Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Selasa, 18 Desember 2012
In: Fiksi

5. MODEL-MODEL SARAPAN


Good day HijabLovers. Udah pada sarapan belum? Kalau belum, sarapan dulu gih bareng 3 dara. Kali ini 3 dara sedang sarapan pagi di pagi yang serba hangat. Tuh lihat Sekar, Paras dan Adis telah siap di meja makan. Sedang Ola masih sibuk nyiapin sarapan.
Kerempongan 3 dara bersaudara kali ini adalah mereka selalu memiliki selera menu sarapan yang selalu tidak sama. Mereka selalu menginginkan hal yang berbeda antara satu dan lainnya. Perut mereka tidak pernah kompak dalam urusan menu sarapan. Misalnya saja hari ini Sekar ingin bakmi goreng, Paras ingin nasi goreng, sedang Adis roti bakar.
Sekalinya pernah sama, Sekar ingin nasi goreng dengan bawang merah 5 siung, cabe merah 5 buah, cabe galak 5 buah. Sedang Paras bawang merahnya 7 siung, cabe merahnya 7 buah, dan si bungsu Adis, semua bumbu berjumlah 9 buah dengan wajan yang terpisah dari bumbu mereka berdua, dan juga ulekan yang terpisah.
Jangan pakai wajan atau ulekan bekas mereka berdua. Kecuali sudah dicuci dan sudah dikeringkan dengan panas beberapa derajat hingga kuman yang tersisa sudah mati semua. Haddeh, ada-ada aja si mereka.
Kali ini ketika Ola sibuk bakarin roti buat Adis. Sekar mengambil shawl dari kamar. Shawl gretongan dari Paras semalam. Sepertinya ia belum mendapat inspirasi model terbarunya untuk dikenakan hari ini.
“Ciyeee… ciyee.. shawlnya udah dipake aja. Dicuci aja belom. Mentang-mentang shawl baru biar semua orang tau. Mau gaya cama capa cih?” Ledek Adis yang sudah pakai hijab segi empat asimetris. Hmm kelihatannya berkat hadiah semalam ia sudah mulai baikan dengan Sekar.
“Biarin, yang ngasih aja gak reseh.” Jawab Sekar ketus.
Paras yang sejak tadi sedang asyik membaca Mocking Bird, tiba-tiba terperanga melihat gaya kakaknya yang serba salah tingkah. “Pakai yang biasa aja kenapa. Yang penting nutup tuh aurat, rapih, bersih, gak celemotan kaya anak alay gitulah.”
“Ya enggak lah Ras. Gue kan cuma bersyukur dikasih anugerah wajah yang indah dan juga shawl pemberian dari adik gue yang tercinta.” Belanya.
Padahal jujur warna hijab sama bajunya sungguh dipaksakan. Sudah gitu, warna lipstik yang sama sekali gak kompak sama warna hijab dan baju. Bisa dibayangin pemirsa, apa gak semakin bikin amburadul bin acakadul?
Kalau sudah begini, Paras semakin gerah melihatnya. Dia paling gak suka kalau kakak atau adiknya dandan acakadul dandanannya kaya badut.
Tindakan pertama yang spontan ia lakukan adalah langsung mengambil warna pashmina yang pas dengan warna bajunya. Lalu memberinya lipstik yang sesuai.
“Dandanan lu tuh kak, udah kaya mau nurunin rezim aja. Serba gak jelas. Kurang penghayatan sila-sila kecantikan serta pasal-pasal keanggunan.”
“Iya iya gue tau yang jago dandan.”
"Tau gak kak dandananlu barusan?"
"Enggak, kenapa?"
"Mirip kaya anak ABG Alay yang sering gue temuin di jalan."
"Emang!" Selang Adis mengiyakan.
"Mereka tuh ya kalau pakai hijab pengennya sih ngikutin mode yang lagi in. Tapi gak sesuai sama bentuk dan wajah mereka. Model mereka aneh-aneh. Kadang ada yang pake punuk onta, ada yang pake tali jemuran diiket-iket, ada malah yang ngeluarin daleman hijab seolah-olah rambut di jidat, ada pula yang memang jelas-jelas hijab malah dikepang-kepang kaya rambut. Hups sudah ketahuan yang ditutup adalah rambut, eh malah hal itu yang dikeluarkan dengan catatan seolah-olah rambut. Malah ada yang ngebolehin pake wig sebagai media penutup rambut. Hmm hal yang aneh."
"Ya kan model kak." Sahut adis.
"Iya model madul. Gak ada ilmunya pake hijab. Gue yakin orang yang pake hijab tanpa ilmu yakin seratus persen kepalanya botak." Jawab Paras lagi.
"Kok lu bisa yakin Ras?"
"Ya ialah. Harusnya orang pake hijab menjalankan syariat agama ya harus ada ilmunya. Betapa orang mengenakan hijab itu ada konsekuensinya. Ia harus menutup hati, pandangannya, serta yang terpenting auratnya dari perbuatan maksiat. Bukan malah memancing pandangan orang agar terlihat wah cetar membahana naudzubillah."
"Ya hak asasi oranglah kak."
"Memang. Tapi itu hal yang bodoh dan dilarang sama Nabi kita." Paras langsung mengambil buku catatan pengajiannya. Ini adalah buku yang menyebabkan hatinya bergetar lalu memutuskan untuk mengenakan hijab.
Disebutkan Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam Dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya bahwa mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan Mencium Bau Wangi Surga, Padahal Bau Wangi Surga Bisa Dicium Dari Jarak yang sangat jauh.
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,
1. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],
2. dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]” (HR. Muslim).
bahwa itu maksudnya adalah  yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.
Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.
http://www.indahislam.com/ada-apa-dengan-jilbab-punuk-unta/ 
“Makan tuh mode, kalau gak tahu ilmunya.”
“Iya ya Ras. Gue kok jadi tiba-tiba ngikutin ABG Alay yah. Padahal gue paling kesel ngeliat gaya mereka yang serba geje."
“Makanya lo gak usah terlalu berci terhadap sesuatu. Karena bisa jadi suatu saat lo bisa kaya gitu. Ya kalo gak suka, sikapi aja dengan cara-cara bijaksana.”
“Iya kak, gue juga sebel tuh kalo ngeliat ABG Alay yang jilbaban tapi kaya celengan. Pas perut sama pantatnya kebuka kemana-mana. Udah gitu naik motornya pake pelukan lagi sama cowoknya udah kaya tas ransel alias gembolan.” Sambung Adis.
“Hahahaha” Mereka tertawa membayangkan apa yang diceritakan Adis.
“Gue juga pernah ngeliat ABG Alay yang lucu banget. Masa jilbabnya ngetat banget udah kaya Superman gitu, pake legging di luar. Harusnya kan fungsi legging itu buat daleman baju. Iii norak banget sih.” Sambung Sekar yang sudah mulai mencair dengan adik-adiknya.
 “Dahulu orang punya alesan kalau pake jilbab adalah suatu hal yang merepotkan. Nah sekarang orang pake jilbab, apa aja diumbrukin ke atas kepalanya. Kan aneh. Ini yang gue bilang, jangan-jangan mereka pake jilbab karena kepalanya botak. Bukan karena panggilan syariat beragama. Kalau memang udah panggilan memenuhi perintah agama kan gak usah dibelokin kesana-kemari.” Lanjut Paras.
“Tepat sekali kak. Botak ilmu modeling hijabnya.” Lanjut Adis.
Sedang asyik-asyiknya di meja makan, tiba-tiba ada tamu. Ola segera membuka pintu dan menerima tamu. Tidak lama Ola datang pada mereka sambil memberikan selembar kertas dari Pak RT. Kalau malam Jum’at pekan depan, rumah ini akan kebagian jatah pengajian RT.
“Loh kok ndadak gini ya La? Kamu gak tanya RTnya?” Tanya Paras sambil dirubung kedua saudaranya.
Ola hanya menggeleng kepala. Polos banget dia.
“Aku malah baru tau kalau di RT sini ada pengajian bulanan.” Sambung Sekar.
“Iya, kita jadi gak siap nih, manggil ustadz, konsumsi dan sebagainya.” Lanjut Adis.
“Gak tau non, Ola kan cuma nyampein surat. Kayanya memang ada pengajian, tetapi gak pernah sampai undangannya. Kali ini mungkin karena Pak RT langsung yang nyampein, jadinya sampe deh ke sini.” Jelas Ola.
“Ada yang sabotase gitu?” Tanya Adis.
“Yaudah untuk hal ini nanti kita pikirkan lagi. Lagian kita udah pada telat nih.” Pungkas Sekar sambil nyuruh-nyuruh si Ola untuk masak ini-itu.
Ola hanya manggut-manggut. Meskipun sewot dengan instruksi yang terlalu banyak, tetapi juga senang karena selalu dapat melayani mereka dengan baik.
Nona-Nona rempong yang apa jadinya dunia bila tanpa mereka. Ups, sungguh mengharukan.
“Ati-ati ya non di jalan.” Pesan Ola sambil melambaikan tangan pada Honda Jazz putih yang sudah berlalu meninggalkan Ola sendirian.


Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 07.24
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog