan pernah berharap hidup dapat tenang.”
Mereka semakin garuk-garuk kepala dan bingung. Sambil membatin, apa yang tidak tenang. Toh selama ini mereka hidup tenang-tenang saja, stabil, tidak ada gelombang apapun yang meruntuhkan benteng kehidupan mereka. Kecuali setelah mendengar nama Ibu Suk yang ternyata telah memusuhi mereka secara berjamaah.
“Ini ciyusan Pak?” Tanya Sekar.
“Nelan. Engga oong-oong.”
Aduh ni RT semakin bikin cloudy, bikin gemuruh suara hati. Lebih tepatnya membuat hati menjadi was-was.
“Jangan takut non, pemilihan RT mendatang, ia akan ikut menjadi bakal calon ketua RT. Jadi non sekalian bisa memilih RT yang sesungguhnya. Bukan saya lagi yang cuma oong-oongan.”
Mereka bertiga pulang dengan wajah yang ditekuk semua. Bingung memikirkan bagaimana nasib mereka ke depannya.

Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 07.59
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog