Senin, 17 Desember 2012
In:
Fiksi
2. SHAWL DAN PASMINA OBRAL
Berikut ini cerita
bagaimana Paras yang sering gondok dengan keduanya. Demi Adis yang mau jemput
temannya dari bandara, ia rela ke kantor naik angkot yang nyaris reot karena kepenuhan penumpang. Tentu
bukan hanya Adis saja yang sering membuatnya jengkel. Tapi juga Sekar yang kadang
bikin kepalanya mekar.
Tau sendiri kan
macetnya Jakarta kaya apa? Meski Gubernurnya sudah ganti berkali-kali, bahkan Gubernur
yang baru kepilih malah sudah angkat tangan dan berkata kalau dewa sekalipun
tidak akan sanggup mengatasi kemacetan Jakarta.
But tetap saja yang namanya orang Jakarta tidak
akan bisa lepas dari transportasi pribadi demi dan atas nama kenyamanan. Itulah
yang menyebabkan macet. Semua pengin nyaman tanpa melihat jumlah warga Jakarta
yang udah segambreng banyaknya.
Siapa sih yang
bakal nyaman kalo naik angkot atau naik bus yang nyempil kaya up*l? Udah bau,
pengap, hampa udara. Gak mati mendadak di bus kota sudah Alhamdulillah ya gak cetar membahana ketimpuk
jambul katulistiwa.
Memang sih sampai
sejauh ini belum ada berita warga Jakarta yang mati di dalam bus kota. Meskipun
macetnya bikin gila. Gila…a gila aku sungguh gila. Apalagi Paras yang selalu
dituntut cantik dan wangi di kantornya.
Sebagai
seorang public relation alias humas disamping harus cerdas,
penampilan juga harus menjadi nomor wahid. Sebab ia adalah jargon dari
perusahaannya. Apabila ia cantik dan bersih, maka demikian menjadi cermin
kondisi perusahaan tempat ia bekerja.
Hijaber kita yang
satu ini selalu menomor satukan fashion. Bisa dibilang fashionista yang nista
senista-nistanya. Oh ternyata bukan hanya urusan pekerjaan saja ia
rela dandan mati-matian dan ngumpulin fashion merek-merek terkenal demi
penampilannya yang selalu dituntut fresh
dan segar. Tetapi juga, dimanapun ia berada, ia harus tampil sempurna. Termasuk
juga di kamar mandi dan juga tempat tidur. Entah mengapa sebabnya.
Kalau
ditempat-tempat itu saja ia wajib fashion, tentu dalam perjalanan pulang kerja
ia masih harus tetap mempertahankan gayanya yang serba fashion itu. (Meski
jalan kaki lo ya).
Di jalan ia
melihat sebuah mobil box yang sedang mengobral aneka pashmina, shawl dan
hijab-hijab yang unyu. Seorang laki-laki itu berteriak-teriak “diobral-diobral, took mau tutup, ayo-ayo
Cuma untuk hari ini, besok enggak ada lagi. Dibanting harga-dibanting murah
meriah barang langka.” kemudian ia melempar-lempar pashmina tersebut ke
angkasa.
Dari jauh terlihat
beberapa pashmina shifon. Sebagai pecinta fashion, Paras tahu mana tempat yang
baik dijadikan rujukan fashion, mana yang mesti dihindarkan. Yang baik
dijadikan rujukan tentu saja butik-butik terkenal, desainer ternama, departemen
store, juga mall-mall yang sering mengadakan diskonan tengah malam. Sedangkan
tempat yang mesti dihindarkan yaitu pedagang kaki lima. Sebab apa?
Dalam kamus
modeling buatan Paras dibahas “… tentang
barang obralan meskipun barang telah diobral, tetapi kualitas bahan dan juga
jahitan yang tidak terlalu bagus. Harga yang murah cepat rapuh dan tidak
terlihat cerah. Untuk apa dibeli. Bukan itu malah jatuhnya pemborosan? Lebih
baik beli yang bagus, cocok, nyaman, ready to wear dan juga santun. Namanya mahal itu sangat
relatif. (Mahal itu relative. Mahal terjadi bila dalam hal kondisi tidak ada
duit).”
Jangan sekali-kali
beli fashion karena lapar mata! Sebab dalam dunia fashion, yang namanya model
fashion, cepat sekali berlalunya. Kalo beli cuma buat ngenyangin mata dan
nguras dompet, buat apa?
Misalnya beli baju
model A dengan harga murah. Beli deh 2, 3, atau bahkan selusin. Tapi yang
terjadi 6 bulan kemudian, baju tersebut sudah tidak up to date lagi. Datang lagi model baru. Model lama sudah
tersingkir. Kalau masih dipakai model yang lama, tentu sudah tidak keren lagi.
Hal itu sangat mempengaruhi penampilan Anda sebagai wanita.
Saran Paras, beli saja
1 atau 2 pasang. Itu pun harus dengan pertimbangan nyaman, fungsi dan kegunaan,
serta yang paling penting menutup aurat sesuai dengan syariatnya.
Sedang
sibuk-sibuknya mata Paras memandang yang cuma sekadar ingin tahu dan kepengin
ngeliat jenis pashmina apa yang dijual, eh ternyata apa yang terjadi saudara?
Pashmina yang dilempar-lempar itu adalah pashmina cuci gudang sebuah butik di
mall yang konon katanya bangkrut akibat pemiliknya terbelit hutang.
Masih ada bandrol
plus tanda tokonya. Harganya pun jatuh ke tanah yang paling bawah.
Oh tidakkkkk!!!
Paras langsung heboh sendirian. Untuk kali ini kamus modelingnya menjadi tidak berlaku. Ada pengecualian dalam keadaan ini. Oh Ini tidak mungkin terjadi. Tanpa ba-bi-bu, Paras langsung memilih dengan
gaya manusia goanya yang menemukan buruannya. Brutal kombinasi liar.
“Huwaaa…
bagus-bagus semua. Sungguh ini adalah anuegrah. Gak sia-sia gue jalan kaki
sampe pegel sekali. Akhirnya gue dapet rejeki yang gak disangka-sangka.” Kata
Paras sambil meraup pashmina yang sudah segunung di depannya.
Tips Fashion Muslimah dari Om Itang Yunasz
Tips dari saya
mengenai berpakaian yang baik adalah harus mencerminkan kita sendiri ini
prioritas pertama. Setelah itu kita berada di ekonomi yang mana, membeli
busana harus tahu persis digunakan untuk bisa dimixmatch, bahan juga cari
yang nyaman serta warna yang bisa dipakai sepanjang tahun, warna-Warna aman
seperti hitam, biru tua, coklat abu, dengan campuran warna-warna seperti
warna pastel untuk yang muda, warna lebih tua untuk yang lebih berumur. Harus
dibedakan dalam sehari hari dengan malam hari, hindari pemakaian payet di
siang hari, hindari bahan brokat yang jarang bunganya untuk dipakai sebagai
busana malam. Bahkan hindari kebaya yang terlalu membentuk badan untuk
muslimah. Hindari pemakaian warna yang banyak dalam satu baju, agar badan
tidak terlihat terpotong-potong. http://www.vemale.com/fashion/tips-and-t…)
|
Setelah mendapat
semua itu, senyum Paras semakin melebar. Apakah ia langsung pulang ke rumah dan
memberitahukan tentang kejadian yang menghebohkan ini?
Tentu tidak! Belum
rempong namanya. Apa yang terjadi? Ia langsung ke toko kado. Ngapain? Apalagi
kalau bukan untuk dipacking supaya
rapih bergaya hadiah dari luar negeri. Ya itu namanya rempong bo!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar