Selasa, 18 Desember 2012
In:
Fiksi
7. BIKIN CLOUDY
Sudah jauh-jauh
hari Sekar, Paras dan Adis sepakat untuk menggunakan catering untuk
jamuan pengajian. Selain sangat praktis, juga sangat membantu mereka yang selalu
dirundung kerempongan dalam berbagai hal. Termasuk juga keterasingan untuk
menyiapkan makanan yang lezat dan enak.
Mereka sudah
koordinasi sama Pak RT tentang Ustadz, dan juga berapa jumlah jamaah yang akan
datang dan ikut pengajian. Mereka juga tanya-tanya kenapa mereka baru tahu
kalau di komplek ini ada pengajian padahal mereka kan sudah hampir 2 tahun
tinggal di sini dan belum pernah ada pemberitahuan tentang pengajian.
Mereka juga butuh
bergaul dengan orang-orang sekitar. Selama ini mereka tidak pernah tau ada
kegiatan apa saja yang ada di lingkungan sekitar. Siapa tetanggan mereka dan kesannya
kompleks perumahan mereka selalu senyap tidak ada kontak antar warga.
Pak RT juga
bingung kenapa mereka bertiga tidak pernah muncul kalau ada kegiatan di RT.
Padahal mereka selalu diundang.
“Mungkinkah ada
sabotase?” Tanya Sekar sebagaimana pertanyaan Adis tadi pagi.
“Sa-bo-tase???
Tidak mungkin non di sini ada sabotase. Maling aja masuk sini langsung pulang
tinggal nama. Apalagi teroris, sabotase, mana mungkin berani masuk sini. Sebab
di sini ada jagoan. Ibu Sukarti yang biasa dipanggil Ibu Suk. Mereka, para
teroris, sabotase akan takut kalang kabut lari tunggang langgang ketika nama
itu disebut.”
Mereka bertiga
hanya mampu saling menatap. Merasa sedikit menyesal menanyakan tentang
sabotase.
“Nah Ibu Suk itu
orangnya sangat jahaaaaaattttt sekali. Meskipun saya RT, saya tidak berani sama
dia. Apalagi sampai sabotase masuk ke RT sini. Sudah leyaplah ia sebelum
waktunya. Ibu Suklah yang selama ini mengurus tentang pengajian, arisan, kerja
bakti, dan hal lain. Sedang saya selalu diatur-atur olehnya. Sedihnya nasib
saya.” Kata Pak RT sambil menghayati kepedihannya.
Tetapi tiba-tiba
Pak RT mengingat tentang satu hal :
“Saya yakin kenapa
undangan itu tidak pernah disampaikan?” Katanya mantap.
“Kenapa Pak?” Kata
ketiga dara kompak dengan tatapan mata penuh tanya.
“Hmmm… tepat
sekali. Bukan karena sabotase atau karena teroris atau karena hal lain. Tetapi
karena Ibusuk tidak suka dengan kalian.”
“Tidak suka???
Kenal aja enggakkkk!” Jawab ketiganya kompak.
“Iya, tapi Ibu Suk
kenal kalian. Kalian adalah para gadis-gadis yang cantik-cantik dan manis-manis
dan modis-modis pujaan hati para pemuda kompleks ini.”
“Ups keceplosan.
Jangan bilang-bilang ya non, kalau tentang ini dari saya. Sumpah non jangan! Bisa digantung hidup-hidup saya. Saya hanya pemimpin yang berupaya sekuat tenaga ingin para warga netral saja
tidak memihak. Tidak membuat keributan.” Pak RT memohon sambil memelas
ketakutan.
Mereka bertiga
semakin bingung apa yang terjadi. Para warga telah mengenal mereka, tetapi kok mereka
gak kenal warga? Memangnya mereka siapa? Kan bukan siapa-siapa? Mereka hanya
bertanya siapa Ibu Suk sebenarnya. Mau apa ia terhadap mereka?
“Kalian adalah
bunga komplek sini. Sejak kedatangan kalian komplek ini semakin berwarna. Hanya
Ibu Suk yang tidak suka. Kalau Ibu Suk tidak suka. Jangan pernah berharap hidup
dapat tenang.”
Mereka semakin
garuk-garuk kepala dan bingung. Sambil membatin, apa yang tidak tenang. Toh selama
ini mereka hidup tenang-tenang saja, stabil, tidak ada gelombang apapun yang
meruntuhkan benteng kehidupan mereka. Kecuali setelah mendengar nama Ibu Suk
yang ternyata telah memusuhi mereka secara berjamaah.
“Ini ciyusan Pak?”
Tanya Sekar.
“Nelan. Engga
oong-oong.”
Aduh ni RT semakin
bikin cloudy, bikin gemuruh suara hati. Lebih tepatnya membuat
hati menjadi was-was.
“Jangan takut non,
pemilihan RT mendatang, ia akan ikut menjadi bakal calon ketua RT. Jadi non
sekalian bisa memilih RT yang sesungguhnya. Bukan saya lagi yang cuma
oong-oongan.”
Mereka bertiga
pulang dengan wajah yang ditekuk semua. Bingung memikirkan bagaimana nasib mereka
ke depannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar