Selasa, 18 Desember 2012
In:
Fiksi
8. PERUSUH KECIL
Datanglah hari
kamis yang mereka nanti-nantikan. Mereka memiliki harapan besar terhadap suksesnya acara pengajian malam
nanti. Tentu nanti malam adalah acara pengajian yang diselenggarakan ditingkat RT. Siapa tahu mereka akan dapat mengenali dan membuka topeng siapa
Ibu Suk sebenarnya. Apa motif Ibu Suk untuk memusuhi mereka?
Mudah-mudahan
ketidaksukaan itu segera berakhir dan tidak berlarut-larut. Tentu saja tidak
melupakan tema utama yaitu suksesnya acara pengajian.
Paras dan Sekar meminta ijin kerja setengah hari. Sedang Adis harusnya sudah harus siap-siap stand by di rumah mengambil catering dan
mengkoordinator semuanya.
Dasarnya Adis yang suka lelet, ia malah ijin sekolah tetapi malah ketiduran di rumah. Bisa dibayangkan kegaduhan apa yang bakal terjadi.
Akhirnya mereka meminta bantuan Sakila, teman kantor Paras untuk menemani mereka menghadapi
Ibusuk yang takutnya akan terjadi apa-apa. Tentu saja Sakila diminta membawa
kakaknya, Dimas untuk menemani mereka.
Mereka sudah
sangat ketakutan bila nanti Ibu Suk mengamuk di dalam pengajian itu. Atau apalah
yang terjadi akibat ketidaksukaan Ibu Suk terhadap mereka.
Hari sudah semakin sore. Melihat Adis yang lelet kerjanya, langsung saja didamprat oleh Sekar. "Dis, kamu tuh ya bukan malah cepet ngambil catering eh malah santai-santai."
"Yaelah kak, masih siang. Nanti kalau udah siap semuanya pasti di call deh sama catringnya."
"Iya tapi kerjaan tambah banyak. Tuh mobil gak cuma dipake buat ngambil catering. Tapi juga beli tambahan kue, buah, plastik, piring-piring. Gak ada istilah santai-santai."
"Ciye yang gak santai. Udah gak tahan ya kepengen ketemu bu Suk?" Ledeknya.
"Adissssss!!!!!"
Sakila datang
dengan shawl yang mirip percis yang dibeli oleh Paras. Warna, corak, ukuran,
pokoknya sama percis. Adis yang usil langsung membahas.
“Kak Kila, dapet
shawl juga ya dari bosnya?” Tanya Adis Tanpa ia sadari Paras yang ada di tempat
itu sudah mulai tersinggung setengah mati. Mukanya merah padam. Telinganya sedikit panas.
“Bos apaan orang
ini mah belinya diobralan.”
“Kok bisa sama
percis sama shawl yang dibawa kak Paras tempo hari yang dari bosnya?”
Paras menunduk dan
pura-pura tidak mendengar percakapan ini. Ingin rasanya ia jejali mulut Adis
dengan cabe karena hal yang sepeleh saja harus dibahas. Tetapi apa salah Adis?
Adis hanya bertanya berdasarkan apa yang ia terima dari Paras kalau mereka itu
adalah hadiah dari bosnya yang baru pulang dari luar negeri.
"Adis udah deh kamu tuh disuruh kak Sekar ngapain?"
“Ras, bos yang
mana? Bos kita kan pada pelitnya naudzubillahi
min dzalik?” Tanya Sakila yang semakin reseh.
Sebenarnya ia sudah sedikit mengerti dengan watak Paras yang selalu ingin
dikatakan diberikan orang lain dan dianggap istimewa oleh orang-orang tertentu
dengan hadiah dan barang-barang gratisan yang mahal-mahal.
“Bos kenalan gue
yang di kafe. Lu pasti gak kenal.”
“Siapa Ras pasti
gue kenal. Temenlu kan sedikit banyaknya temen gua juga.” Selidik Sakila.
“Yaelah Kila percuma gue bahas. Sampe
mulut gue berbuih-buih lu pasti gak bakal kenal deh. Lu kenal gak atase
perdagangan luar negeri yang sekarang dinasnya di Korea, rumahnya di
Tanggerang, rumah anaknya di Lipo, dan gue kenal sahabatnya temen SMA gue waktu
gue SMA di Bandung? Nah itu yang ngasih gue hadiah.” Paras benar-benar merasa
terpojok.
Untunglah Sekar
segera datang meminta Paras membeli beberapa buah segar yang dipotong, juga
jeruk, anggur, apel, dan juga klengkeng. Seketika Paras langsung pergi meninggalkan Kila.
“Tapi Ras, kalo lo
dikasih lagi, gue minta yah. Soalnya gue udah kenyang nih make barang yang obral-obral melulu. Pengen juga sih yang kaya lu selalu dapat yang gretongan dari
kolega lu dari luar negeri lagi.” Teriak Kila setengah agar terdengar oleh Paras yang sudah menjauh.
Paras hanya
cemberut. “Ah rempong deh lu pake nanya-nanya kaya ginian.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar