Bukan Hijab Rempong

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (12)
    • ▼  Desember (12)
      • 12. KENA BATUNYA
      • 11. SEKAR YANG GALAU
      • 10. JEBAKAN BETMEN
      • 9. BIKIN KEKI
      • 8. PERUSUH KECIL
      • 7. BIKIN CLOUDY
      • 6. KERIBUTAN DI TOKO KUE
      • 5. MODEL-MODEL SARAPAN
      • 4. MENEBAR KEBAHAGIAAN
      • 3. PERANG STATUS
      • 2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
      • 1. NONA-NONA REMPONG

Labels

  • Fiksi (12)
  • Hukum (1)

About Me

Foto Saya
Rumah Baru Badriyah
Emak-emak doyan nulis
Lihat profil lengkapku

Tentang Hijab

Hijab
Badriyah Harun. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Senin, 17 Desember 2012
In: Fiksi

2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL


Berikut ini cerita bagaimana Paras yang sering gondok dengan keduanya. Demi Adis yang mau jemput temannya dari bandara, ia rela ke kantor naik angkot yang nyaris reot karena kepenuhan penumpang. Tentu bukan hanya Adis saja yang sering membuatnya jengkel. Tapi juga Sekar yang kadang bikin kepalanya mekar.
Tau sendiri kan macetnya Jakarta kaya apa? Meski Gubernurnya sudah ganti berkali-kali, bahkan Gubernur yang baru kepilih malah sudah angkat tangan dan berkata kalau dewa sekalipun tidak akan sanggup mengatasi kemacetan Jakarta.
But tetap saja yang namanya orang Jakarta tidak akan bisa lepas dari transportasi pribadi demi dan atas nama kenyamanan. Itulah yang menyebabkan macet. Semua pengin nyaman tanpa melihat jumlah warga Jakarta yang udah segambreng banyaknya.
Siapa sih yang bakal nyaman kalo naik angkot atau naik bus yang nyempil kaya up*l? Udah bau, pengap, hampa udara. Gak mati mendadak di bus kota sudah  Alhamdulillah ya gak cetar membahana ketimpuk jambul katulistiwa.
Memang sih sampai sejauh ini belum ada berita warga Jakarta yang mati di dalam bus kota. Meskipun macetnya bikin gila. Gila…a gila aku sungguh gila. Apalagi Paras yang selalu dituntut cantik dan wangi di kantornya.
Sebagai seorang public relation alias humas disamping harus cerdas, penampilan juga harus menjadi nomor wahid. Sebab ia adalah jargon dari perusahaannya. Apabila ia cantik dan bersih, maka demikian menjadi cermin kondisi perusahaan tempat ia bekerja.
Hijaber kita yang satu ini selalu menomor satukan fashion. Bisa dibilang fashionista yang nista senista-nistanya. Oh ternyata bukan hanya urusan pekerjaan saja ia rela dandan mati-matian dan ngumpulin fashion merek-merek terkenal demi penampilannya yang selalu dituntut fresh dan segar. Tetapi juga, dimanapun ia berada, ia harus tampil sempurna. Termasuk juga di kamar mandi dan juga tempat tidur. Entah mengapa sebabnya.
Kalau ditempat-tempat itu saja ia wajib fashion, tentu dalam perjalanan pulang kerja ia masih harus tetap mempertahankan gayanya yang serba fashion itu. (Meski jalan kaki lo ya).
Di jalan ia melihat sebuah mobil box yang sedang mengobral aneka pashmina, shawl dan hijab-hijab yang unyu. Seorang laki-laki itu berteriak-teriak “diobral-diobral, took mau tutup, ayo-ayo Cuma untuk hari ini, besok enggak ada lagi. Dibanting harga-dibanting murah meriah barang langka.” kemudian ia melempar-lempar pashmina tersebut ke angkasa.
Dari jauh terlihat beberapa pashmina shifon. Sebagai pecinta fashion, Paras tahu mana tempat yang baik dijadikan rujukan fashion, mana yang mesti dihindarkan. Yang baik dijadikan rujukan tentu saja butik-butik terkenal, desainer ternama, departemen store, juga mall-mall yang sering mengadakan diskonan tengah malam. Sedangkan tempat yang mesti dihindarkan yaitu pedagang kaki lima. Sebab apa?
Dalam kamus modeling buatan Paras dibahas “… tentang barang obralan meskipun barang telah diobral, tetapi kualitas bahan dan juga jahitan yang tidak terlalu bagus. Harga yang murah cepat rapuh dan tidak terlihat cerah. Untuk apa dibeli. Bukan itu malah jatuhnya pemborosan? Lebih baik beli yang bagus, cocok, nyaman, ready to wear dan juga santun. Namanya mahal itu sangat relatif. (Mahal itu relative. Mahal terjadi bila dalam hal kondisi tidak ada duit).”
Jangan sekali-kali beli fashion karena lapar mata! Sebab dalam dunia fashion, yang namanya model fashion, cepat sekali berlalunya. Kalo beli cuma buat ngenyangin mata dan nguras dompet, buat apa?
Misalnya beli baju model A dengan harga murah. Beli deh 2, 3, atau bahkan selusin. Tapi yang terjadi 6 bulan kemudian, baju tersebut sudah tidak up to date lagi. Datang lagi model baru. Model lama sudah tersingkir. Kalau masih dipakai model yang lama, tentu sudah tidak keren lagi. Hal itu sangat mempengaruhi penampilan Anda sebagai wanita.
Saran Paras, beli saja 1 atau 2 pasang. Itu pun harus dengan pertimbangan nyaman, fungsi dan kegunaan, serta yang paling penting menutup aurat sesuai dengan syariatnya.
Sedang sibuk-sibuknya mata Paras memandang yang cuma sekadar ingin tahu dan kepengin ngeliat jenis pashmina apa yang dijual, eh ternyata apa yang terjadi saudara? Pashmina yang dilempar-lempar itu adalah pashmina cuci gudang sebuah butik di mall yang konon katanya bangkrut akibat pemiliknya terbelit hutang.
Masih ada bandrol plus tanda tokonya. Harganya pun jatuh ke tanah yang paling bawah.
Oh tidakkkkk!!! Paras langsung heboh sendirian. Untuk kali ini kamus modelingnya menjadi tidak berlaku. Ada pengecualian dalam keadaan ini. Oh Ini tidak mungkin terjadi. Tanpa ba-bi-bu, Paras langsung memilih dengan gaya manusia goanya yang menemukan buruannya. Brutal kombinasi liar.
“Huwaaa… bagus-bagus semua. Sungguh ini adalah anuegrah. Gak sia-sia gue jalan kaki sampe pegel sekali. Akhirnya gue dapet rejeki yang gak disangka-sangka.” Kata Paras sambil meraup pashmina yang sudah segunung di depannya.

Tips Fashion Muslimah dari Om Itang Yunasz
Tips dari saya mengenai berpakaian yang baik adalah harus mencerminkan kita sendiri ini prioritas pertama. Setelah itu kita berada di ekonomi yang mana, membeli busana harus tahu persis digunakan untuk bisa dimixmatch, bahan juga cari yang nyaman serta warna yang bisa dipakai sepanjang tahun, warna-Warna aman seperti hitam, biru tua, coklat abu, dengan campuran warna-warna seperti warna pastel untuk yang muda, warna lebih tua untuk yang lebih berumur. Harus dibedakan dalam sehari hari dengan malam hari, hindari pemakaian payet di siang hari, hindari bahan brokat yang jarang bunganya untuk dipakai sebagai busana malam. Bahkan hindari kebaya yang terlalu membentuk badan untuk muslimah. Hindari pemakaian warna yang banyak dalam satu baju, agar badan tidak terlihat terpotong-potong. http://www.vemale.com/fashion/tips-and-t…)

Setelah mendapat semua itu, senyum Paras semakin melebar. Apakah ia langsung pulang ke rumah dan memberitahukan tentang kejadian yang menghebohkan ini?
Tentu tidak! Belum rempong namanya. Apa yang terjadi? Ia langsung ke toko kado. Ngapain? Apalagi kalau bukan untuk dipacking supaya rapih bergaya hadiah dari luar negeri. Ya itu namanya rempong bo!

Diposting oleh Rumah Baru Badriyah di 21.11
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 Bukan Hijab Rempong; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog