Selasa, 18 Desember 2012
In:
Fiksi
6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
Sekar dan Paras sepakat menggunakan catering untuk menyajikan hidangan buat pengajian. Tetapi si bungsu Adis gak setuju. Alasannya ingin membuktikan kalau mereka (mereka = Sekar, Paras dan Adis) adalah termasuk sebagai perempuan yang multitalenta dan selalu terlihat sempurna.
Mereka bisa kerja, bisa dandan, juga bisa masak. Padahal ya, hal yang terakhir ini yang sangat diragukan oleh semuanya. Masalahnya apa? Adis itu jangankan disuruh untuk masak kue nantinya dimakan oleh orang banyak, masak telur aja seringkali gosong.
"Udah Dis gak usah macem-macem. Emang gak rempong apa nyiapin makanan segitu banyaknya? Kita-kita kan pada kerja. Emang situ, sekolah bisa bolos. Sekarang kita bagi tugas aja, Paras sama gue pesen kue. Nah lo yang tinggal jemput. Secara Gue ma Paras donatur yang paling gede ngeluarin duit."
Paras hanya terdiam. Dia tau percis kalau Sekar udah ngomong kaya gini gak bakal bisa dirubah. Meskipun kadang malah Sekar gak ngeluarin uang sama sekali dan malah melimpahkan urusan keuangan padanya akibat suatu keadaan lazim misalnya ngambek. Sedang Adis hanya manyun-manyun gak penting.
Sebagaimana sifat Sekar yang suka ngatur-ngatur kaya kondektur, dia jugalah yang akhirnya memesan kue dengan seleranya tanpa melihat siapa donatur selanjutnya.
Sekar penginnya pesen catering yang murah-murah kalau bisa gratisan. Misalnya ada paket 1 sampe 3. Maka dia tidak akan memilih paket itu. Dia akan memilih paket hemat. Sedang Paras hanya terdiam.
Masak untuk pengajian menu makanannya sama kaya makan siang orang lagi diet? Kan keliatannya gak oke banget.
Masak untuk pengajian menu makanannya sama kaya makan siang orang lagi diet? Kan keliatannya gak oke banget.
"Kak, jangan yang itu. Kalo untuk 50 orang, paling gak untuk nasi kotaknya itu yang Rp 15.000,-an . Pilih tuh ayam gorengnya yang gede bukan ayam goreng yang mirip kodok gitu."
"Iiiiii Rempong deh nek. Rp 15.000 itu udah paket sama kue. Gak mikir lo ye kalo harus ada kue kotaknya. Belum lagi buah di piring sama kue-kue yang dipiring. Itu semua harus dipikirin."
Paras sebenarnya geram sama cara berhitung Sekar yang njlimet dan telah masuk area pemikiran yang pelit kuadrat ini. Tapi Paras gak akan kepancing kalau dia akan bilang : Pelit amat sih lu jadi orang. Udah tenang, semua ini gue yang bayar.
Itu kata-kata sakti yang sangat diharapkan kehadirannya oleh Sekar. Tetapi Paras malah mengatakan : "Lu mau yang murah? Bikin aja sendiri. Tapi lu yang bikin semua sampe pegel, sampe gempor, sampe kutilan. Tapi gue sama sekali gak ikutan."
Akhirnya keduanya diem-dieman dan dingin sedingin-dinginnya. Mereka keluar masuk toko kue dengan muka yang saling ditekuk.
Belum ada yang sesuai dengan sepakatnya mereka berdua padahal sudah sampai 5 toko kue mereka jelajahi. Sampai betis mereka pegel-pegel. Sampe mereka hafal muka-muka kecewa pelayan toko akibat kebanyakan tanya-tanya dan ujung-ujungnya gak jadi pesan. Sampai toko yang ke-6 akhirnya mereka sepakat untuk memesan kue yang pantas dan enak pada langganan cateringan kantornya si Paras.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar