Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Sabtu, 22 Desember 2012
In: Fiksi

11. SEKAR YANG GALAU


Akibat peristiwa semalam, paling tidak pagi ini Sekar merasa tidak enak dan serba canggung terhadap kedua saudaranya. Ingin sekali ia marah, tetapi kepada siapa? Pada Adis? Tetapi bukankah itu wajar kalau Adis memang tidak suka dengan sikapnya yang suka ngatur kaya kondektur?
Ingin sekali ia bertanya kepada Adis tentang masalah yang sedang dirundungnya. Tetapi sifat angkuhnya masih saja merajalela. Apalagi sekarang ia sudah benar-benar yakin bahwa kubu Paras sekarang sudah merapat pada kubu Adis.
Pikirannya semakin lelah. Ketika ia merasa telah ditinggalkan oleh kedua saudaranya. Semua ini terjadi atas kesalahannya yang tidak dapat mengontrol emosi dan kurang peka terhadap adik-adiknya.
Meskipun demikian ia terhalang oleh sulitnya untuk mengakui dan berendah hati sedikit saja kepada mereka. Yang ada ia hanya terdiam dan mengasingkan diri dari lingkungan sekitar.
Bahkan pagi ini ia tidak mengatur-ngatur si Ola seperti biasanya. Ia hanya menyuruh Ola untuk membuat sayur apa saja, lauk apa saja untuk hidangan makan siang dan makan malam, yang penting enak.
Ola pun jadi turut sedih dan bingung. Tetapi di satu sisi hatinya yang lain ia merasakan kegirangan yang luar biasa. Sebab apa? Sepertinya hari ini ada tanda-tanda bahwa hari ini adalah bebas rempong. Ia hanya cengengesan ketika ia menerima uang belanja dari Paras.
Di dalam Jazzy Sekar pun masih mengasingkan diri. Ia tidak berkata apa-apa, tidak bertanya apa-apa kepada kedua saudaranya. Mukanya berat untuk menatap saudaranya, apalagi memaki-maki Adis seperti biasa. Benar-benar berat. Seberat hatinya yang ingin mengakui bahwa dirinya telah bersalah dan ingin meminta maaf kepada kedua saudaranya yang selama ini ia dzalimi. Tetapi mungkinkah?
Lebih dari itu, ia lebih memilih menjadi batu gunung yang tidak ingin berbicara sampai semuanya mau membuka hati. Terutama Adis yang dianggap anak bungsu yang harus mau meminta maaf dan merubah sikap lebih dahulu.
Tetapi nyatanya, Adis malah bersikap biasa saja. Ia semakin nyaman dalam keadaan ini. Apalagi kubu Paras sudah benar-benar melindunginya dari berbagai serangan Sekar. Ia benar-benar santai dan manja pada Paras.
“Kak, lo kenal Dodo gak?”
Sekar semakin cemberut. Ia tahu kalau yang dimaksud “Kak” adalah Paras, bukan dirinya.
“Kak, lo kenal Dodo gak?” Tanyanya mengulangi.
“Dodo mana Dis? Do-do? Do-do mana?” Jawab Paras yang ketika ia sadar kalau yang dimaksud Kak adalah dirinya. Maklum selama ini Paras yang selalu jadi sopir bila mereka bertiga pergi.
“Dodo Hendraman teman pesbuklo. Ini kok nge-invite gue jadi temennya.”
Tapi tahu gak sebenarnya apa yang terjadi? Barusan Adis buka-buka pertemanan dalam akun Paras. Ia berniat melihat-lihat teman-teman Paras. Tetapi ia malah tertarik dengan foto Dodo yang sedang memegang kamera dengan lensa yang besar dan panjang.
“Tau deh. Temen gue di pesbuk kan banyak banget. Gue asal add aja. Gak kenal gak apa. Lagian gue gak pernah aktif, gak pernah update status. Abisnya gue males jawab-jawab komen gitu. Lo tau sendiri kan kerjaan gue banyak banget. Kalo ditambah pesbukan, nanti malah pekerjaan lain terbengkalai. Bisa mampus gue diomelin bos.” Jawab Paras lagi sambil sesekali melirik Sekar yang selalu update status.
Selama ini hanya Sekar dan Adis yang suka pesbukan. Bisa dibilang keduanya orang yang selalu ingin aksis dimanapun mereka berada. Sekar merasa kalau pesbuk akan menambah jaringan kerjanya sebagai staff IT semakin banyak. Ia senang sekali memungut informasi dari page-page manapun. Sedangkan Adis, hal yang paling ia sukai dipesbuk adalah ngerempongin status orang dan up date status yang menarik. Ia senang sekali bila statusnya diberi jempol. Apalagi komen yang setuju dengan statusnya. Dan ia selalu mengeblock dan menghapus orang-orang yang ngerempongin statusnya. Ya namanya juga anak remaja, apalagi yang dirasa menarik selain up date foto narsisnya lalu dibilang cantik.
Namun kali ini lihatlah perasaan Sekar yang dingin sedingin salju di Eropa. Ia benar-benar tak ingin bicara selain ia ingin meminta perhatian saudara-saudaranya terhadap kondisi batinnya yang telah lelah dan nyaris kalah dalam pertempuran yang melelahkan ini.
Ia ingin katakan “Ras, nanti pulang kerja gak usah jemput gue yah, biar gue pulang sendiri aja.” Dan Sekar sudah dapat menerka apa jawaban Paras atas permintaannya.  Paras akan mengatakan paling tidak “kenapa kak? Sakit? Mau diantar ke rumah sakit? Jangan kak nanti gue jemput aja. Jam berapa?” Atau apa yang akan menimbulkan perasaan ibanya terhadap kondisi batin kakaknya.
Tetapi ia ingat kalau disini ada juga Adis yang agak sadis. Ia pasti akan mengatakan “Udah biarin aja orang mau pulang sendiri, kok jadi elu yang rempong.” Atau dia akan bilang “Tau diri juga lo kalau selama ini selalu ngerepotin kita-kita.” Mendengar suara batinnya yang kira-kira jawaban Adis akan seperti itu, maka dia terdiam dan mengurungkan kata-kata itu terlontar.
Daripada menambah keadaan menjadi semangkin rempong, ia memilih kata-kata itu menguap pada hembusan nafasnya yang dalam. Ia pun lebih memilih menyejukkan hatinya yang mulai gerah dengan kedua saudaranya.
Sampai mereka semua berpisah dan Sekar memutuskan untuk menelpon Paras agar tidak menjemputnya. Ia sengaja pulang kerja lebih awal dengan alasan tidak enak badan.
Namun apa yang ia dapat? Paras malah seolah tidak perduli dengan kondisi ruang batinnya yang semakin menyempit. Paras.. Paras.. benar-benar kamu yah sudah kemakan omongan Adis.
Tidak salah juga dengan Adis, tetapi memang nyatanya Sekar memang berwatak yang merugikan. Bukan hanya Adis yang sering kena damprat, tetapi juga Paras yang sudah mengakui hal-hal yang pernah dialaminya akibat perbuatan Sekar yang dianggap mendzalimi dirinya.
***
Tidak ada salahnya bila hari ini ia mulai melakukan muhasabah terhadap beberapa orang terdekat yang sering ia bikin tidak enak hati. Ia membelikan cake pisang untuk teman satu bagiannya. Mereka Nampak heran bila hari ini Sekar mulai banyak senyum dan tidak pasang muka kusut.
Bahkan hari ini Sekar menelpon Ola dan menanyakan apakah benar-benar ia menginginkan hp Android seperti yang dimiliki Kila? Tidak potong gajih alias gratis.
Ola pun mulai merasakan sesuatu yang aneh melalui getaran suara yang ada pada Sekar. Dari nada dan suaranya rupanya ia terlihat begitu tidak danger seperti biasanya.
100% Ola sangat senang dengan keadaan Sekar seperti ini. Tetapi mungkinkah keadaan ini akan bertahan selama-lamanya? Tentu itu adalah sebuah doa yang dipanjatkan oleh orang selugu Ola.
Sampailah HP itu ditangan Ola. Sekar memberikan petunjuk cara penggunaan serta perawatan. Ia Nampak begitu dewasa dan berubah 90 derajat dari biasanya. Benar-benar Sekar yang baik hati.
Iseng-iseng Ola mengerjainya. Ia katakan kenapa tiba-tiba ia merasakan mual dan pusing dikepalanya. Sekar tiba-tiba begitu tanggap terhadapnya.
“Ingin muntah mbak Sekar.”
“Kamu masuk angin kali La, coba minum yang anget-anget. Nih mbak seduhin ramuan masuk angin abis itu kamu istirahat saja. Gak usah diporsir La, kerjaan rumah memang gak ada habisnya.Ya sudah sana kamu istirahat. Mau saya buatkan apa?”
Kedengarannya memang seperti alunan suara dari surga. Kesempatan yang amat teramat langka. Meskipun Ola adalah orang yang lugu, tetapi dalam kesempatan ini, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pergi begitu saja. Ia lantas meneruskan kepura-puraan sakitnya agar ia bisa dilayani oleh Sekar. Tepatnya ia ingin menjadi majikan dan Sekar menjadi pembantunya meski hanya sehari dan dalam koridor tanpa disadari oleh Sekar.
“Tapi gak papa mbak? Saya jadi gak enak sama mbak. Biar gak papa, saya gak sakit kok mbak.”
“Gak papa La, kamu tuh istirahat. Sudah itu saja. Jangan bandel kamu. Kalau kamu sakit…” belum sempat Sekar lanjutkan pembicaraan, Ola sudah dapat menduga arah pembicaraan selanjutnya.
“Aku juga yang repot. Mbak mau ngomong gitu kan?” Terka Ola sambil tertawa puas bila kali ini ia sudah dapat menebak arah pembicaraan majikannya.
“Iya La, kamu istirahat saja. Kamu mau makan apa? Biar aku yang buat.”
“Biasanya kalo sakit sakit aku inginnya makan sate kambing sama tongseng mbak.” Pinta Ola memanfaatkan keadaan.
Sekar berpikir keras bagaimana mendapatkan tongseng yang diinginkan Ola. Lalu ia bertanya lagi, “La, biasanya kamu beli dimana?”
Ola langsung menjawab “Tongseng Pak Kasir di ujung perempatan mbak. Pesen kalau bisa kubisnya agak banyak sama rawit cacahannya. Saya suka itu mbak. Hihihi.”
Ola kegirangan sekali karena bosnya yang paling rempong di rumah menjadi baik sekali. Sekarang ia sudah tidak bĂȘte lagi. Semoga saja mbak Sekar begini terus yah. Begitu harapannya.
Ola langsung meluncur ke kamar. Ia langsung membuka Androinya. Apalagi yang dicari selain aplikasi mp3 dan juga game Angry Bird yang ia sukai.
Membunuh waktu dengan cara nge game memang terasa ampuh sekali. Sampai ia lupa mengingat kalau hp Android ini harus ia umumkan kepada semua rekan-rekan seluruh pembantu rumah tangga yang ada di sekitar rumah kompleks mereka.
Sedang asyik-asyiknya Ola berbicara di telpon, tibalah Sekar yang mendengar percakapan yang begitu menusuk di telinganya.
“Hay iya bo, gue baru dapet hp baru nih dari juragan gue yang paling jutek sedunia. Siapalagi kalau bukan mbak Sekar. Sekarang gue kerjain. Gue suruh beli tongseng dan sate kambing. Gue sekarang lagi pura-pura sakit, biar dia sekalian ngepel, nyetrika, nyuci mobil. Semoga hari ini gue bisa tidur nyenyak ya bo. Ah rempong loh!” Begitu kata Ola yang gak berasa kalau ada Sekar yang sudah pasang muka serem di belakangnya.
Namun karena niat dan tekad bulatnya ia ingin merubah wataknya, maka ia hanya jutek ketika ia memanggil nama “Olaaaa…..” Untung saja tongseng dan sate kambingnya gak dilempar ke muka Ola. Ia hanya pasang muka serem kalau dia bener-bener tidak suka dengan tindakan Ola.
Ola yang sadar melihat pemandangan ini, langsung buru-buru masuk ke kamar dan mengunci kamar. Sampai di dalam kamar, ia menyesali perbuatannya barusan. “Oh my God, oh my God, ternyata gue salah ngomong. Oh tidak-oh tidak, semoga yang gue omongin gak mencak-mencak. Ola takut ya Tuhan. Ola mo makan apa kalau dipecat sama mbak Sekar. Tetap sih makan nasi, tapi kan harus pake duit.” Hikshikshiks, tragis!  



Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 22.42
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog