Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Rabu, 19 Desember 2012
In: Fiksi

9. BIKIN KEKI


Menjelang sore, Sekar, Paras, Adis, Kila, dan Ola semakin rusuh beberapa derajat. Ola masih sibuk mengepel lantai dengan teliti sebagaima instruksi Sekar. Sedang Paras, Kila, dan Dimas sedang sibuk-sibuknya memindah-mindahkan barang sejenis sofa, bufet, almari dengan tujuan agar ruang tamu yang akan digunakan sebagai tempat pengajian dapat menampung orang lebih banyak dan terlihat lebih lapang.
Sementara Adis masih berjuang secara jiwa dan raga melawan kemacetan Jakarta dalam misi mengambil catering. Sedang Sekar masih sangat sibuk ngomelin Adis. Berkali-kali telponnya dihubungi, malah gak diangkat Adis. Adispun faham bila telpon diangkat, itu artinya kupingnya harus siap mendengar caci maki Paras.
"Hah panggilan nenek rempong bikin rusuh di jalan. Udah macet bikin stress, panggilan si rempong bikin gak tenang, hadeuh-hadeuh!" Adis mematikan ponselnya. Ia merasa sudah cukup faham dengan apa yang akan terjadi.
Waktu pun berlalu. Hingga maghrib pun datang. Setelah menunaikan sholat maghrib secara berjamaah dan juga tilawah, kondisi rumah sudah nampak begitu rapih bersih. Seolah sudah siap menyambut tamu-tamu pengajian. Meski hanya dengan beberapa piring kue bolu, kue pastel, kue lapis, semangka, melon, jeruk, anggur, apel, dan juga kelengkeng.
Tentu yang menjadi masalah sekarang adalah nasi kotak dan snack kotak yang dibawa Adis yang belum juga terlihat batang hidungnya. Kemana si Adis? Kebayang kan bagaimana paniknya Sekar.
Kalau diantara mereka tanpa Adis, orang yang paling menjadi gombal keganasan Sekar adalah Ola. Ya, Ola yang rada kurang sensi terhadap sebuah situasi kondisi dan juga keadaan. Ia malah duduk mainin game aplikasi angry bird yang ada di hp android milik Kila. Tepat sekali, Sekar malah ngamuk-ngamuk.
"Ola kamu tahu gak aku ini sedang panik, kamu tuh malah asyik-asyik ngegame tanpa perduli orang lain. Kamu tuh gak tahu apa kalau si Adis belum juga nyampe. Bukan masalah Adisnya. Adisnya mau pergi kemana, saya gak perduli. Tapi ini masalah nasi kotak dan snacknya. Bagaimana kalau gak nyampe sini tepat waktu? Bagaimana kalau ibu rempong itu bikin masalah bila dia tahu kelemahan kita? Ini sebuah bencana buat kita.” Cecar Sekar.
Ola hanya terdiam tertunduk lalu mematikan game dan mengembalikan hp itu pada Kila.
"Ya kalau kamu juga udah tau kamu harusnya panik juga dong kaya saya." Lanjut Sekar.
"Baik non saya panik."
Tahu kan sejak tengsin shawl obralan, Paras terkesan menghidari Kila. Sengaja mandinya dilama-lamain. Tadi waktu angkat-angkat barang, ia seolah lebih dekat pada Dimas dibanding dengan Kila. Padahal Dimas itu kan abangnya Kila. (Hihihi kalau pedekate harusnya deketin adiknya dulu dong, baru abangnya).
Bila memotong dan menata kue, ia sengaja mencari tempat yang berjauhan. Paling tidak ada jaraknya sehingga Kila sulit membuka komunikasi padanya. Bahkan saat ini, Kila sedang membuka-buka majalah, Paras malah asyik menyiram tanaman. Ups penting gak sih!
"Tapi non paniknya bagaimana?" Tanya Ola.
" Emang panik kamu biasanya gimana si Ol?"
"Guling-guling!" Dengan seketika Ola berguling di atas karpet sambil nangis.
"Udah Ola, kamu tuh onse banget sih jadi orang. Panik tuh panik aja gak usah pake guling-guling apalagi pake modus nangis segala. Bikin bĂȘte aja nih orang." Bentak Sekar.
"Kar, lagipula lo tuh yang rempong, masa lu yang panik kita semua harus ikut panik." Selang Kila sambil membuka-buka majalah mode milik Paras.
"Gimana gue gak panik coba Kila??? Adik gue yang rada keras kepala itu gak bisa denger perintah gue. Ini akibatnya. Kita semua jadi rempong dibuatnya. Maksud gue Kila, dia itu ngambil makanan dari siang-siang biar gak macet. Nah ini buktinya sekarang kejadian kaya gini. Makanan gak stand by. Dia juga gak ada. Gue harus bilang apa coba?"
"Yaampun Sekar udah kejadian kaya gini mau gimana lagi? Percuma lu teriak-teriak gak akan ngebalikin keadaan menjadi baik. Yang ada juga lu tuh malah jadi sinting."
"Tau deh stress tingkat menara nih gue ngadepin kaya ginian.” 
Ola masih memojok sesenggukan, menangis ketakutan.
"Itu juga pembelajaran buat Adis biar gak nyepelehin waktu dan juga orang lain. Meskipun gue itu memang cerewet dan rada bawel tetap memiliki nilai positif. Ingin semua keadaan teratur, terencana. Gak grabak-grubuk kaya gini. Tuh anak emang perlu dihajar." Sekar belum puas mengocehnya.
Paras yang sudah bosan mendengar omelan kakaknya, malah memasang headset mendengarkan musik sambil menyiram tanaman. Sungguh ia tidak mau dengar apa yang terjadi dan tidak ingin dilibatkan apapun lagi yang berbau rempong. 
 "Ola udah dong jangan nangis, gue kan gak sengaja ngebentak lo. Abis lu gak peka banget jadi manusia. Harusnya lo gak ngegame. Tapi lo beresin apa kek gitu."
"Kan-udah-beres-semua non. Lagipula hp yang ada Angry Birdnya dan yang bisa dipinjemin kan cuma punya non Kila. Jadinya ini kesempatan baik buat Ola."
"Iya, maafin gue ya. Nanti gue beliin deh hp yang kaya gitu. Tapi asal lo jangan nelantarin pekerjaan rumah demi ngegame yah. Kalo gak gue masukin kulkas lo."
"Makasih non. Ola emang pengen banget hp kaya gitu."
Din.. Din.. Si Jazzy yang dikendarai Adis minta dibukain pintu. Adis terlihat pasrah dan sudah pasang dinding yang paling tebal untuk menghadapi serangan cacian dan makian dari kakak-kakaknya. Ia tampak begitu kucal dan tidak bergairah untuk mengadakan perlawanan. 
Paras menyambut Adis dengan tidak mau membahas hal-hal yang tidak penting. Yang terpenting adalah membawa nasi kotak ke dalam rumah.
Melihat Sekar yang sebentar lagi akan mendamprat Adis, Paraspun berusaha meredam peperangan.
"Udah kak waktunya juga dah mepet. Kalau mau marah, tunggu 3 hari lagi. Kita semua capek. Dan gak ada gunanya kamu marah kaya apa. Toh udah dateng semuanya." Cegah Paras.
Sekar hanya terdiam. Adis masuk kamar mandi, sholat, dan menyiapkan diri karena sebentar lagi pengajian akan dilaksanakan.
Satu persatu tamu pengajian sudah datang. Tetapi sampai pukul 8 malam, yang datang hanya 7 orang. Mereka adalah Pak Ustadz, Pak RT, 2 ibu-ibu, 2 anak muda, dan 1 anak kecil. 3 dara plus Kila dan Ola pun sedikit kecewa. Seolah perjuangan mereka untuk menyiapkan segalanya menjadi sia-sia. Termasuk juga pupusnya harapan bertemu dengan Ibu Suk yang selama ini berada diantara penasaran dan rasa takut yang berlebihan.
Pak RT membuka acara pengajian.
"Jamaah yang telah datang, terima kasih kehadiran jamah pada kediaman adik-adik kita yang cute-cute ini pada pengajian bulanan RT. Mungkin kita semua telah mengenal mereka secara kasat mata, tetapi belum secara dekat. Tetapi Alhamdulillah kita sudah sampai di sini untuk berkenalan dan mencicipi hidangan yang nampaknya lezat... bla-bla-bla."
"Gila ya RT lo ngadain pengajian cuma buat nyari gegaresan." Bisik Kila pada Sekar sambil menutup mulut mereka pakai kipas Jepang.
“Gue dah laper nih, dari tadi sore belum makan.” Lanjut Kila.
"Sama, gue juga laper. Gak tau gue mesti ngomong apa? Kalo ini yang terjadi, gak bakal gue siapin semuanya seheboh dan serempong ini."
"Baiklah adik-adik perkenalkan diri kalian masing-masing!" Pinta Pak RT secara mengejutkan.  
"Maaf Pak RT kapan ya pengajian dimulai? Masalahnya waktu sudah hampir malam dan besok kami semua kerja dan sekolah. Bila hanya ingin berkenalan, bisa dilakukan dalam forum lain." Pinta Sekar sambil membayangkan nasi kotak dan kue yang besok pagi akan menjadi basi, terbuang sia-sia padahal perutnya saat ini sedang meronta-ronta minta diisi.
"Iya, tetapi alangkah lebih baiknya kita berkenalan sebelumnya sebelum acara pengajian dimulai." Jawab Pak RT.
3 Dara plus Kila dan Ola hanya menyeritkan alis dan menelan kecewa serta lapar yang berkepanjangan. 
"Pak RT dan Jamaah sekalian, apa jumlah anggota pengajian hanya segini?" Paras tiba-tiba bersuara.
"Oh banyak. Nanti juga akan dateng dengan sendirinya. Mungkin mereka ada kesibukan lain juga. Jadinya sesempatnya mereka datang." Jawab Pak RT.
Pak Ustadz yang sejak tadi mupeng pengin diajak ngomong pun angkat bicara.
"Begini, sepertinya saya tidak asing dengan wajah-wajah kalian ini dimana ya? Apa kita sering ketemu?"
Mereka semua menggelengkan kepala.
"Ohya di televisi. Itu yang setiap acara setiap imsak itu. Saya baru ingat." Pak Ustadz dengan modus.
Mereka semua menggelengkan kepala. Mereka semakin sebal, kesal dan geram.
"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak RT, Pak Ustadz dan jamaah, kami ingin pengajian segera dimulai. Sebab kami sebagai tuan rumah memiliki agenda lain selain pengajian ini. Apabila pengajian tidak segera dimulai, dengan berat hati kami persilahkan jamaah untuk meninggalkan rumah ini. Terima kasih." Kata Paras sambil hati yang remuk redam dan perut keroncongan.
Rupanya hal itu begitu membangunkan pengertian Pak Ustadz yang segera memulai acara dan membacakan ayat suci Al Quran lalu menutup pengajian. Ketika hendak membagikan hidangan, apa yang terjadi saudara? Satu persatu jamaah pengajian yang belum hadir tiba-tiba hadir. 
Setiap jamaah yang datang dan mendapat nasi kotak dan snack kotak selalu mengatakan, maaf tadi ketiduran. Hingga datang seorang anak perempuan yang dikenal sebagai anak gadis ibu Suk, juga mengatakan, maaf tadi ketiduran.
Sampai semua hidangan habis dan tersisa hanya tinggal kelengkeng sepiring tanpa teman. Tenaga mereka telah terkuras habis. Sementara Ola yang tadinya begitu lesu, kini berinisiatif untuk memesan makanan dengan pesan antar. Acara pengajian begitu sukses digelar. Akankah mereka akan trauma mengenali warga yang banyak maunya?


Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 01.26
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog