Rabu, 19 Desember 2012
In:
Fiksi
9. BIKIN KEKI
Menjelang sore, Sekar, Paras, Adis,
Kila, dan Ola semakin rusuh beberapa derajat. Ola masih sibuk mengepel lantai
dengan teliti sebagaima instruksi Sekar. Sedang Paras, Kila, dan Dimas sedang sibuk-sibuknya
memindah-mindahkan barang sejenis sofa, bufet, almari dengan tujuan agar ruang
tamu yang akan digunakan sebagai tempat pengajian dapat menampung orang lebih
banyak dan terlihat lebih lapang.
Sementara Adis masih berjuang secara
jiwa dan raga melawan kemacetan Jakarta dalam misi mengambil catering. Sedang
Sekar masih sangat sibuk ngomelin Adis. Berkali-kali telponnya dihubungi, malah
gak diangkat Adis. Adispun faham bila telpon diangkat, itu artinya kupingnya
harus siap mendengar caci maki Paras.
"Hah panggilan nenek rempong bikin
rusuh di jalan. Udah macet bikin stress, panggilan si rempong bikin gak tenang,
hadeuh-hadeuh!" Adis mematikan ponselnya. Ia merasa sudah cukup faham
dengan apa yang akan terjadi.
Waktu pun
berlalu. Hingga maghrib pun datang. Setelah menunaikan sholat maghrib secara berjamaah
dan juga tilawah, kondisi rumah sudah nampak begitu rapih bersih. Seolah sudah
siap menyambut tamu-tamu pengajian. Meski hanya dengan beberapa piring kue
bolu, kue pastel, kue lapis, semangka, melon, jeruk, anggur, apel, dan juga
kelengkeng.
Tentu yang menjadi masalah sekarang
adalah nasi kotak dan snack kotak yang dibawa Adis yang belum juga terlihat
batang hidungnya. Kemana si Adis? Kebayang kan bagaimana paniknya Sekar.
Kalau diantara mereka tanpa Adis,
orang yang paling menjadi gombal keganasan Sekar adalah Ola. Ya, Ola yang rada
kurang sensi terhadap sebuah situasi kondisi dan juga keadaan. Ia malah duduk
mainin game aplikasi angry bird yang ada di hp android milik Kila. Tepat
sekali, Sekar malah ngamuk-ngamuk.
"Ola kamu tahu gak aku ini sedang
panik, kamu tuh malah asyik-asyik ngegame tanpa perduli orang lain. Kamu tuh gak
tahu apa kalau si Adis belum juga nyampe. Bukan masalah Adisnya. Adisnya mau
pergi kemana, saya gak perduli. Tapi ini masalah nasi kotak dan snacknya.
Bagaimana kalau gak nyampe sini tepat waktu? Bagaimana kalau ibu rempong itu
bikin masalah bila dia tahu kelemahan kita? Ini sebuah bencana buat kita.”
Cecar Sekar.
Ola hanya terdiam tertunduk lalu mematikan
game dan mengembalikan hp itu pada Kila.
"Ya
kalau kamu juga udah tau kamu harusnya panik juga dong kaya saya." Lanjut
Sekar.
"Baik
non saya panik."
Tahu kan
sejak tengsin shawl obralan, Paras terkesan menghidari Kila. Sengaja mandinya
dilama-lamain. Tadi waktu angkat-angkat barang, ia seolah lebih dekat pada
Dimas dibanding dengan Kila. Padahal Dimas itu kan abangnya Kila. (Hihihi kalau
pedekate harusnya deketin adiknya dulu dong, baru abangnya).
Bila memotong dan menata kue, ia
sengaja mencari tempat yang berjauhan. Paling tidak ada jaraknya sehingga Kila
sulit membuka komunikasi padanya. Bahkan saat ini, Kila sedang membuka-buka
majalah, Paras malah asyik menyiram tanaman. Ups penting gak sih!
"Tapi
non paniknya bagaimana?" Tanya Ola.
"
Emang panik kamu biasanya gimana si Ol?"
"Guling-guling!"
Dengan seketika Ola berguling di atas karpet sambil nangis.
"Udah
Ola, kamu tuh onse banget sih jadi orang. Panik tuh panik aja gak usah pake
guling-guling apalagi pake modus nangis segala. Bikin bĂȘte aja nih orang."
Bentak Sekar.
"Kar,
lagipula lo tuh yang rempong, masa lu yang panik kita semua harus ikut
panik." Selang Kila sambil membuka-buka majalah mode milik Paras.
"Gimana
gue gak panik coba Kila??? Adik gue yang rada keras kepala itu gak bisa denger
perintah gue. Ini akibatnya. Kita semua jadi rempong dibuatnya. Maksud gue Kila,
dia itu ngambil makanan dari siang-siang biar gak macet. Nah ini buktinya
sekarang kejadian kaya gini. Makanan gak stand by. Dia juga gak ada. Gue harus
bilang apa coba?"
"Yaampun
Sekar udah kejadian kaya gini mau gimana lagi? Percuma lu teriak-teriak gak
akan ngebalikin keadaan menjadi baik. Yang ada juga lu tuh malah jadi
sinting."
"Tau
deh stress tingkat menara nih gue ngadepin kaya ginian.”
Ola masih
memojok sesenggukan, menangis ketakutan.
"Itu
juga pembelajaran buat Adis biar gak nyepelehin waktu dan juga orang lain. Meskipun
gue itu memang cerewet dan rada bawel tetap memiliki nilai positif. Ingin semua
keadaan teratur, terencana. Gak grabak-grubuk kaya gini. Tuh anak emang perlu
dihajar." Sekar belum puas mengocehnya.
Paras yang
sudah bosan mendengar omelan kakaknya, malah memasang headset mendengarkan
musik sambil menyiram tanaman. Sungguh ia tidak mau dengar apa yang terjadi dan
tidak ingin dilibatkan apapun lagi yang berbau rempong.
"Ola
udah dong jangan nangis, gue kan gak sengaja ngebentak lo. Abis lu gak peka banget
jadi manusia. Harusnya lo gak ngegame.
Tapi lo beresin apa kek gitu."
"Kan-udah-beres-semua
non. Lagipula hp yang ada Angry Birdnya dan yang bisa dipinjemin kan cuma punya
non Kila. Jadinya ini kesempatan baik buat Ola."
"Iya,
maafin gue ya. Nanti gue beliin deh hp yang kaya gitu. Tapi asal lo jangan
nelantarin pekerjaan rumah demi ngegame
yah. Kalo gak gue masukin kulkas lo."
"Makasih
non. Ola emang pengen banget hp kaya gitu."
Din.. Din..
Si Jazzy yang dikendarai Adis minta dibukain pintu. Adis terlihat pasrah dan
sudah pasang dinding yang paling tebal untuk menghadapi serangan cacian dan
makian dari kakak-kakaknya. Ia tampak begitu kucal dan tidak bergairah untuk
mengadakan perlawanan.
Paras
menyambut Adis dengan tidak mau membahas hal-hal yang tidak penting. Yang
terpenting adalah membawa nasi kotak ke dalam rumah.
Melihat
Sekar yang sebentar lagi akan mendamprat Adis, Paraspun berusaha meredam
peperangan.
"Udah
kak waktunya juga dah mepet. Kalau mau marah, tunggu 3 hari lagi. Kita semua
capek. Dan gak ada gunanya kamu marah kaya apa. Toh udah dateng semuanya."
Cegah Paras.
Sekar
hanya terdiam. Adis masuk kamar mandi, sholat, dan menyiapkan diri karena
sebentar lagi pengajian akan dilaksanakan.
Satu
persatu tamu pengajian sudah datang. Tetapi sampai pukul 8 malam, yang datang
hanya 7 orang. Mereka adalah Pak Ustadz, Pak RT, 2 ibu-ibu, 2 anak muda, dan 1
anak kecil. 3 dara plus Kila dan Ola pun sedikit kecewa. Seolah perjuangan
mereka untuk menyiapkan segalanya menjadi sia-sia. Termasuk juga pupusnya
harapan bertemu dengan Ibu Suk yang selama ini berada diantara penasaran dan
rasa takut yang berlebihan.
Pak RT membuka
acara pengajian.
"Jamaah
yang telah datang, terima kasih kehadiran jamah pada kediaman adik-adik kita
yang cute-cute ini pada pengajian bulanan RT. Mungkin kita semua telah mengenal
mereka secara kasat mata, tetapi belum secara dekat. Tetapi Alhamdulillah kita
sudah sampai di sini untuk berkenalan dan mencicipi hidangan yang nampaknya
lezat... bla-bla-bla."
"Gila
ya RT lo ngadain pengajian cuma buat nyari gegaresan." Bisik Kila pada
Sekar sambil menutup mulut mereka pakai kipas Jepang.
“Gue dah laper nih, dari tadi sore
belum makan.” Lanjut Kila.
"Sama,
gue juga laper. Gak tau gue mesti ngomong apa? Kalo ini yang terjadi, gak bakal
gue siapin semuanya seheboh dan serempong ini."
"Baiklah
adik-adik perkenalkan diri kalian masing-masing!" Pinta Pak RT secara
mengejutkan.
"Maaf
Pak RT kapan ya pengajian dimulai? Masalahnya waktu sudah hampir malam dan
besok kami semua kerja dan sekolah. Bila hanya ingin berkenalan, bisa dilakukan
dalam forum lain." Pinta Sekar sambil membayangkan nasi kotak dan kue yang
besok pagi akan menjadi basi, terbuang sia-sia padahal perutnya saat ini sedang
meronta-ronta minta diisi.
"Iya,
tetapi alangkah lebih baiknya kita berkenalan sebelumnya sebelum acara
pengajian dimulai." Jawab Pak RT.
3 Dara
plus Kila dan Ola hanya menyeritkan alis dan menelan kecewa serta lapar yang
berkepanjangan.
"Pak
RT dan Jamaah sekalian, apa jumlah anggota pengajian hanya segini?" Paras
tiba-tiba bersuara.
"Oh
banyak. Nanti juga akan dateng dengan sendirinya. Mungkin mereka ada kesibukan
lain juga. Jadinya sesempatnya mereka datang." Jawab Pak RT.
Pak
Ustadz yang sejak tadi mupeng pengin diajak ngomong pun angkat bicara.
"Begini,
sepertinya saya tidak asing dengan wajah-wajah kalian ini dimana ya? Apa kita
sering ketemu?"
Mereka
semua menggelengkan kepala.
"Ohya
di televisi. Itu yang setiap acara setiap imsak itu. Saya baru ingat." Pak
Ustadz dengan modus.
Mereka
semua menggelengkan kepala. Mereka semakin sebal, kesal dan geram.
"Tanpa
mengurangi rasa hormat kepada Pak RT, Pak Ustadz dan jamaah, kami ingin
pengajian segera dimulai. Sebab kami sebagai tuan rumah memiliki agenda lain
selain pengajian ini. Apabila pengajian tidak segera dimulai, dengan berat hati
kami persilahkan jamaah untuk meninggalkan rumah ini. Terima kasih." Kata
Paras sambil hati yang remuk redam dan perut keroncongan.
Rupanya
hal itu begitu membangunkan pengertian Pak Ustadz yang segera memulai acara dan
membacakan ayat suci Al Quran lalu menutup pengajian. Ketika hendak membagikan
hidangan, apa yang terjadi saudara? Satu persatu jamaah pengajian yang belum
hadir tiba-tiba hadir.
Setiap
jamaah yang datang dan mendapat nasi kotak dan snack kotak selalu mengatakan,
maaf tadi ketiduran. Hingga datang seorang anak perempuan yang dikenal sebagai
anak gadis ibu Suk, juga mengatakan, maaf tadi ketiduran.
Sampai
semua hidangan habis dan tersisa hanya tinggal kelengkeng sepiring tanpa teman.
Tenaga mereka telah terkuras habis. Sementara Ola yang tadinya begitu lesu,
kini berinisiatif untuk memesan makanan dengan pesan antar. Acara pengajian
begitu sukses digelar. Akankah mereka akan trauma mengenali warga yang banyak
maunya?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar