Selasa, 18 Desember 2012
In:
Fiksi
5. MODEL-MODEL SARAPAN
Good
day HijabLovers. Udah pada sarapan belum? Kalau belum, sarapan dulu gih bareng
3 dara. Kali ini 3 dara sedang sarapan pagi di pagi yang serba hangat. Tuh
lihat Sekar, Paras dan Adis telah siap di meja makan. Sedang Ola masih sibuk
nyiapin sarapan.
Kerempongan
3 dara bersaudara kali ini adalah mereka selalu memiliki selera menu sarapan
yang selalu tidak sama. Mereka selalu menginginkan hal yang berbeda antara satu
dan lainnya. Perut mereka tidak pernah kompak dalam urusan menu sarapan.
Misalnya saja hari ini Sekar ingin bakmi goreng, Paras ingin nasi goreng,
sedang Adis roti bakar.
Sekalinya
pernah sama, Sekar ingin nasi goreng dengan bawang merah 5 siung, cabe merah 5
buah, cabe galak 5 buah. Sedang Paras bawang merahnya 7 siung, cabe merahnya 7
buah, dan si bungsu Adis, semua bumbu berjumlah 9 buah dengan wajan yang
terpisah dari bumbu mereka berdua, dan juga ulekan yang terpisah.
Jangan
pakai wajan atau ulekan bekas mereka berdua. Kecuali sudah dicuci dan sudah
dikeringkan dengan panas beberapa derajat hingga kuman yang tersisa sudah mati
semua. Haddeh, ada-ada aja si mereka.
Kali
ini ketika Ola sibuk bakarin roti buat Adis. Sekar mengambil shawl dari kamar.
Shawl gretongan dari Paras semalam. Sepertinya ia belum mendapat inspirasi
model terbarunya untuk dikenakan hari ini.
“Ciyeee…
ciyee.. shawlnya udah dipake aja. Dicuci aja belom. Mentang-mentang shawl baru
biar semua orang tau. Mau gaya cama capa cih?” Ledek Adis yang sudah pakai
hijab segi empat asimetris. Hmm kelihatannya berkat hadiah semalam ia sudah
mulai baikan dengan Sekar.
“Biarin,
yang ngasih aja gak reseh.” Jawab Sekar ketus.
Paras
yang sejak tadi sedang asyik membaca Mocking Bird, tiba-tiba terperanga melihat
gaya kakaknya yang serba salah tingkah. “Pakai yang biasa aja kenapa. Yang
penting nutup tuh aurat, rapih, bersih, gak celemotan kaya anak alay gitulah.”
“Ya
enggak lah Ras. Gue kan cuma bersyukur dikasih anugerah wajah yang indah dan
juga shawl pemberian dari adik gue yang tercinta.” Belanya.
Padahal
jujur warna hijab sama bajunya sungguh dipaksakan. Sudah gitu, warna lipstik
yang sama sekali gak kompak sama warna hijab dan baju. Bisa dibayangin pemirsa,
apa gak semakin bikin amburadul bin acakadul?
Kalau
sudah begini, Paras semakin gerah melihatnya. Dia paling gak suka kalau kakak
atau adiknya dandan acakadul dandanannya kaya badut.
Tindakan
pertama yang spontan ia lakukan adalah langsung mengambil warna pashmina yang
pas dengan warna bajunya. Lalu memberinya lipstik yang sesuai.
“Dandanan
lu tuh kak, udah kaya mau nurunin rezim aja. Serba gak jelas. Kurang
penghayatan sila-sila kecantikan serta pasal-pasal keanggunan.”
“Iya
iya gue tau yang jago dandan.”
"Tau
gak kak dandananlu barusan?"
"Enggak,
kenapa?"
"Mirip
kaya anak ABG Alay yang sering gue temuin di jalan."
"Emang!"
Selang Adis mengiyakan.
"Mereka
tuh ya kalau pakai hijab pengennya sih ngikutin mode yang lagi in. Tapi gak
sesuai sama bentuk dan wajah mereka. Model mereka aneh-aneh. Kadang ada yang
pake punuk onta, ada yang pake tali jemuran diiket-iket, ada malah yang
ngeluarin daleman hijab seolah-olah rambut di jidat, ada pula yang memang
jelas-jelas hijab malah dikepang-kepang kaya rambut. Hups sudah ketahuan yang
ditutup adalah rambut, eh malah hal itu yang dikeluarkan dengan catatan
seolah-olah rambut. Malah ada yang ngebolehin pake wig sebagai media penutup
rambut. Hmm hal yang aneh."
"Ya
kan model kak." Sahut adis.
"Iya
model madul. Gak ada ilmunya pake hijab. Gue yakin orang yang pake hijab tanpa
ilmu yakin seratus persen kepalanya botak." Jawab Paras lagi.
"Kok
lu bisa yakin Ras?"
"Ya
ialah. Harusnya orang pake hijab menjalankan syariat agama ya harus ada
ilmunya. Betapa orang mengenakan hijab itu ada konsekuensinya. Ia harus menutup
hati, pandangannya, serta yang terpenting auratnya dari perbuatan maksiat.
Bukan malah memancing pandangan orang agar terlihat wah cetar membahana
naudzubillah."
"Ya
hak asasi oranglah kak."
"Memang.
Tapi itu hal yang bodoh dan dilarang sama Nabi kita." Paras langsung mengambil
buku catatan pengajiannya. Ini adalah buku yang menyebabkan hatinya bergetar
lalu memutuskan untuk mengenakan hijab.
Disebutkan
Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam Dalam Hadits
Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya bahwa mereka tidak akan masuk surga
dan tidak akan Mencium Bau Wangi Surga, Padahal Bau Wangi Surga Bisa Dicium
Dari Jarak yang sangat jauh.
Rasulullah
Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
Ada
dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,
1.
Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya
penguasa yang dzalim],
2.
dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada
kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan.
Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka
tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu
tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”
(HR. Muslim).
bahwa
itu maksudnya adalah yang menyisir
rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin
rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala
sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.
Lalu
ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta
adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya
rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok
ke kiri dan ke kanan kepala.
http://www.indahislam.com/ada-apa-dengan-jilbab-punuk-unta/ |
“Makan
tuh mode, kalau gak tahu ilmunya.”
“Iya
ya Ras. Gue kok jadi tiba-tiba ngikutin ABG Alay yah. Padahal gue paling kesel
ngeliat gaya mereka yang serba geje."
“Makanya
lo gak usah terlalu berci terhadap sesuatu. Karena bisa jadi suatu saat lo bisa
kaya gitu. Ya kalo gak suka, sikapi aja dengan cara-cara bijaksana.”
“Iya
kak, gue juga sebel tuh kalo ngeliat ABG Alay yang jilbaban tapi kaya celengan.
Pas perut sama pantatnya kebuka kemana-mana. Udah gitu naik motornya pake
pelukan lagi sama cowoknya udah kaya tas ransel alias gembolan.” Sambung Adis.
“Hahahaha”
Mereka tertawa membayangkan apa yang diceritakan Adis.
“Gue
juga pernah ngeliat ABG Alay yang lucu banget. Masa jilbabnya ngetat banget
udah kaya Superman gitu, pake legging di luar. Harusnya kan fungsi legging itu
buat daleman baju. Iii norak banget sih.” Sambung Sekar yang sudah mulai
mencair dengan adik-adiknya.
“Dahulu orang punya alesan kalau pake jilbab
adalah suatu hal yang merepotkan. Nah sekarang orang pake jilbab, apa aja
diumbrukin ke atas kepalanya. Kan aneh. Ini yang gue bilang, jangan-jangan
mereka pake jilbab karena kepalanya botak. Bukan karena panggilan syariat
beragama. Kalau memang udah panggilan memenuhi perintah agama kan gak usah
dibelokin kesana-kemari.” Lanjut Paras.
“Tepat
sekali kak. Botak ilmu modeling hijabnya.” Lanjut Adis.
Sedang asyik-asyiknya di meja makan, tiba-tiba ada tamu. Ola segera membuka
pintu dan menerima tamu. Tidak lama Ola datang pada mereka sambil memberikan
selembar kertas dari Pak RT. Kalau malam Jum’at pekan depan, rumah ini akan
kebagian jatah pengajian RT.
“Loh
kok ndadak gini ya La? Kamu gak tanya RTnya?” Tanya Paras sambil dirubung kedua
saudaranya.
Ola
hanya menggeleng kepala. Polos banget dia.
“Aku
malah baru tau kalau di RT sini ada pengajian bulanan.” Sambung Sekar.
“Iya,
kita jadi gak siap nih, manggil ustadz, konsumsi dan sebagainya.” Lanjut Adis.
“Gak
tau non, Ola kan cuma nyampein surat. Kayanya memang ada pengajian, tetapi gak
pernah sampai undangannya. Kali ini mungkin karena Pak RT langsung yang
nyampein, jadinya sampe deh ke sini.” Jelas Ola.
“Ada
yang sabotase gitu?” Tanya Adis.
“Yaudah
untuk hal ini nanti kita pikirkan lagi. Lagian kita udah pada telat nih.”
Pungkas Sekar sambil nyuruh-nyuruh si Ola untuk masak ini-itu.
Ola
hanya manggut-manggut. Meskipun sewot dengan instruksi yang terlalu banyak,
tetapi juga senang karena selalu dapat melayani mereka dengan baik.
Nona-Nona
rempong yang apa jadinya dunia bila tanpa mereka. Ups, sungguh mengharukan.
“Ati-ati
ya non di jalan.” Pesan Ola sambil melambaikan tangan pada Honda Jazz putih
yang sudah berlalu meninggalkan Ola sendirian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar