Selasa, 18 Desember 2012
In:
Fiksi
4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
Ketika keduanya
sedang berada dalam gencatan senjata, datanglah Paras dengan raut muka
yang cerah ceria penuh cinta. Meski agak kucel sih.
“Hallo Assalamualaykumm..”
Salam Paras.
“Waalaikum salam
kak.”
“Maaf ya kak, tadi
mobilnya gue pake. Tapi dah gue cuci kok. Gue isiin bensin full tank. Pokoknya
seep deh.”
“Thx deh.”
“Sori ya kak kalau
kakak jadi naek angkot.” Adis pura-pura memelas dan berendah hati, campur sedikit heran bertanya dalam hatinya kenapa Paras gak marah? Biasanya kalau pulang kerja kecapean, dia bakal ngomel-ngomel setengah mati?
Tetapi dasar Adis yang agak pura-pura cuek terhadap keadaan, ia tetap memelas dan pasang muka baik karena dia sedang mencari dukungan dari kubu Paras atas perang dingin yang sedang berlangsung. Gimana-gimana juga dukungan dari kubu Paras adalah sumber kekuatannya juga.
Tetapi dasar Adis yang agak pura-pura cuek terhadap keadaan, ia tetap memelas dan pasang muka baik karena dia sedang mencari dukungan dari kubu Paras atas perang dingin yang sedang berlangsung. Gimana-gimana juga dukungan dari kubu Paras adalah sumber kekuatannya juga.
“Gak papa, tadi kakak
dianterin kok sama bos kakak yang baru pulang dari Korea. Trus sampe perempatan
aja. Trus kakak naek angkot deh dari sana.” Kambuh deh penyakit seolah-olah orang paling beruntung mendapat perhatian dari pihak mana pun meskipun semua itu adalah hoax.
“BTW, kak Sekar mana kak Sekar? Kak Sekar, sini! Gue bawa hadiah ni buat kalian semua. Tadi tau gak bos gue yang
baru dateng dari Korea ngasih gue hadiah yang bejibun banyaknya. Apa yang dia bawa?”
Sekar yang tadinya
cemberut langsung menghampiri bungkusan yang ditaruh Paras di atas meja. Adis
pun demikian. Ia mulai mendekati meja.
Dengan bangga
Paras membuka bungkusan kado yang berisi pashmina, shawl dengan beraneka jenis,
warna, dan juga ukuran.
“Haaa… banyak banget Kar? Boslu baik banget.” Sekar terpelongo sambil repot memilih untuknya sendiri.
Adis juga ikut serta memilih. Tentu ia suka sekali dengan pashmina sifon midot yang
bisa dibuat harajuku dan juga turban. Semakin rempong aja keduanya. Sedang
Paras malah duduk nyantai seperti sudah sangat tidak kaget atas peristiwa yang menakjubkan kedua saudaranya itu.
“Kakak, gue mau ya
kak yang pokadot. Unyu banget” Rayu Adis.
“Ya ambil aja. Itu
semua buat kalian semuanya. Gue dah punya.” Kata Paras sambil membuka tas dan
membuka kado yang isinya pashmina dan shawl yang ia bungkus sendiri di toko
kado.
“Gila Ras, bos lu
bener-bener baik. Ya ampunn... ini kan mahal-mahal semua. Gue juga ya Ras.” Kata Sekar sambil
melirik bandrol yang harganya sudah dipotongin hanya tersisa lambang butiknya
saja.
Sekar dan Adis mencoba-coba dengan seksama. Memilih motif dan jenis yang paling mereka suka. Meski kadang-kadang bersentuhan tangan, tetapi mereka tetap tidak hangat.
Sekar dan Adis mencoba-coba dengan seksama. Memilih motif dan jenis yang paling mereka suka. Meski kadang-kadang bersentuhan tangan, tetapi mereka tetap tidak hangat.
“Beruntung banget
sih lu Kar punya bos kaya gitu.” Ucap Sekar berkali-kali memuji bos Paras dengan perasaan kagum sekali.
Dalam keadaan perang dingin kali ini, mungkinkah Sekar pun merapat dan berniat mencari dukungan ke kubu Paras yang saat ini dirasa masih cukup netral? Bisa jadi.
Dalam keadaan perang dingin kali ini, mungkinkah Sekar pun merapat dan berniat mencari dukungan ke kubu Paras yang saat ini dirasa masih cukup netral? Bisa jadi.
“Iya kak ambil
aja sepuasnya.” Paras tersenyum bangga. Ia merasa sangat puas karena telah sukses terlahir menjadi manusia yang memiliki keberuntungan yang berlipat ganda dibanding dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tersenyum melihat Adis dan Sekar saling berebut.
Dalam hatinya ia hanya cekikikan. Bos mana yang mau ngasih beginian. Bos gue meditnya setengah mati. Bonus kerja aja jarang dikasih.
Alamak jang, wajar aja dapat banyak, belinya aja obralan. Tau gak harganya berapa? 10 ribu perlembar. Jadi kalo beli sepuluh cuma seratus ribu alias cepekceng. Gak papa yang penting kedua saudaranya bahagia.
Alamak jang, wajar aja dapat banyak, belinya aja obralan. Tau gak harganya berapa? 10 ribu perlembar. Jadi kalo beli sepuluh cuma seratus ribu alias cepekceng. Gak papa yang penting kedua saudaranya bahagia.
Efek sampingnya,
mereka akan sangat percaya dengan apa yang dikatakan Paras. Apalagi Paras
mengekspresikannya dengan wajah tanpa dosanya. Tentu saja hal ini didukung oleh keilmuan Paras tentang fashion.
Hufft Paras… Paras, ngidap penyakit apa sih lu Ras! Jujur aja siy say? Kan gak bakal jatuhin harga diri sebagai fashionista.
Hufft Paras… Paras, ngidap penyakit apa sih lu Ras! Jujur aja siy say? Kan gak bakal jatuhin harga diri sebagai fashionista.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar